Lolos Uji BPFK, Ventilator Ambu-Bag ITB Siap Diuji Klinis

Bandung - TemanBaik, kabar gembira datang dari Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB. Ventilator 'Ambu-Bag Airgency' yang mereka kembangkan telah lolos uji fungsi dan ketahanan dari Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Kementerian Kesehatan RI. Alat tersebut selanjutnya akan diuji secara klinis.

Airgency sendiri merupakan alat medis ventilator bertipe BVM (Bag-Valve-Mask) dengan fungsi resuscitator. Intinya adalah suatu kantong udara yang ditekan oleh dua capit otomatis dan dikontrol dengan seksama, hingga dapat mencapai semua parameter ventilasi yang dibutuhkan pasien. Airgency versi 5.0 ini telah disempurnakan untuk dapat bekerja dengan handal, dengan tetap memperhatikan portabilitas, estetika, dan kemudahan dalam manufaktur.

Ventilator portabel untuk pasien virus korona ini memiliki dimensi 22x24x37 cm dan menggunakan teknologi ambu bag atau kantong udara yang diotomatisasi sehingga tidak perlu lagi dipompa secara manual sebagaimana alat pada umumnya. Inovasi ini diperuntukkan bagi pasien korona yang berada dalam tahap tiga atau tahap paling kritis di mana pasien telah mengalami disfungsi paru-paru yang menyebabkan pasien tidak dapat bernapas dan membutuhkan alat bantu pernapasan.

Saat ini, Airgency telah melewati tiga jenis uji wajib untuk menjadi satu peralatan medis baru. Pertaama adalah uji fungsi untuk mengecek fitur yang ada di dalam sistem. Kedua, uji keamanan sudut untuk memastikan alat dan fungsinya tidak membahayakan tenaga kesehatan maupun pasien. Ketiga uji ketahanan, yaitu mengukur kekuatan operasional alat, meninjau ulang apakah alat tersebut dioperasikan selama dua hari tanpa dimatikan. Adapun tahap uji yang wajib dilakukan selanjutnya adalah uji klinis.

Tim yang mengembangkan alat tersebut diantaranya dari FTMD yaitu Dr. Yazdi I. Jenie, Dr. Djarot Widagdo, Christian Reyner M.T., Dr. Khairul Ummah, dan seorang dari Fakultas Seni Rupa dan Desain, Muhammad Ihsan. Dalam proses perancangannya, tim bekerja sama dengan PT. BETA (Bentara Tabang Nusantara) dan melakukan koordinasi dengan tim dokter dari Universitas Padjadjaran serta Rumah Sakit Hasan Sadikin. Untuk tahap pengujian alat, tim ini berkoordinasi dengan dr. Reza Widianto Sudjud, Sp.An-KAKV, KIC, M.Kes dan dr. Ike Sri Rejeki Sp An-KIC, M.Kes dari Fakultas Kedokteran Unpad.



Fitur dalam Ventilator Agency
Menurut Dosen FTMD ITB Christian Reyner, fungsi utama Ventilator Airgency adalah menggantikan alat yang sebelumnya diperasikan manual. Keunggulan alat ini adalah memiliki sistem yang sederhana, dapat dioperasikan dengan mudah, dan biaya produksi yang rendah.

"Harapan kami setelah lolos uji klinis, sudah mendapat izin edar, kita bisa segera memproduksi alat ini dan mengedarkannya ke rumah sakit," ujarnya dalam keterangan resmi di laman web Institut Teknologi Bandung.

Reyner juga menerangkan, alat tersebut memiliki parameter untuk mengatur seberapa besar oksigen yang masuk ke dalam paru-paru pasien. Pasalnya, tiap orang memiliki pola pernapasan dan kebutuhan oksigen yang berbeda, sehingga dengan bantuan Ventilator Airgency, dokter bisa mengatur sesuai kondisi pasien.

Pengaturan lainnya adalah inspiratory dan respiratory yaitu rasio antara jumlah oksigen yang diterima dan dikeluarkan semisal 1:2 atau 1:3. Perbandingan tersebut bisa diatur oleh dokter ataupun tim yang menangani pasien.

Baca Ini Juga Yuk: Kurangi Dampak Radiasi Layar Gawai dengan Cara Ini

Fungsi selanjutnya adalah pengaturan bidang volume. Karena tiap pasien memiliki bidang volume udara yang berbeda, maka alat tersebut juga dapat disesuaikan dengan bidang volume atau kapasitas pasien dalam menerima oksigen, semisal 300ml, 400ml atau 500ml.

Selain itu, fitur lainnya yang tak kalah penting dalam alat tersebut adalah sistem penanda yang akan mendeteksi adanya kegagalan fungsi alat dengan ditandai suara 'beep'.

"Misalnya, saat dioperasikan ada selang pernapasan yang terlepas maka alat akan berbunyi sebanyak empat kali 'beep', kemudian ada pendeteksi kebocoran halus, warning dalam kondisi low, high, over pressure yang berkaitan dengan kapasitas paru-paru dan tidal volume yang diberikan oleh dokter," tambah Reyner.

Ventilator Airgency ini juga dilengkapi sistem perpindahan sumber tenaga listrik otomatis dari AC ke baterai. Hal itu disiapkan untuk mengantisipasi jika terjadi mati listrik, maka sumber listrik akan pindah menggunakan baterai dan alat tetap berfungsi tanpa terhenti. Menurut Reyner, sistem alat ini bisa bertahan 3 hingga 4 jam dengan mengandalkan kekuatan baterai.

Fitur lain dari alat ini adalah bottle peep atau dikenal juga sebagai peep and exspiratory pressure. Fungsinya adalah untuk memastikan bahwa tekanan akhir paru-paru tidak boleh nol atau paru-paru pasien terlalu mengempis.

Persiapan Uji Klinis
Tahap uji klinis untuk alat ini sudah disampaikan kepada Komite Medik di Kementerian Kesehatan. Rencananya, tempat uji klinis alat ini akan dilakukan di Laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.

Perwakilan dari FK UNPAD, dr. Reza Widianto Sudjud, Sp.An-KAKV, KIC, M.Kes menyebutkan, Ventilator Airgency ini tidak akan diuji coba langsung ke pasien. Alasannya karena apabila dilakukan uji coba kepada pasien butuh izin dari keluarga pasien, sementara alat ini diperuntukkan bagi pasien yang berhenti napas atau kondisi kritis.

"Rasanya tidak mungkin jika dilakukan pada pasien langsung. Oleh karena itu kita akan membandingkan Ventilator Airgency dengan ventilator yang dipompa oleh tangan manusia secara manual, dan yang akan dinilai adalah tidal volume, tekanannya, dan lain lain," ujar Reza.

Saat uji klinis nanti, alat Ventilator Airgency yang dibutuhkan adalah alat yang sudah dilakukan tes fungsi. Namun tidak hanya satu alat saja, tapi pengujian akan dilakukan dari beberapa alat yang sama sehingga bisa dipastikan bahwa ventilator ini bisa diperbanyak dan digunakan.

"Pembuatan alat ini adalah niat baik dari kita untuk saling menolong. Karena masing-masing orang kan memiliki kemampuan berbeda, tapi tetap saling membantu. Tapi harapan saya, jangan hanya saat pandemi COVID-19, kita harus maju terus dalam produksi alat yang buatan kita sebagaimana yang diharapkan pemerintah," tutup Reza.

Foto: dok. Institut Teknologi Bandung

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler