Mahasiswa Unpad Gagas Ide Plastik untuk Jenazah COVID-19

Bandung - TemanBaik, pemulasaran jenazah pasien COVID-19 diperlakukan berbeda dengan jenazah lain pada umumnya. Jenazah pasien COVID-19 dibungkus plastik saat dimakamkan.

Hal ini dilakukan untuk mencegah berbagai kemungkinan negatf, terutama penularan COVID-19. Namun, hal ini memiliki persoalan tersendiri. Sebab, plastik merupakan bahan yang sulit diurai dalam tanah.

Butuh waktu paling cepat 100 tahun agar plastik bisa diurai tanah. Jika jenzah COVID-19 terus bertambah, maka potensi pencemaran lingkungan semakin bertambah.

Situasi itu memantik tiga mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad) mencari solusi. Mereka adalah Adira Rahmawaty, Muhammad Ilfadry Rifasta, dan Salsa Sagitasa. Ketiganya menggagas ide mengembangkan plastik ramah lingkungan untuk membungkus jenazah pasien COVID-19.

Plastik ramah lingkungan ini terbuat dari pati singkong. Pati singkong sendiri terbukti sebagai bahan plastik paling bagus dan mudah terurai. Sejumlah literatur dan jurnal pendidikan yang sudah ada pun banyak yang mengungkap hal itu.


Baca Ini Juga Yuk: Bio Farma Pastikan Harga Vaksin Terjangkau Oris Riswan Budiana

Plastik pati singkong akan terurai dalam waktu 12 hari untuk ukuran 1 milimeter. Jika diasumsikan penggunaan plastik untuk membungkus jenazah 2 meter, hanya diperlukan waktu enam bulan untuk terurai di tanah.

Berdasarkan gagasan Adira dan dua rekannya, pembuatan plastik pati singkong untuk pembungkus jenazah COVID-19 ini hampir sama dengan pembuatan plastik ramah lingkungan pada umumnya. Pati singkong dicampur sejumlah komposisi kitosan sebagai plasticizer.

Campuran ini kemudian akan dipanaskan dengan suhu tinggi agar menjadi tercampur dan cair. Cairan ini lalu dituangkan ke dalam cetakan dan dikeringkan dalam oven selama 24 jam. Selanjutnya, material didingankan oleh desikator dan dibiarkan sampai terbentuk film plastiknya.

Di Indonesia, menurut Adira, sudah ada produk plastik ramah lingkungan berbahan pati singkong dan digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Namun, plastik tersebut rata-rata rapuh dan mudah sobek.

Adira dan dua rekannya pun menambahkan zat tambahan untuk menutup kelemahan plastik ramah lingkungan tersebut. Zat tambahan yang digunakan dalam komposisi kitosan antara lain gliserol, sorbitol, aloe vera, dan minyak kayu manis.

Dilansir dari laman unpad.ac.id, gagasa Adira dan dua rekannya ini berhasil menyabet peringkat ketiga pada ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Online Tingkat Nasional (LKTI OTN) 2020 yang digelr Universitas BRawijaya beberapa waktu lalu.

Karena masih berupa gagasan, Adira dan timnya berharap ada tindak lanjut. Ide itu pun diharapkan digunakan untuk pembungkusan jenazah COVID-19.

"Harapan kami tentunya bisa dilakukan penelitian lebih lanjut dan bisa diimplementasikan untuk mengurangi kerusakan lingkungan," kata Adira.

Foto: Ilustrasi Pexels/Cottonbro

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler