'HooHaa Bridge', Ventilator Mandiri ala Hengky dan Alvin

TemanBaik, di tengah pandemi virus korona atau COVID-19, berbagai pihak berlomba-lomba membuat ventilator atau alat bantu napas. Alat ini sangat dibutuhkan di rumah sakit dan tempat layanan kesehatan lainnya.

Salah satunya adalah HooHaa Bridge Ventilator. Alat ini dikembangkan secara mandiri oleh Hengky Hidayat dan Alvin Tano bersama timnya. Yuk! Simak ulasan lengkapnya.

Hengky dan Alvin memilih mengembangkan Powered Emergency Ventilator yang saat ini tak banyak dikembangkan, terutama oleh BUMN dan perguruan tinggi. Alat ini akan berguna untuk menangani pasien seperti apa?

"Dalam COVID-19 itu ada tingkat keseriusan kasus, hijau, kuning, merah. HooHaa Bridge Ventilator ini untuk yang kuning. Kita mencegah agar (pasien) tidak masuk merah," kata Alvin.

Langkah membuat ventilator ini diawali dari minimnya ketersediaan ventilator. Setelah muncul ide dan rancangan, Hengky dan Alvin membeli resusitator merek Ambu Bag secara daring. Resusitator ini berfungsi untuk memompa oksigen pada gangguan pernapasan.

Resusitator itu kemudian dipadukan dengan berbagai komponen, salah satunya mesin untuk menekan resusitator. Agar perhitungan dan geraknya presisi, Alvin meminta Gior Soros yang merupakan adik kelasnya untuk membuat model matematika.

Sehingga, kinerja alat ini bisa sesuai harapan. Pengoperasiannya pun dilakukan lewat pengendali yang bisa disetel oleh dokter atau perawat. Akurasi tinggi menjadi salah satu yang diandalkan dari kinerja alat ini.

"Alat kami ini biasa saja, tapi akurat," ucap Alvin.




Keunggulan lainnya, HooHaa hanya memiliki dimensi 40x25x35 sentimeter. Untuk mendukung pengoperasian jarak jauh, alat ini dilengkapi koneksi internet yang dipastikan anti peretasan.

"Alat ini juga kami pastikan presisinya karena memang cara bernapas orang Indonesia unik. Pengembangan ini tidak bisa dilakukan pada alat berbasis open source," jelas Hengky.

HooHaa Bridge Ventilator ini pun sudah lolos uji produk emergency resusitator oleh Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) pada Kementerian Kesehatan. Uji produknya berlangsung pada 28 Mei-2 Juni 2020 di Jakarta.

Dalam pengujiannya, kinerja HoHaa berhasil memenuhi prinsip-prinsip standar, seperti pengaturan berapa banyak pernapasan dan pengeluaran udara permenit, rasio waktu pernapasan dan pengeluaran udara, hingga tekanan udara yang diharapkan.

Pada proses pengujian, BPFK memberikan adanya penyimpangan hingga 15 persen. Namun, HooHaa justru memperlihatkan penyimpangannya kurang dari 5 persen.

Sementara dari segi material, 85 persen komponen ventilator ini bisa didapatkan di Indonesia. Sisanya baru diimpor karena tak ada industrinya di Indonesia.

Untuk nama HooHaa Bridge Ventilator sengaja dipilih karena sekilas saat dilafalkan seperti suara orang bernapas. "Bridge Ventilator karena kami menyadari mesin kami bukanlah ventilator buat pasien yang kritis, tapi sebagai alat untuk mencegah pasien menjadi kritis," tutur Hengky.

Ventilator ini pun bakal dijual. Kini, badan hukum bernama PT. Asia Rekacipta Manufaktur sudah didirikan. Empat purwarupa pun sudah dibuat dengan menghabiskan dana sekitar Rp40 juta.

"Harga jual tentu dibawah harga prototype. Saat ini sudah ada rumah sakit yang mau menggunakan HooHaa, makanya kami tengah mencari donatur agar mesin ini bisa kami sumbangkan ke rumah sakit," papar Hengky.

Sedangkan sebelum memasuki fase produksi, HooHaa akan mengikuti proses uji klinis oleh tim dokter, khususnya spesialis anestesi di rumah sakit. Rencananya, uji klinis akan dilakukan di RS Immanuel Bandung. Begitu nanti lolos uji klinis, pengajuan izin edar akan dilakukan agar bisa masuk tahap produksi.

"Proyeksinya dengan kemampuan kami bisa mencapai 1.000 unit setiap bulan. Kamu sudah menghitung persiapan, perlu tiga pekan dari perakitan sesuai ketersediaanbahan baku," pungkas Hengky.

Foto: HooHaa Bridge Ventilator/dok. PT. Asia Rekacipta Manufaktur


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler