Mengenal Teknologi Penghancur Jarum Suntik Buatan LIPI

Bandung - TemanBaik, pandemi COVID-19 berdampak pada meningkatnya limbah medis. Sebab, penggunaan alat medis bertambah signifikan seiring dengan penanganan pasien COVID-19, termasuk pemeriksaan.

Salah satu limbah medis yang terbanyak adalah jarum suntik sekali pakai. Sebab, penggunanya sangat banyak, mulai dari puskesmas, klinik, laboratorium, dan tentunya rumah sakit. Jarum suntik sekali pakai ini digunakan mulai untuk pengambilan darah, pemberian infus, anestesi, hingga vaksinasi.

Jarum suntik sendiri termasuk kategori limbah infeksius atau B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya). Karena itu, perlu penanganan tepat untuk menghindari risiko jadi sarana penyebaran penyakit berbahaya, digunakan ulang, hingga mencemari lingkungan.

Menyikapi kondisi itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui koordinasi Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) mengembangkan alat penghancur jarum suntik (APJS) generasi kedua.

Inovasi pada APJS generasi kedua ini ada para metoda elektroda geser dan sistem 'self-heating' untuk mengancurkan bagian metal jarum suntik, serta merusak tabung jarum agar tidak dapat dipergunakan kembali.

"Niat kami ingin berkontribusi pada penanganan COVID-19, termasuk efek yang ditimbulkan, yaitu limbah medisnya," ujar Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro di laman resmi LIPI.



Foto: dok. LIPI

Baca Ini Juga Yuk:
Bela Negara Lewat Belanja ala PNS Jabar


Dengan hadirnya APJS generasi kedua ini, ia berharap bisa secepat mungkin menghilangkan limbah jarum suntik. Sehingga, tidak akan lagi limbah jarum suntik yang berpotensi menghadirkan dampak buruk bagi lingkungan dan manusia.

Sebelum APJS generasi kedua lahir, LIPI sudah berinovasi menghadirkan APJS generasi pertama pada 2008 silam. Alat itu kemudian dilisensikan oleh industri. Sebab, LIPI hanya berfokus pada riset dan tidak masuk ke ranah industri. Hal ini juga berlaku untuk produk riset lainnya.

"Sekarang kami tidak hanya melisensikan terkait terkait kekayaan intelektual yang sudah jadi, tetapi mengajak mitra industri untuk masuk di dalam prosesnya, contohnya riset ventilator," jelas Kepala LIPI Laksana Tri Handoko.

LIPI sendiri mengajak berbagai instansi, industri, hingga masyarakat untuk bekerja sama mengembangkan dan memanfaatkan hasil-hasil riset LIPI seperti APJS generasi kedua tersebut dalam upaya mengatasi limbah medis COVID-19. Dengan begitu, hasil riset bisa diaplikasikan dan bermanfaat untuk banyak orang.

Foto: Ilustrasi/Mykenzie Johnson

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler