Inovasi Keren Plepah, Ubah Pinang Jadi Wadah Makanan Kece

Bandung - TemanBaik, pernah jajan makanan dan jajananmu dibungkus gabus sintetis (styrofoam) kan? Nah, sadar enggak kalau kamu jajan makanan dengan wadah styrofoam, kamu menyumbang 18 juta sampah bungkus makanan sekali pakai per harinya?

Berkaca dari data tersebut, tiga pemuda dengan latar belakang desain produk kemudian coba menghadirkan inovasi dengan nama Plepah. Ya, mereka memanfaatkan pelepah pohon pinang sebagai pengganti peran bungkus makanan sekali pakai seperti styrofoam atau plastik.

Saat berbincang dengan kami,  Almira Zulfikar dan Rengkuh Banyu selaku Co-Founder mengisahkan sedikit perjalanan Plepah dari mulai berdiri pada akhir 2018 hingga saat ini. Oh ya, sebagai informasi, seorang lagi Co-Founder mereka adalah Alan Makarim.

Produk andalan mereka selain wadah makanan (food container) yang biasanya kita jumpai berbahan baku styrofoam, Plepah juga coba menghadirkan piring dari bahan baku pelepah pinang.


Baca Ini Juga Yuk: 'Mo-Ma-Daq', Kursi Kekinian yang Sesuai Protokol Kesehatan

Ketiganya memilih pinang sebagai material utama produk inovasi ini karena kesediaannya yang dianggap melimpah, khususnya di wilayah Sumatera. Material ini dikembangkan tanpa menggunakan campuran kimia sama sekali. Namun luar biasanya, produk inovasi Plepah boleh jadi salah satu dobrakan yang hebat.

Selain ramah lingkungan, food container buatan mereka juga nampak elegan secara visual dan tahan air. Oh ya, food container ini bisa menahan panas hingga 200 derajat celsius, sehingga bisa kamu masukkan ke dalam oven. Selain itu, jika kamu membuangnya usai digunakan, maka produk ini akan hancur dalam 60 hari di tanah.

Almira menjelaskan, produk ini juga bisa digunakan berkali-kali dengan perawatan yang benar. Ia merekomendasikan food container ini digunakan untuk makanan kering. Meski begitu, bukan berarti makanan basah atau berkuah tidak cocok dengan food container ini. Selain itu, metode pencuciannya jangan disamakan dengan kamu mencuci piring kaca.

"Bisa dipakai berulang kali kalau untuk makanan kering. Cukup dibilas air dan langsung dikeringkan," terangnya.

Mereka mengaku, produk Plepah ini menyasar para pelaku industri makanan (food & beverages). Jakarta adalah sasaran penjualan nomor satu mereka saat ini. Mereka juga menjualnya secara ritel, sehingga kamu bisa menjumpainya di toko digital seperti Tokopedia, atau di Tokopong.

Harga wadah makanan Plepah memang dibanderol cukup tinggi. Kamu bisa membandingkannya sendiri, dengan mengecek harganya di Tokopedia atau di Tokopong dengan memasukkan kata kunci 'plepah'. Namun, dibanding dampak kerusakan lingkungan yang mengancam di depan mata, harga itu rasanya enggak seberapa.

Berdayakan Petani Lokal
Selain isu lingkungan, Plepah juga fokus memberdyakan petani lokal. Pelepah pinang yang awalnya hanya limbah, kemudian menjadi sesuatu yang juga besar.

"Kita mendorong petani untuk berinovasi dengan komoditas yang sebetulnya sudah ada di depan mata mereka," ujar Rengkuh.

Mereka bekerja sama dengan Koperasi Mendis Maju Bersama, sebuah koperasi petani di Desa Mendis, Musi Banyuasin. Potensi petani-petani ini kemudian diakselerasi dengan wawasan produksi yang lebih keren.

Pengembangan produk Plepah dilakukan di tiga titik: Jakarta, Bandung, dan Musi Banyuasin. Jakarta diplot sebagai kantor mereka dan sasaran pasar (target market), Bandung sebagai ruang riset, serta Musi Banyuasin sebagai tempat produksi.

Kemandirian produksi Plepah juga bisa tercermin dari proses riset yang mereka lakukan. Bahkan, mereka membuat sendiri mesin pencetak pelepah pinang menjadi wadah makanan ini. Mesin pencetak ini kemudian dirancang dan disesuaikan dengan kapasitas yang tersedia di tempat produksi, Musi Banyuasin. Almira menyebut, tujuan dari penyesuaian itu agar para petani di tempat produksi juga bisa mengelola sendiri mesin pembuat wadah makanan ini, sehingga tidak bergantung pada teknisi di Jakarta atau Bandung.

Berkat inovasi kerennya selama hampir tiga tahun ini, belakangan produk mereka dilirik oleh Kemenparekraf RI untuk menjadi salah salah satu alternatif food container di tempat-tempat makan atau resto di area wisata. Saat ini mereka diproyeksikan mengisi lima pos di area pariwisata yang ditargetkan Pemerintah. Wah, keren sekali!

Kelola Limbah Agrikultur
Setelah berhasil menyulap pelepah pinang menjadi produk alternatif pengganti wadah makanan, saat ini tim Plepah sedang mengembangkan riset untuk mengelola limbah agrikultur. Rengkuh menyebut bukan mustahil di masa yang akan datang, limbah agrikultur lainnya seperti pelepah pohon pisang dapat menjadi material baru untuk produknya ini.

"Pohon pisang, jerami, tebu, kelapa. Material ini bisa dikembangkan jadi produk yang sustainable," terang Rengkuh.

Ketiga pendiri Plepah menyadari, tantangan yang mereka hadapi memang enggak mudah. Namun, mereka tetap optimis pada tahun 2025 mendatang, produknya ini bisa menjadi pilihan alternatif baru buat wadah jajananmu.

Saat ini, mereka menyusun inovasi produk baru seperti gelas, botol minuman, dan kemasan yang bisa dilipat. Mereka juga sedang meningkatkan jumlah produksi dan coba meraup pasar yang bisa menyerap produk ini.

Sebagai penutup, Almira dan Rengkuh menyimpulkan jika gaya hidup ramah lingkungan dan berkelanjutan (sustainable) belum bisa dilakukan secara maksimal di Indonesia karena belum banyaknya pilihan produk bagi konsumennya. Mereka juga mendorong para pelaku, desainer, dan kreator untuk sama-sama bikin ide dan inovasi baru untuk menjawab tantangan bersama.

TemanBaik, sudah siap berpindah ke gaya hidup sustainable? Nah, kamu bisa memulainya dengan meninggalkan produk kemasan sekali pakai. Sebagai bahan referensi, kamu bisa melihat-lihat akun Instagram @plepah_id, atau memantau produk mereka di toko digital.

Foto: Istimewa/Dok. Plepah

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler