Wiwin Suwarningsih dan Mimpi Bantu UMKM dengan Chatbot

Bandung - TemanBaik, kita kenalan yuk dengan Wiwin Suwarningsih, seorang peneliti dari Pusat Penelitian Informatika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Apa sih menariknya sosok beliau?

Sebagai peneliti, ia ingin keilmuan dan profesinya bermanfaat untuk orang lain. Salah satu yang sedang diperjuangkannya saat ini adalah menciptakan Chatbot for Smart Commercial (ChasCo).

ChasCo adalah sebuah aplikasi semacam chatting atau percakapan antara manusia dengan mesin melalui perangkat telepon genggam. Singkatnya, orang yang mengirim pesan akan dibalas secara otomatis oleh 'robot'.

Chatbot sendiri bukan hal asing di dunia, termasuk di Indonesia. Beberapa perusahaan sudah memakai teknologi atau aplikasi itu. Hal ini memudahkan pihak perusahaan dalam melayani konsumen yang bertanya melalui layanan percakapan. Jadi, enggak perlu lagi pakai tenaga manusia untuk menjawab setiap pesan yang masuk.

Tapi, untuk menggunakan chatbot, harganya jelas enggak murah. Sehingga, hanya perusahaan bermodal besar yang rata-rata bisa menggunakannya. Sedangkan bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), chatbot sangat jarang digunakan.

Hal itu membuat Wiwin terpacu. Ia ingin pelaku UMKM juga bisa menggunakan aplikasi chatbot. Sehingga, ia bersama tim peneliti di LIPI menciptakan ChasCo. Saat ini, ChasCo masih dalam tahap pengembangan. Harapan besarnya, ChasCo bisa dipakai di telepon genggam untuk membalas pesan di WhatsApp hingga media sosial.

"Jadi nanti kalau misalnya (pelaku UMKM) malas atau sibuk membalas pesan dari konsumen, jadi biarkan mesin yang membalasnya," kata Wiwin.

Baca Ini Juga Yuk: 3 Aplikasi yang Sedang Dikembangkan Peneliti LIPI, Apa Saja Ya?

Terbayang kan bagaimana mudahnya pelaku UMKM jika aplikasi ChasCo itu nanti bisa benar-benar dipakai? Pelaku UMKM tidak perlu membalas satu per satu pesan yang masuk, baik itu berupa pesanan barang, komplain, atau pesan lainnya. "Harapannya nanti aplikasi ini bisa diterapkan di mana dan kapan saja, baik untuk marketing, sales, atau keperluan lain," ungkap Wiwin.

Tapi, enggak mudah loh menciptakan aplikasi ChasCo. Setelah tiga tahun dikerjakan, butuh banyak perbaikan dan penyesuaian. Salah satu yang tersulit adalah menyimpan data kata dan kalimat.

Sebab, aplikasi itu ingin dirancang seakurat mungkin agar pertanyaan dan jawabannya nyambung. Enggak lucu kan jika pertanyaan konsumen apa lalu dijawab enggak nyambung oleh aplikasi itu? "Jadi memang validasi kata per kata dan kalimat per kalimat itu memang cukup lama," jelas Wiwin.

Enggak khawatir aplikasi itu justru menggerus tenaga manusia? Sama sekali Wiwin enggak memiliki kekhawatiran itu. Aplikasi itu justru ingin memberi kemudahan. Sebab, pelaku UMKM yang bermodal kecil biasanya akan merasa berat jika harus membayar jasa orang untuk menjadi customer service (CS).

"Nantinya mudah-mudahan UMKM yang enggak punya modal besar dengan adanya chatbot ini bisa menggunakannya untuk layanan konsumen atau proses penjualan," harap Wiwin.

TemanBaik yang aktif sebagai pelaku UMKM, tertarik enggak dengan aplikasi ChasCo ini? Sabar dulu ya, Wiwin dan timnya masih mengembangkannya. Doakan saja deh semoga aplikasi ini bisa segera rampung dan dipakai pelaku UMKM.


Foto: Oris Riswan Budiana (Wiwin saat menampilkan aplikasi ChasCo)

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler