Rahmat Suprihat, sang Guru dan Pengabdi Lingkungan

Bandung - Rahmat Suprihat, sang Guru yang Juga Mengabdi pada Lingkungan

Tepat pada momentum Hari Guru Nasional hari ini, Kamis (25/11/2021), enggak lengkap rasanya jika tak membahas soal guru. Sosok yang akan kita bahas adalah Rahmat Suprihat, guru SMPN 55 Bandung yang aktif melakukan #AksiBaik menjaga lingkungan.

Pak Rahmat, begitu ia biasa disapa, menyelesaikan studi D3 Pendidikan Seni Rupa di Universitas Pendidikan Indonesia pada 1992. Dua tahun usai lulus, ia menjadi guru honorer di berbagai sekolah menengah pertama di Bandung, antara lain di SMP Bandung Raya dan SMP Negeri 39 Bandung.

"Pertama kali ngajar mah ngajar Seni Budaya, tapi sering ngajar di luar Seni Budaya karena masih honorer," kenangnya saat ngobrol dengan kami di SMP Negeri 55 Bandung.

Menghabiskan waktu mengajar sejak 1994, pada 2012 ia mengikuti program Sekolah Adiwiyata dari Kementerian Lingkungan Hidup. Itu jadi awal mula dirinya berkecimpung dalam #AksiBaik menjaga lingkungan.

Menariknya, ia mengaku tak ada sedikitpun trigger atau pemicu dirinya yang memancingnya terjun menjaga lingkungan. Rahmat mengaku semuanya berawal dari kebiasaan yang rutin dilakukan.

"Kecintaan terhadap lingkungan mah lahir begitu saja sih, dengan sendirinya. Makanya saya agak bingung kalau ditanya awalnya gimana," ujarnya.

Baca Ini Juga Yuk: Ivan Junianto, Guru Serba Bisa yang Mengabdi di Desa Terpencil

Siapa sangka, Sekolah Adiwiyata yang diikutinya banyak mempertemukan Rahmat dengan pegiat lingkungan. Pertemuan itu pula yang mengantarkannya pada serangkaian #AksiBaik menjaga lingkungan.

Ia kemudian mendirikan FOSA (Forum Sekolah Adiwiyata) untuk berdiskusi dan saling memberi bantuan terkait upaya menjaga lingkungan di tempat tinggal anggota-anggotanya, hingga menerapkan kebiasaan menjaga lingkungan di manapun ia berpijak.

Misalnya saat berperan menjadi guru, Rahmat membangun beberapa wadah belajar buat siswanya mengenal lingkungan. Salah satu wadah tersebut yakni Komunitas Pelajar Nyasab. Nama itu diambil dari kepanjangan Nyapeda Sabtu Babarengan. Ia mengumpulkan anak-anak SMP se-Kota Bandung (dengan relasi pertemanan dengan guru di masing-masing sekolah) untuk berkumpul saban sabtu pagi dan bersepeda.

Tak hanya bersepeda, Komunitas Pelajar Nyasab juga banyak melakukan kegiatan luar ruangan, seperti berkunjung ke museum-museum di Kota Bandung, melakukan gerakan pungut sampah, hingga melakukan pelestarian lingkungan dengan menanam pohon dan masih banyak lagi. Sayangnya, pandemi COVID-19 membuat aktivitas komunitas ini sempat terhenti.

"Jadi, sepeda itu kayak perantara. Isi kegiatannya sih lebih ke ngasih wawasan buat anak-anak supaya mereka lebih kenal sama Bandung dan lingkungan tempat mereka tinggal," katanya.

Kebiasaan menjaga lingkungan juga diterapkan di tempatnya bekerja, SMP Negeri 55 Bandung. Rahmat aktif menjaga Sungai Cikendal yang letaknya di sebelah utara, bersebelahan dengan SMP Negeri 55 Bandung di kawasan Cigondewah, Kota Bandung.

Kabarnya, tiap hujan besar mengguyur, besar kemungkinan aliran air di sungai ini bisa meluap sampai masuk ke bangunan sekolah. Hal itu disebabkan penumpukan sampah di sungai yang sudah tidak wajar lagi.

Saat awal-awal kejadian ini, Rahmat sampai melapor ke pihak otoritas setempat, mulai dari kewilayahan hingga level Pemerintah Kota. Bantuan untuk menanggulangi banjir di Sungai CIkendal pun dikerahkan.

Saat ini, kondisi Sungai Cikendal memang belum bisa dikatakan begitu bersih. Namun, upaya yang bisa dilakukan Rahmat adalah menjaga sungai ini agar tidak meluap saat ada hujan besar.

Baca Ini Juga Yuk: Witri Erdiawati, Guru SLB dan Penutur Bahasa Isyarat Kepolisian

Dua hari sekali, ia rutin mengecek sungai. Jika ada tumpukan sampah, ia akan membersihkannya agar aliran sungai bisa lebih lancar dan mengurangi potensi terjadi banjir. Ia melakukan ini biasanya secara diam-diam dan refleks saja.

"Kalau sampai banjir, biasanya saya ngontak anak-anak yang biasa jalan bareng di Komunitas Pelajar Nyasab. Dan mereka antusias buat bantuin. Kita sama-sama jaga lingkungan," katanya.

Di luar kegiatannya sebagai guru, Rahmat juga aktif menjadi fasilitator bagi rekanan sekolah yang memerlukan suplai tanaman untuk program penghijauan. Ia biasanya melakukan kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pihak pemerintah untuk memberi bantuan berupa tanaman bagi program penghijauan.

Ada filosofi menarik yang ia ceritakan saat ditanya mengapa mau sebegitunya mengurus proses pembagian tanaman. Menurut Rahmat, tanaman itu jika sudah besar akan menghasilkan oksigen buat banyak orang.

Manfaat oksigen dari tanaman yang ia sumbang bakal mengalir terus karena oksigen diyakini tak akan pernah habis selama bumi masih ada. Oleh karenanya, ia percaya sedekah tanaman adalah bentuk sedekah oksigen berkepanjangan.

"Selain itu, kegiatan lingkungan hidup juga membuat saya jadi punya banyak saudara baru," terangnya.

Saat ini, pria empat anak itu sedang mempersiapkan diri untuk acara bertema lingkungan hidup yang juga berkaitan dengan peringatan Hari Guru Nasional. Ia punya harapan tiap guru bisa menjadi teladan bagi muridnya dan Rahmat memilih untuk menjadi contoh baik agar murid-muridnya bisa menjaga lingkungan lebih baik dari dirinya.

"Saya juga berharap koneksi dengan banyak orang bisa lebih luas dan jauh lagi, supaya bisa sama-sama menjaga lingkungan. Jadi walaupun sehari-hari saya ini kerja sebagai guru, tetap saja, saya merasa punya tanggung jawab untuk menjaga lingkungan," pungkasnya.

Sehat sehat selalu, Pak Rahmat! Semoga bumi dan isinya saling dukung untuk segala niat baikmu.


Foto: Rayhadi Shadiq/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler