Cerdik Memanfaatkan Teknologi ala Pengusaha Batik di Pati

Pati - TemanBaik, pandemi COVID-19 berdampak besar pada sektor usaha. Banyak pelaku usaha yang kesulitan menjalankan bisnisnya, bahkan ada yang gulung tikar.

Kondisi ini juga dialami para perajin batik di Pati Jawa Tengah, khususnya di pasar batik Kecamatan Juwana. Mereka merasakan beragam kesulitan. Salah satunya dirasakan Tamzis Al Anas, perajin batik di Kecamatan Juwana.

Ia merasakan penurunan penjualan hingga 95 persen selama pandemi. Itu jelas kondisi tak menguntungkan. Ia bahkan sampai harus merumahkan sebagian banyak pekerjanya.



Namun, Tamzis tak menyerah, berbagai cara ditempuh. Sehingga, secara perlahan usahanya bisa kembali bergeliat di tengah pandemi. Salah satunya beralih memasarkan produk menggunakan sistem daring atau online.

Ia kerap memanfaatkan jaringan daring yang menghadirkan banyak orang, mulai dari webinar, Zoom, Google Meet, dan lainnya. Hasilnya, ia bisa bertemu banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia dan memasarkan produknya secara lebih luas.

"Ada banyak informasi, kegiatan yang kita harus kuatkan untuk kualitas produksi, kualitas kompetensi, dan kualitas pemasaran di saat pandemi ini. Kita buat pasar online atau virtual," ujar Tamzis di laman resmi Pemprov Jawa Tengah.

Baca Ini Juga Yuk: Pasar Pintar Mudahkan Warga Bandung Belanja dari Rumah

Secara perlahan, aktivitas berbisnis menggunakan jaringan daring itu menemui titik terang. Pesanan daring mulai berdatangan. Sehingga, pekerja yang sempat dirumahkan kembali dipekerjakan.

Bahkan, agar pemasaran daring yang dilakukannya berjalan lebih baik, ia menempatkan orang khusus menjadi admin. Sehingga, pesanan yang masuk secara daring bisa terlayani dengan baik. Usaha batiknya pun benar-benar bergeliat kembali berkat pemanfaatan teknologi.



Punya 400 Motif
Tamzis sendiri memiliki usaha Yuliati Warno Batik. Ia mengenyam berbagai ilmu seputar dunia batik di berbagai daerah, di antaranya Yogyakarta, Surakarta, dan Pekalongan. Kekayaan ilmu ini pun sangat bermanfaat untuk perjalanan bisnis Tamzis.

Namun, ada ciri khas tersendiri yang ditonjolkan Tamzis melalui batik khas Pati. Pada batik klasik, warnanya lebih gelap, misalnya motif Sidoasih, bunga mawar, dan kedelai kecer.

Ada juga batik kontemporer seperti gradasi warna yang kekinian dengan warna cerah. Biasanya, pelanggan batik ini adalah kalangan generasi milenial. Selain sedap dipandang, ada filosofi tersendiri dari motif tersebut, yaitu simbol keberhasilan dan kerja sama.

Selain itu, ada juga motif lokal atau ikon yang mengangkat potensi lokal Kecamatan Juwana. Misalnya motif ikan bandeng yang melambangkan kemakmuran warga sekitar. Ada juga motif udang windu dan udang vaname yang diangkat sebagai salah satu kebanggaan pesisiran, motif biota laut, hingga motif kapal.

Tamzis pun sudah mendaftarkan hak cipta ke HAKI atas batik yang diproduksinya. Sampai saat ini, dari usaha yang dirintisnya itu sudag ada sekitar 400 motif yang diciptakan. Menariknya, dari satu motif saja bisa menghasilkan 80 varian atau ragam warna.

Ia sendiri mengkau kesuksesan dan jalannya usaha yang dirintis tak bisa berdiri sendiri. Ada peran banyak pihak di dalamnya. Salah satunya tentu peran pemerintah yang membantu promosi, pengaturan usaha, pendidikan, sampai pendampingan sertifikasi profesional.

"Pemerintah sangat mendukung pengusaha batik," pungkas Tamzis.

Foto: dok. Diskominfo Jawa Tengah
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler