Ngobrol Buka-bukaan soal HIV/AIDS Bareng Jimmy

Bandung - TemanBaik, setiap 1 Desember diperingati sebagai Hari Aids Sedunia. Enggak lengkap rasanya jika kita tak berbincang bareng orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Kami ngobrol dengan Yana Suryana yang akrab disapa Jimmy. Ia aktif dalam banyak kegiatan sosial, mulai dari Rumah Cemara hingga Jabar Quick Response. Di Jabar Quick Response, Jimmy berperan sebagai Koordinator Kanal. Selain itu, di waktu senggangnya, pria ini kerap menghabiskan waktu hobi bertukang dengan material kayu.

Secara terbuka, Jimmy mengaku dinyatakan positif Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada 2004. Ia membagi pandangannya seputar ODHA, termasuk anggapan masyarakat. Rasa heran menyelimutinya karena stigma terhadap ODHA masih terjadi sampai hari ini.

"Yang bikin bingung itu, kenapa ODHA identiknya manusia yang sisanya cuma tulang dan dia terbaring lemah di rumah? Padahal, kan enggak begitu," ucapnya penuh semangat.

Ia menyebut, idealnya tiap hari sama saja dengan 1 Desember. Dengan begitu, akan ada kesetaraan antara ODHA dan non-ODHA di manapun.

Jimmy lalu membagi pengalamannya sebagai ODHA. Ia sempat mengalami fase sulit sebelum bisa menjadi lebih cair dan berbaur dengan lingkungan sekitar. Begitu terkonfirmasi positif HIV pada akhir 2004, ia sempat menarik diri dari lingkungan.

Apalagi, saat itu dirinya merupakan pengguna aktif narkotika. Kecanduan membuat dirinya semakin tersiksa, bahkan sampai harus melakukan hal buruk demi memenuhi kebutuhannya.

"Pada takut ketemu saya waktu itu," ujarnya.

Perlu waktu lama bagi Jimmy bisa menyelesaikan empat faktor yang disebutnya penting bagi ODHA, yaitu biologis, sosial, psikologis, dan spiritual. Keempatnya saling terkait. Ya, secara biologis, ia harus sehat, secara aspek sosial ia mesti menemukan lingkungan yang bisa menerima dan tumbuh bersama dirinya.

Sementara itu, dari aspek psikologis, ia menyebut proses penerimaan dan kesiapan menghadapi stigma dari luar adalah satu perjalanan panjang yang harus dilewati. Terakhir, ia juga menyebut aspek spiritual sebagai sesuatu yang tak kalah penting. Aspek ini adalah dimensi dimana ia melakukan proses 'tawar-menawar' dengan Yang Maha Kuasa atas apa yang dialaminya.

"Untuk bisa stabil dan bersosialisasi lagi perlu waktu yang lumayan. Pada dasarnya tiap orang beda-beda, tapi proses saya bisa dibilang lama, tapi enggak terlalu lama juga," sambungnya.

Lika-liku dan Tantangan
Banyaknya cerita penularan virus HIV/AIDS berbanding lurus dengan stigma mengenai ODHA. Alhasil, tak jarang ODHA dijauhi karena dianggap bisa menularkan penyakit dari dalam tubuhnya. Secara gamblang, Jimmy menyebut ini merupakan hal keliru.

Ia juga mengalami hal tersebut saat fase awal dirinya terkonfirmasi positif HIV. Ia setengah tertawa saat mengenang dan menceritakan ulang fase tersebut.

"Sebelum saya ngasih tahu kondisi kesehatan saya, mungkin orang menghindar karena takut kehilangan sesuatu pada saat itu. Tapi, perlahan saya ketemu kegiatan dan komunitas yang bikin saya ngerasa pede. Buat apa lama-lama di rumah? Hidup kan terus berjalan," katanya.

Saat bergabung dengan Rumah Cemara dan banyak terlibat dalam kegiatan sosial bertema olahraga, ia merasa bangga melihat saudara-saudara di Rumah Cemara pada bidang tersebut. Meski di sisi lain, ia melihat masih banyak pekerjaan rumah bagi pegiat dalam bidang ini.

Kadang, dirinya juga merasa miris saat ODHA seperti kesulitan akses untuk bisa berolahraga bareng non-ODHA. Sebab, ada yang beranggapan HIV bisa menular lewat keringat. Anggapan ini pun dibantahnya.

"Sebenernya ini ranah medis, sih. Tapi enggak apa-apa. Menurut saya sih hanya ada tiga penularan HIV dan olahraga bareng tidaklah bisa dijadikan alasan," katanya, sembari menjelaskan bahwa HIV adalah virus yang ada di dalam tubuh manusia dan akan mati bila sudah keluar dari tubuh manusia.

Tantangan berat juga harus dijalani ODHA di masa pandemi. Bagaimana tidak? ODHA yang divonis punya sistem imun tubuh lemah harus berhadapan dengan risiko terpapar COVID-19. Belum lagi ODHA punya jadwal konsultasi dengan dokter dan harus mengambil obat-obatan tertentu. Nah, momen saat ODHA harus ke rumah sakit inilah yang berpotensi menjadikan mereka terpapar COVID-19.

Saat pandemi sedang membeludak dan diberlakukannya PPKM pada Juni dan Juli silam, Jimmy menginisiasi gerakan kurir obat. Tujuannya, ODHA yang mau konsultasi atau membutuhkan obat terapi tak perlu mendatangi rumah sakit. Sebab, obat-obatannya sudah diambil secara kolektif dan bisa diantar ke rumah.

Tak Minta Diistimewakan
Hari AIDS 2021 mengusung tema 'Akhiri Ketimpangan, Akhiri AIDS'. Saat ditanya mengenai tanggapannya, Jimmy hanya tersenyum. Dirinya mengapresiasi tema Hari AIDS sedunia sekaligus menunggu kampanye demi kampanye tiap tahunnya menjadi sebuah aksi nyata.

"Terus terang, saya tuh sering banget naro harapan di Hari AIDS," ujarnya sembari tertawa.

Keinginannya sederhana, ingin ODHA dan non-ODHA dipandang sama. Menurut Jimmy, memosisikan ODHA sebagai pihak yang spesial juga kurang tepat. Anggapan ODHA sebagai manusia yang tinggal menunggu kematian, itu juga dianggapnya sebagai kekeliruan cara pandang.

Lebih lanjut, ia berharap ODHA bukan orang yang perlu dispesialkan. Malah, ia berharap batas antara ODHA dan non-ODHA dihilangkan agar kesetaraan itu muncul secara organik.

"Kalau ngomongin nunggu kematian, semua orang juga sama aja nunggu kematian. Tapi masa kita enggak boleh ngapa-ngapain? Kan enggak begitu. Jadi ODHA ataupun enggak, ya hidup sih tetep normal seperti biasa aja," tegasnya.

Saat ini, Jimmy masih disibukkan dengan kegiatan berkantor di JQR. Bahkan ketika kami menanyakan hobi kerajinannya, ia sedang menutup pesanan untuk sementara karena waktunya yang kerap berbenturan.

"Tapi kalau mau belajar bareng craftman dan kerajianan kayu sih dengan senang hati. Yuk bareng-bareng!" ajaknya.

Semoga selalu diberikan kesehatan dan dilancarkan segala urusannya ya, Kang Jimmy. Tetap semangat!


Foto: Dokumentasi pribadi

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler