Jejak Panjang dan Menarik sang Travel Writer Agustinus Wibowo

Bandung - TemanBaik kita kali ini adalah Agustinus Wibowo. Mungkin bagi kamu yang menggemari perjalanan dan fotografi, namanya sudah enggak asing lagi.

Kami bertemu dengan Agustinus secara daring dalam rangkaian 'Ubud Writers & Readers Festival (URWF) 2021'. Dalam perjumpaan tersebut, Agus mengisahkan bagaimana dirinya hidup dari perjalanan dan fotografi. Menarik rasanya, apalagi bagi kamu yang memang gemar melakukan kegiatan tersebut.

Banyak banget hal menarik dari obrolan dengan Agustinus. Mau tahu keseruannya? Simak hasil obrolannya, yuk!

Dari balik perjalanan luar biasanya, ada dua hal yang memengaruhi pria asal Lumajang ini untuk bisa seperti sekarang. Pertama ialah perangko, kedua ialah negeri leluhurnya di Tiongkok. Agustinus yang merupakan orang Indonesia keturunan Tionghoa ini mengisahkan bagaimana pengaruh perangko yang membuatnya berangan-angan ingin keliling dunia.

"Perangko itu seperti narasi dari sebuah negara dan saya seolah membayangkan visual sebuah negara dari perangko yang saya terima," kenangnya.

Tentu beda banget sama hari ini ya? Sekarang orang kalau mau lihat negara tertentu, tinggal buka YouTube.
Bisa dibilang begitu. Tapi, ya namanya saat itu saya juga tinggal di wilayah terpencil di Jawa, kayaknya pergi ke luar negeri tuh mimpi banget deh buat saya.

Negara mana yang waktu itu pengin banget dikunjungi, sih?
Mungkin ada beberapa. Tapi, akhirnya saya berhasil melakukan perjalanan ke China. Ya, sebetulnya itu juga karena saya kuliah di Beijing, kan. Nah, dari sana mulai deh kita pelan-pelan melakukan perjalanan.

Meski profesinya jurnalis foto dan penulis, namun latar belakang pendidikan Agustinus berbeda dengan profesinya. Ia menyelesaikan studi di Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan melanjutkannya ke Beijing Language And Culture University serta Tsinghua University. Di kampus yang terakhir disebut, ia mengambil jurusan Computer Sceince and Engineering.

Pernah ngantor di bidang yang sama dengan jurusan kuliah enggak?
Enggak. Aku tuh masuk jurusan komputer, dalam hal ini sains lah ya, karena nilaiku di sekolah tuh lebih kuat di mata pelajaran IPA. Dulu kan masih ada klasifikasi antara anak Sos (IPS) dan anak IPA ya.

Tapi minat studi waktu itu enggak ke jurusan teknik?
Ya, sebenernya pengin kuliah bahasa. Tapi orangtuaku enggak setuju, dia bilang kalau bahasa kan bisa belajar sendiri. Aku juga enggak nyangka sih pekerjaan yang saat ini ku jalani, ya jadi kayak anak Sos aja. Menulis, motret, dan enggak pernah ngantor di bidang tersebut ya, jadi insinyur, kerja di kantor, yang buat aku sih itu membosankan.

Singkatnya, Mas Agus salah jurusan ya?
Hahaha. Iya.

Penting juga berarti ya milih jurusan itu berdasarkan apa yang kita suka?
Tapi menurutku enggak apa-apa sih (sekalipun salah jurusan). Toh, kalau aku enggak kuliah di jurusan tersebut, mungkin aku enggak bisa ada di sini, saat ini. Mungkin kalau dulu aku jadi anak Sos, perjalananku belum tentu sejauh ini.

Baca Ini Juga Yuk: Ngobrolin Foto Terapeutik Bareng Grace Anata Irlanari

Separuh Hati dan Hidup di Afghanistan
Pada 2003, Agus memulai perjalanan. Bermodal 20 ribu dollar saat itu, ia bercita-cita melakukan perjalanan darat dari Tiongkok ke Afrika Selatan. Sebuah impian yang sangat jauh dari kata realistis, tentu saja. Namun siapa sangka, keberaniannya kala itu justru mempertemukannya dengan pengalaman yang lebih bernilai.

Ia 'terdampar' di Afghanistan dan harus menyambung hidup bekerja menjadi jurnalis. Ia juga aktif menulis dan membuat blog. Saat itu, tujuannya menulis adalah sebatas untuk bercerita di internet.

"Bikin blog itu kayak yang ngabarin: nih, gua masih hidup loh," ujarnya sembari tertawa.

Agus juga mulai mendalami fotografi saat itu. Padahal, saat masih tinggal di Indonesia, ia mengaku tak begitu menyukai fotografi karena saat itu ada proses panjang dalam kegiatan fotografi. Lagipula, saat itu fotografi menurutnya adalah sesuatu yang cukup mewah.

Saat mulai memotret, Agus mengabadikan apapun yang ia lihat selama perjalanan, mulai dari pemandangan hingga orang-orang yang dijumpai setiap harinya. Perlahan, ia mulai merasa nyaman dan tertarik dengan fotografi human interest. Ia memotret wajah tiap orang yang dijumpai dan ajak ngobrol.

"Begitu pulang ke Beijing dan mencuci fotonya, saya takjub sama apa yang saya lihat," terangnya.

Apa sih yang bikin Mas Agus takjub?
Mata orang-orang itu seperti berbicara. Enggak tau, sejak itu saya mulai rutin mengabadikan orang-orang yang saya jumpai lewat foto.

Dengan modal minim tadi, apakah perjalanan ke Afrika Selatan itu bisa dibilang sukses?
Saat itu aku malah terdampar dan tinggal lama di Afghanistan. Kalau bilang cita-cita sih, ya namanya anak kuliahan kan pasti keinginannya gede banget. Duit 20 ribu dolar itu setara 20 juta (rupiah) deh kayaknya dan buktinya aku terdampar di Afghanistan untuk bertahan hidup dan nyambung dana.

Menjadi Penulis
Semakin lama tinggal di Afghanistan, semakin banyak jurnal harian yang Agus tulis dalam blog pribadinya. Siapa sangka, jurnal perjalanan itu sampai ke Indonesia dan dibaca seorang editor salah satu media yang bisa dibilang 'major label' kala itu.

Karena konsep diari perjalanannya dianggap menarik oleh sang editor, catatan itu kemudian terbit di salah satu media daring sebagai rubrik harian. Tak berhenti di situ, setelah diterbitkan di internet, catatan Agus dibukukan di bawah naungan penerbit yang sama dengan media daring tadi dengan judul 'Titik Nol'.

Namun, jauh sebelum 'Titik Nol' dirilis, buku pertama Agustinus yang terbit adalah 'Selimut Debu'. Buku ini juga terbit di bawah naungan penerbit yang sama. Hanya saja, dalam buku pertamanya, ia ingin pembacanya mendapatkan sesuatu yang baru. Karena cikal bakal 'Titik Nol' dan buku-buku selanjutnya, kebanyakan berasal dari diari perjalanan Agus di blog.

Sampai saat ini, Agustinus telah merilis empat buku, masing-masing Selimut Debu, Garis Batas, Titik Nol, Jalan Panjang Untuk Pulang. Ia juga sedang menjalani proses kreatif untuk menerbitkan buku kelimanya saat ini.

Panjang juga ya perjalanan karya-karya Mas Agus?
Bisa dibilang begitu. Jadi, saat si penerbit ini mau ngeluncurin buku dari bahan yang dimuat di media daring, aku tawarkan dulu 'Selimut Debu'. Tujuannya, biar pembaca dapetin sesuatu yang bener-bener baru aja. Karena 'Selimut Debu' kan belum pernah terbit di manapun.

Kenapa pengin banget 'Selimut Debu' yang jadi buku pertama?
Di sisi lain, aku juga kepengin buku pertamaku itu cerita tentang Afghanistan. Tempat itu tuh layaknya rumah kedua buat aku.

Sejauh ini, Mas Agus udah nerbitin Selimut Debu, Garis Batas, Titik Nol dan Jalan Panjang Untuk Pulang. Mana yang menurutmu paling masterpiece? Dan kenapa?
Titik Nol. Itu buku yang penulisannya cukup berat, proses kreatifnya lebih eksploratif, dan aku enggak hanya bicara perjalanan aja di sini. Aku juga cerita tentang diriku, dan mengisahkan tentang seorang Ibu yang berjuang melawan kanker lalu kemudian meninggal dunia. Proses penulisannya seperti 'menunggu' Ibuku berpulang. Proses kreatifnya yang aku bilang paling eksploratif ini juga dijalani dengan proses nulis yang berat. Di sisi lain, aku merasa ini achievement karena rasanya jarang banget ada buku non fiksi yang pakai teknik dua plot saat nulisnya.

Sebelum merilis 'Selimut Debu', punya karya yang mirip hidden track-nya kalau di karya musik enggak?
Enggak. Hahaha, Selimut Debu itu benar-benar buku pertamaku.

Kalau buku 'Jalan Panjang Untuk Pulang' itu tentang apa sih Mas?
Itu adalah kumpulan perjalanan dari seluruh penjuru dunia. Buku ini 'dijahit' pada masa pandemi ya, di mana kita semua seolah terpasung di dalam rumah dan perjalanan itu sendiri menjadi sesuatu yang amat mahal buat kita. Dan pada akhirnya 'Jalan Panjang Untuk Pulang' itu sendiri jadi pertanyaan, sebenarnya makna rumah buat kita itu apa?

Isinya tentang apa aja?
Kisah-kisah tentang kepulangan. Tentang orang yang merindukan tanah airnya, dan kisah-kisah dari penjuru dunia, yang mana kita bisa melihat dunia luar sekaligus melihat ke dalam diri kita sendiri.

Terus, buku terbarunya bakal rilis kapan nih, Mas?
Masih dalam proses pematangan, dan segera akan aku update kabarnya saat bukunya akan rilis.

Baca Ini Juga Yuk: Keni Soeriaatmadja, Liuk sang Penari & Perannya dari Balik Layar

Perjalanan Diri
Dua dekade menghabiskan perjalanan dengan berkeliling dunia. Terlihat glamor mungkin, namun, di sisi lain Agustinus mengungkap sisi lain dari perjalanan yang dianggapnya tidak mudah.

"Orang lihatnya sih glamor. Enak banget nulis, motret, tapi enggak mudah loh itu semua. Perlu proses yang panjang untuk membiayai 'perjalananku' ini dengan perjalanan," ungkapnya.

Ia juga mengungkap banyaknya kegagalan yang dialami saat melakukan perjalanan. Kegagalan paling nyata adalah saat ia harus 'terdampar' di Afghanistan, padahal, tujuan awalnya adalah berlayar sampai ke Afrika.

Meski demikian, dirinya mengaku hadirnya teknologi mungkin bisa membantu TemanBaik yang mau memulai karier sebagai travel writer. Namun, di sisi lain, hadirnya teknologi juga disebut sebagai tantangan karena saat ini siapapun bisa menjadi travel writer.

"Orang dengan mudahnya bikin foto yang bagus, nulis cerita bagus, bikin video perjalanan yang bagus. Tantangannya adalah bagaimana kita menawarkan sesuatu yang beda," terangnya.

Ke-khasan diri berarti ya?
Betul. Yang dicari itu keunikan, kedalaman, dan ke-khasan dalam diri. Gimana caranya kita membuat pengalaman dari perjalanan kita ini jadi punya nilai tambah.

Mas Agus kan udah berjalan jauh banget nih, udah ngerasa pulang belum sih?
Buat aku rumah itu bukan masalah lokasi ya. Kalau cuma lokasi sih sekarang aku tinggal di Jakarta, tapi aku bukan orang Jakarta, tapi aku beli rumah di sini, ya. Intinya apa sih? Rumah itu ada di dalam diri dan hati kita. Rumah itu seperti kondisi batin di mana kita bisa merasa damai. Saat kita sudah merasa enggak ada kekhawatiran berlebih, dan merasa jiwa kita damai, dalam keadaan apapun kita, maka kita sudah merasa pulang.

Di URWF kali ini, Mas berbagi apa aja sih sama audiens?
Aku di sini ada satu sesi, ngebahas tentang makna perjalanan dan menurutku perjalanan itu sendiri adalah proses melihat dunia luar sekaligus proses melihat ke dalam diri. Nah, proses melihat ke dalam diri ini yang aku rasa sulit. Padahal kalau aku melihat dari ajaran-ajaran spiritual, ku rasa semua mengajarkan kita untuk mengenali diri. Bahkan dalam ajaran Muslim pun, Nabi Muhammad pernah berujar kalau kita enggak mengenali diri sendiri, kita enggak bisa mengenali Tuhan. Jadi proses mengenali diri ini menurutku bisa dilakukan dengan melakukan perjalanan ke luar.

Apa aja yang menjadikan (perjalanan ke luar) itu penting untuk mengenali diri?
Kita bisa belajar dari orang lain. Kita bisa melihat 'konflik' dari perjalanan tersebut, dan merefleksikannya. Kadang saat kita melihat konflik di dunia luar, kita juga bisa melihat konflik ini di dalam diri dan mempelajarinya. Kita butuh interaksi dengan dunia luar.

Untuk bisa melihat ke dalam diri itu caranya gimana sih, Mas?
Aku berkaca dari pertemuan dengan orang-orang selama aku melakukan perjalanan. Cerita-cerita mereka adalah cerita-cerita kita juga, dengan alur yang mungkin berbeda. Itu mungkin sulit, tapi pada akhirnya itu adalah refleksi, bagaimana kita melihat dunia luar adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri.

Satu pertanyaan yang juga penting nih: gimana sih cara kita belajar banyak bahasa?
Dipakai dan dipraktekkan. Aku bisa beberapa bahasa, tapi karena lama enggak dipakai, itu enggak bisa lagi, belepotan aja gitu. Tapi kuncinya, kalau kita pernah bisa sebuah bahasa, sekalipun kita lupa, tapi masih bisa me-recall atau pulih lagi.

Mas Agus, capek enggak sih ngejawab pertanyaan jurnalis tentang perjalanan, kepulangan, melihat diri sendiri?
Hahahaha. Enggak sih. Aku enjoy dengan proses ini. Karena aku bicara seperti ini juga ya bicara untuk diriku sendiri.

Dan sekarang, mau jalan ke mana?
Aku kepengin ke Timor Leste. Ini tuh sebenarnya proyek Indonesia dari Seberang Batas. Aku riset tentang perbatasan Indonesia dan Papua Nugini, aku belajar ke Belanda juga tentang perjalanan sebelumnya (ke Papua). Dan kayaknya Timor Leste akan jadi salah satu kepingan puzzle dari proyek ini yang menarik untuk aku pelajari.

Terima kasih banyak, Mas.. Buat ceritanya. Sehat-sehat selalu!
Sama-sama, sehat selalu juga!

TemanBaik, belajar dari perjalanan Agustinus Wibowo, sepertinya kita bisa meniru apa yang telah Agus lakukan dalam proses mengenali dirinya. Ya, melihat ke dunia luar untuk kemudian merefleksikannya ke dalam diri kita.

Lalu bagaimana kalau kita belum bisa pergi melanglangbuana? Mungkin kita bisa mencobanya dari hal yang paling dekat dengan kita. Lihat, refleksikan, dan berusaha memperbaiki. Dengan begitu, kita bisa mengenal diri kita lebih jauh lagi.

Selamat berakhir pekan!


Foto: Dokumentasi Pribadi Agustinus Wibowo/Instagram @agvstin88
Layout: Agam Rachmawan/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler