Cerita Darmawan Dennasa sang Pelestari Tanaman dari Gowa

Makassar - TemanBaik, ada banyak pahlawan lingkungan di sekitar kita. Salah seorang yang patut diulas adalah Darmawan Dennasa. Langkah besarnya bahkan berbuah Anugerah Kalpataru 2021 pada kategori Perintis Lingkungan Hidup.

Salah satu keunikan pria yang akrab disapa Dennasa itu, ia merupakan alumni Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin (Unhas) pada 1996. Akan tetapi, ia punya kecintaan besar pada lingkungan dan tanaman.

Denassa sempat mengabdikan diri menjadi dosen Fakultas Ilmu Budaya di Unhas dalam kurun 2002-2007. Setelah itu, ia mengambil langkah besar. Pada 2007, ia mendirikan Rumah Hijau Denassa atau disingkat RHD. RHD ini jadi jalan baginya menyelamatkan keanekaragaman hayati, khususnya tumbuhan lokal, endemik dan langka.

RHD merupakan kampung literasi berkonsep keindahan alam. Di sini, banyak tanaman yang berusaha dilestarikan Denassa di area konservasi dan edukasi seluas 1,1 hektare. Lokasinya di Jalan Borongtala Nomor 58 A, Tamallayang, Bontonompo, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Baca Ini Juga Yuk: Sederhana Mencintai Lingkungan ala Komunitas CAI

Bersama RHD, Denassa berhasil menyelamatkan 563 jenis tanaman. Tak hanya itu, ia menghadirkan keunikan dan kekhasan untuk mempertahankan setiap budaya serta cerita tanaman dari sisi sosiologi, ekologi, dan budaya.

"Kita melihat tentang bagaimana cara pandang masyarakat, khususnya Bugis-Makassar-Mandar-Toraja, pada satu jenis tumbuhan. Sehingga, orang-orang menjadi lebih tahu tentang pemanfaatan beberapa spesies di zaman dahulu sampai sekarang yang dilakukan oleh orang tua terdahulu, baik dimanfaatkan sebagai obat atau penawar hingga diolah menjadi makanan khas daerah dalam instrumen tradisi ritual budaya maupun kehidupan sehari-hari," ujar Denassa di laman resmi Unhas.

Dalam proses itu, Denassa punya tujuan mengingatkan bahwa Indonesia berada pada posisi kedua dunia sebagai negara dengan keanekaragaman hayati terbesar setelah Brasil. Posisi itu menjadi tantangan bersama untuk saling menjaga dan melestarikan alam. Ini sebagai bentuk kesadaran terhadap perlindungan penghijauan agar terhindar dari kerusakan lingkungan maupun kepunahan spesies tumbuhan dan hewan.

Menurutnya, menjaga keanekaragaman hayati di Indonesia belum sepenuhnya disadari masyarakat. Tidak sedikit di antara mereka yang belum melakukan aksi nyata terhadap pengelolaan pelestarian flora dan fauna yang menjadi ciri khas serta cerminan masing-masing daerah.

Baca Ini Juga Yuk: Inovasi Mahasiswa ITS Bikin Limbah Air Wudu Lebih Bermanfaat

"Melalui Rumah Hijau Denassa diharapkan menjadi salah satu bentuk kontribusi besar terhadap penyediaan lahan untuk ekosistem flora dan fauna. Mengajak kaum pelajar untuk datang mencintai alam dan lebih peduli terhadap populasi spesies hewan endemik," jelas Denassa.

Ia pun berharap semakin banyak orang turun tangan dalam upaya pelestarian flora dan fauna. Denassa bahkan berharap mahasiswa yang sudah lulus untuk pulang kampung dan melakukan aksi nyata di daerah asalnya, membangun desa, hingga menerapkan ilmu pengetahuan serta pengalaman yang dimilikinya.

Denassa mengatakan, mahasiswa yang kelak menjadi alumni dapat melihat peluang peruntungan kehidupan dengan mengabdikan diri menciptakan karya inovatif, kreatif, dan produktif pada pemanfaataan potensi Sumber Daya Alam (SDA). Sehingga, kesejahteraan masyarakat diharapkan juga bisa tercapai.

"Kita sebagai masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman budaya diharapkan untuk tetap saling menjaga dan menghormati setiap tradisi yang dimiliki, khususnya perhatian terhadap pelestarian lingkungan hidup disekitar kita. Indoneisa juga dekat dengan budaya maritim yang tentu tidak terlepas pula pada keanekaragaman hayati bawah laut," tutur Denassa.


Foto: Istimewa/Dokumentasi Universitas Hasanuddin


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler