Inovasi I-Mask dari ITS yang Bikin Makin Sadar Bermasker

Surabaya - Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali bikin inovasi keren. Mereka baru saja membuat sebuah sistem pendeteksi masker yang diberi nama 'I-Mask'.

Lahirnya I-Mask dibidani oleh Rahmadilla Primasiwi Nugraha, Ilul Rohman, dan Hartandi Wisnumukti dari Departemen Teknik Elektro, serta Irfan Dhiarinda Hamdi dan Rizqullah Fadhil Rafi dari Departemen Teknik Komputer. Sistem pendeteksi ini dibuat dengan menggunakan Machine Learning dan terintegrasi dengan Internet of Thing (IoT) untuk memantau penggunaan masker di suatu tempat.


Rahmadilla Primasiwi atau akrab disapa Dilla selaku ketua tim I-Mask menyebut ide pembuatan I-Mask berkaca pada data korban virus korona di Indonesia yang terbilang tinggi. Data tersebut menjadikan penggunaan masker saat ini sangat penting karena dapat memproteksi diri dari penyebaran virus.

Ia kemudian melanjutkan cara kerja I-Mask itu sendiri diawali dari proses pendeteksian oleh sistem apakah orang tersebut mengenakan masker atau tidak. Video deteksi ini nantinya akan terkirim ke sebuah server penyimpanan yang terintegrasi dengan sebuah aplikasi. Alhasil, orang yang tidak mengenakan masker akan terdeteksi dan tidak dapat memasuki ruang yang dirancang terintegrasi dengan pintu otomatis.

"Jadinya pintu hanya terbuka bagi yang memakai masker dan alarm berbunyi bagi yang terdeteksi tidak memakai masker," terangnya.

Baca Ini Juga Yuk: Tinggal di Desa, Rejeki Kota, Bisnis Mendunia Lewat Shopee Center


Selain itu, masih ada beberapa fitur yang memberikan informasi mengenai kondisi suatu tempat. Mulai dari jumlah pengunjung, laporan mingguan dari jumlah pengunjung tempat tersebut, lokasi sistem I-Mask terpasang, pemberitahuan langsung (live update) dari kamera, hingga data statistik yang menunjukkan kondisi dari tempat tersebut. Dengan begitu, pengunjung bisa tahu apakah tempat tersebut telah memenuhi standar protokol kesehatan atau belum.

Keunggulan lainnya dari alat ini antara lain dapat memudahkan dalam monitoring penggunaan masker di suatu tempat. Selain itu, harga produksi dan perawatan dari I-Mask tidak terlalu mahal, waktu operasi sistem 24 jam sehingga pemantauan datanya yang sesuai waktu (real time), hemat ruang dan sangat praktis. 

"Berbagai keunggulan tersebut yang menjadikan inovasi I-Mask belum dimiliki oleh gagasan inovasi sejenis lainnya," ujar mahasiswi angkatan 2018 ini.

Gagasan keren Mahasiswa ITS ini juga membuahkan prestasi ciamik. Ya, riset berjudul "I-Mask: Mask Detection System using Machine Learning and Integrated with IoT for Monitoring the Use of Masks in a Place" dengan sukses mengantarkan tim yang dibimbing oleh Arief Kurniawan ST., MT. ini sebagai juara pertama pada International IoT Challenge 2021. Dalam acara tersebut, tim I-Mask berhasil menyingkirkan 79 inovasi dari seluruh dunia sekaligus mengungguli King Mongkuts Institute of Technology Ladkrabang dari Thailand yang dinobatkan sebagai juara kedua.

Sebagai pamungkas, Dilla berharap inovasi buatannya bersama teman-temannya ini dapat dilakukan pengembangan lebih lanjut agar inovasi ini bisa lebih sempurna. Dengan begitu, hasil inovasinya dapat benar-benar diproduksi untuk membantu bangsa Indonesia dalam menekan angka penyebaran virus korona.

TemanBaik, hadirnya berbagai inovasi ini enggak bakal jadi apa-apa kalau kita masih tetap abai protokol kesehatan. Maka dari itu, jangan kendorkan protokol kesehatannya ya. Pakai maskermu, terlebih apabila kamu sedang berada di tengah kerumunan.

Foto: Dok. Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler