BMKG Punya 31 'Mata-mata' di Jabar untuk Awasi Sesar Aktif

Bandung - TemanBaik, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) punya cara khusus dalam memantau sesar aktif. Di Jawa Barat misalnya, BMKG menugaskan banyak "mata-mata" di berbagai titik.

"Mata-mata" yang dimaksud adalah sensor seismograf. Alat ini berguna untuk memantau aktivitas sesar di suatu wilayah. Ke-23 sensor seismograf itu tersebar di berbagai titik se-Jawa Barat.

Yang teranyar adalah dipasangnya sensor seismograf di Desa Cijengkol, Kecamatan Serangpanjang, Kabupaten Subang. Alat ini secara resmi beroperasi mulai Kamis (19/11/2020).

Pada 2020, sensor seismograf di Desa Cijengkol itu adalah satu-satunya yang dipasang di Jawa Barat. Sementara sebelumnya, pada 2019, BMKG sudah membangun 22 sensor seismograf.


                                                                           Foto: dok. BMKG

Sebelum 2019, BMKG juga sudah menempatkan sensor seismograf di delapan titik. Dengan begitu, total kini ada 31 sensor seismograf yang sudah terpasang di berbagai lokasi di Jawa Barat.

Dengan banyaknya sensor seismograf yang sudah terpasang, monitoring sesar aktif di Jawa Barat diharapkan lebih baik dan lebih akurat. Sebab, Jawa Barat memiliki cukup banyak sesar aktif. Beberapa di antaranya adalah Sesar Baribis, Sesar Garsela, Sesar Cipamingkis, Sesar Cimandiri, Sesar Citarik.

Baca Ini Juga Yuk: Kenalan dengan 'Si-Monic', Gelang Canggih Buatan LIPI

Di luar itu, ada sesar mikro lainnya yang belum teridentifikas dan terpetakan. Selain itu, Jawa Barat juga memiliki ancaman sumber gempa potensial yaitu zona megathrust di Samudera Hindia.

"Keberadaan sensor seismograf di Jawa Barat sangat penting karena wilayah Jawa Barat merupakan salah satu wilayah yang sangat aktif gempa bumi di Indonesia," kata Deputi Bidang Geofisika BMKG Dr. Muhamad Sadly, M.Eng.

Ke depan, penambahan sensor aktif akan terus dilakukan. Tak hanya di Jawa Barat, penambahan sensor ini juga bakal dilakukan di daerah Indonesia lainnya.

"Ke depannya kami akan terus berusaha menambah sensor yang akan tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sehingga dengan semakin rapatnya jaringan sensor seismograf akan dapat meningkatkan akurasi dan ketepatan parameter gempa bumi," jelas Sadly.

Meski alat pemantau gempa bumi dan sesar aktif kini jumlahnya sudah banyak di Indonesia, termasuk Jawa Barat, ia berharap ada bisa diimbangi pemerintah daerah. Pemerintah daerah diharapkan bisa melakukan upaya mitigasi gempa seperti membangun bangunan tahan gempa, memahami cara selamat saat menghadapi gempa, dan perlunya latihan evakuasi gempa bumi.

Dengan cara ini, masyarakat juga diharapkan memiliki kesadaran akan pentingnya memiliki pengetahuan seputar potensi bencana gempa bumi, termasuk cara mengatasinya dan menghindarinya. Sehingga, masyarakat bisa menghindari menelan informasi palsu atau hoaks seputar kebencanaan.

Secara khusus, Sadly mengingatkan masyarakat agar hanya mencerna informasi dari sumber resmi seputar kebencanaan atau dari sumber resmi lainnya. "Percayakan informasi gempa hanya dari BMKG karena saat ini informasi gempa bumi mudah dilihat secara langsung di aplikasi InfoBMKG dan WRS mobile BMKG, serta akun Instagram, Facebook, dan Twitter resmi BMKG," pungkasnya.

Foto: Ilustrasi Freepik

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler