Kampanye Perangi Sampah ala Aeshnina, dari Gresik hingga Belanda

Gresik - Kenalin nih Teman Baik kita, Aeshnina Azzahra Aqilani. Meski masih belia, dia sudah jadi aktivis mikroplastik yang tampil pada Plastic Health Summit 2021 di Amsterdam, Belanda.

Beritabaik.id punya waktu ngobrol singkat dengan siswi kelas 9 SMPN 12 Gresik ini lewat Zoom. Kepada kami, Nina, sapaan akrabnya, menjelaskan ketertarikannya pada isu lingkungan berawal dari keluarga. Itu karena Ayah dan Ibu Nina aktif di Ecoton, sebuah organisasi konservasi lingkungan sebagai usaha memulihkan lingkungan sungai tercemar di Surabaya dan Gresik.

Jauh sebelum tampil di Plastic Health Summit 2021, Nina sudah sering menulis surat kepada pejabat publik. Dia masih ingat saat sedang duduk di bangku kelas 5 SD. Saat itu, dia sudah menyurati para pejabat publik di wilayah tempat ia tinggal. Surat tersebut berisi imbauan untuk sama-sama menjaga lingkungan serta membuat regulasi terkait tata kelola lingkungan.

Ia mengaku risau dengan kondisi pencemaran lingkungan di kawasan tempat tinggalnya di Kabupaten Gresik. Menurutnya, jika tak segera ditangani, dampak kegiatan daur ulang sampah plastik di sana tetap akan berdampak buruk buat lingkungan.

"Lewat surat, ternyata saya bisa ngomong sama siapa aj dan akhirnya saya ngirim surat deh," ujarnya.

Suratnya tak langsung berbalas kala itu. Namun, kenyataan tersebut sama sekali tidak menyurutkan semangat perempuan kelahiran 2007 ini untuk terus mencintai lingkungan. Di sekolah, ia menggandeng teman-temannya membuat komunitas pencinta lingkungan. Saat ini, Nina aktif dalam Komunitas River Warrior.

Komunitas ini punya misi keren, yaitu menyelamatkan sungai, khususnya sungai Brantas dari polusi plastik. Bersama sang kakak yang menjadi kapten, ia berperan sebagai wakil kapten di komunitas ini. Saat ini, River Warrior sedang disibukkan dengan kegiatan workshop daring terkait lingkungan hidup. Kamu bisa mengeceknya di Instagram mereka, @river.warrior.

Kecintaan terhadap lingkungan juga diterapkannya di sekolah. Saban ada teman yang membawa atau menggunakan plastik, Nina biasanya akan mengajak sang teman meninggalkan kebiasaan tersebut.

"Kayak misalnya jajan di warung, padahal bisa dia bawa sendiri jajanannya. Atau beli air botol, padahal bisa bawa tumbler, yang begitu-begitu biasanya aku ajak ngobrol. Ngobrol sehari-hari banget kok, enggak yang gimana-gimana. Kami berkomunikasi pakai Bahasa Jawa," jelasnya.

Saat ditanya kebiasaan baik yang tak umum dilakukan anak seusianya, Nina menjawab itu semua terjadi secara alami. Ia hidup di antara para pegiat lingkungan dan mengaku hanya terinspirasi dari apa yang dilihat sehari-hari sejak kecil.

Baca Ini Juga Yuk: Fei Febri dan Perjuangannya Bikin Bank Sampah Tak Biasa

Viral di Mata Internasional
Langkah maju dilakukan Nina saat ia mulai menginjak bangku SMP. Ia menyurati langsung dua Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Joe Biden, Kanselir Jerman Angela Merkel, Perdana Menteri Belanda Mark Rutte, serta Menteri Infrastruktur dan Pengelolaan Sumber Daya Air Belanda Barbara Visser. Isi suratnya sama, mengajak pemangku kepentingan di negara-negara maju tadi untuk tidak menyalurkan sampahnya ke negara berkembang.

Selain itu, Nina aktif dalam kegiatan aksi sosial bersama Ecoton, wadah dimana orang tua dan kakaknya menjalankan aksi lingkungan. Aksi ini dilakukan dengan terus menyurati para pejabat publik. Dari tingkat Bupati di Gresik, hingga Presiden Amerika Serikat, semuanya disurati agar sama-sama menjaga lingkungan.

Langkah tersebut membawanya terbang ke Amsterdam, Belanda. Ia mengikuti ajang Plastic River 2021 dan menjadi pemateri dari Indonesia. Penampilan Nina yang masih berstatus siswi kelas 9 alias 3 SMP ini menjadi sorotan di mana-mana. Pasalnya, Nina bersanding dengan pemateri dari negara asing dan mereka sudah selesai studi S2 bahkan S3 alias lebih senior.

Di hadapan para peserta konferensi, ia menjelaskan dan meminta negara-negara maju di belahan dunia ini tidak membuang atau mendistribusikan sampahnya ke negara berkembang. Ia juga menjabarkan bagaimana dampak sampah tersebut terhadap kelangsungan hidup masyarakat, khususnya di wilayah Gresik yang dijadikan bahan presentasinya.

"Banyak di antara peserta itu yang nangis dan banyak yang enggak tau kalau ternyata sampah di negara mereka dibuang ke negara-negara berkembang," terang Nina.

Di sela-sela kegiatannya, ia mengunjungi tempat daur ulang plastik satu-satunya di sana. Kunjungan ke tempat daur ulang plastik itulah yang membuka matanya tentang sampah plastik.

"Di sini, dari seluruh sampah plastik, yang bisa didaur ulang itu hanya 60 persen. Sisanya kita enggak tau bakal diapain kan ini?" katanya.

Ia melanjutkan, angka 40 persen sebagai jumlah sisa bukanlah angka yang kecil. Oleh karenanya, dengan tegas ia menyebut tak ada jalan lain selain mengurangi konsumsi plastik sekali pakai.

"Ini di Belanda yang alatnya mungkin jauh lebih canggih loh. Jadi, sepertinya kalau kita mau bercermin, kita mulai sadar dan mengurangi (konsumsi plastik) deh," ajaknya.

Baca Ini Juga Yuk: Yuk! Terapkan #KebiasaanBaik Ini untuk Atasi Permasalahan Sampah


Masuk Pesantren dan Jadi Menteri
Di luar sepak terjangnya sebagai aktivis mikroplastik, Nina tetaplah remaja yang harus terus bertumbuh. Saat ditanya hendak melanjutkan studi ke mana, dengan tegas ia menjawab akan masuk ke sebuah pondok pesantren. Ia mengaku bakal terus menyelesaikan pendidikan hingga level yang paling tinggi.

Ia lebih semangat ketika ditanya cita-citanya di masa depan. Dengan suara lantang ia menjawab dirinya ingin menjadi Menteri Lingkungan Hidup Indonesia di masa yang akan datang. Semoga cita-citanya tercapai ya!

Sebagai penutup, ada kiat mudah diet plastik ala Nina nih! Jadi, ada enam jenis plastik sekali pakai yang ternyata bisa kita hindari digunakan loh! Pertama kantong plastik, kita bisa menggantinya dengan tas atau tote bag, kedua ada sedotan yang bisa kita ganti dengan bahan stainless atau bambu.

"Tanpa sedotan juga kita udah bisa minum kan? Tapi kalau tetap mau pakai sedotan, ya hindari yang bahan plastik," ajaknya.

Selanjutnya, ada plastik botol minum, yang konsumsinya bisa kita ganti dengan tumbler atau botol minum. Sterofoam wadah makanan yang fungsinya bisa kita ganti dengan wadah makanan yang bisa dicuci dan dipakai berulang kali, dan terakhir kemasan plastik sachet.

"Kemasan plastik sachet itu bahaya banget. Enggak bisa didaur ulang dari plastiknya, almuniumnya, bahaya banget asli," katanya.

Nah, enam poin yang disampaikan Nina tadi dekat sekali dengan kehidupan dan rutinitas kita sehari-hari bukan? Makanya, yuk dari sekarang kita sama-sama belajar dan berlatih untuk menguranginya atau bahkan tak menggunakannya sama sekali. Pelan-pelan dicoba ya, TemanBaik!

Buat Nina, terima kasih waktu dan pengalaman yang sudah dibagikan ya!


Foto: Istimewa/Dokumentasi Aeshnina Azzahra Aqilani


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler