Ciptagelar Punya Sekolah Internet Komunitas Pertama di Indonesia

Sukabumi - TemanBaik, saat ini internet sudah menjadi kebutuhan tiap orang, termasuk di desa terpencil. Menjawab tantangan itu, ada Sekolah Internet Komunitas nih di Kampung Adat Ciptagelar, Sukabumi, Jawa Barat.

Dalam acara Rural ICT Camp 2021, Common Room berkolaborasi dengan sejumlah pihak seperti pemerintah Inggris melalui British Embassy Jakarta dan pihak lainnya mendirikan Sekolah Internet Komunitas pertama di Indonesia.

Meski ekspansi internet ke wilayah terpencil di Indonesia bukan pertama kali dilakukan, namun hadirnya Sekolah Internet Komunitas ini jadi jalan pembuka bagi saudara-saudara kita yang belum bisa menikmati internet.

Sebab, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebut dari total 275 juta penduduk Indonesia, pengguna internet berada pada angka 200 juta. Artinya, ada 75 juta saudara kita yang belum kebagian akses internet secara proporsional.

Soal pengembangan internet di Kampung Ciptagelar, Gustaff Hariman Iskandar selaku Direktur Common Room menceritakan perjalanan masuknya akses internet ke lokasi. Sejak 2013, Common Room sudah sering bolak-balik ke Ciptagelar untuk mewujudkan hadirnya internet di kampung adat ini.

Baca Ini Juga Yuk: Rural ICT Camp 2021 Ajak Warga Desa Melek Teknologi

Pada awal kehadirannya, internet di Ciptagelar didistribusikan lewat jaringan radio. Hal ini dilakukan mengingat tingginya biaya penerapan metode Open BTS. Setelah berhasil dengan eksperimennya pada 2018, pengembangan dan inovasi terus dilakukan hingga berdirinya Sekolah Internet Komunitas ini.

"Hadirnya Sekolah Internet Komunitas merupakan upaya pengembangan internet dari komunitas, oleh komunitas, dan untuk komunitas. Nanti hasilnya akan dirasakan oleh komunitas itu sendiri dan lebih luas oleh masyarakat," ujar Gustaff.

Peluncuran Sekolah Internet Komunitas di Ciptagelar dihadiri pula Erni Sulistiowati selaku Kepala Sekolah Internet Komunitas, Premana Wardayanti Premadi, Ph.D selaku Kepala Observatorium Boscha, serta Dinita Andriani Putri selaku Advisor Sekolah Internet Komunitas yang juga merupakan bagian dari Luminate Group. Acara ini membahas bagaimana peran Sekolah Internet Komunitas bisa menjadi akses meningkatkan pengetahuan masyarakat.

Kehadiran internet di Kampung Ciptagelar saat ini sudah menjangkau 29 dusun dengan total pengguna 800 hingga 1.000 orang per hari. Ini tentu berbanding lurus dengan upaya edukasi seputar literasi digital. Sebab, kehadiran teknologi tanpa pendampingan yang tepat dikhawatirkan memicu terjadinya potensi yang tak diinginkan.

Terkait hal ini, Erni Sulistiowati selaku Kepala Sekolah Internet Komunitas menyebut pendekatan serta edukasi seputar literasi digital kepada seluruh lapisan masyarakat jadi kunci sukses pemberdayaan akses teknologi bagi desa terpencil. Ia menyebut metode pendekatannya ini dengan slogan 'Mendampingi Desa dengan Hati, Tidak dengan Caci'.

"Setelah infrastrukturnya ada nih, terus mau diapain? Nah, oleh karena itu, salah satu cara merawat (infrastruktur) ini dengan edukasi. Di beberapa titik sebelumnya, kami melakukan pendekatan dengan masyarakat mulai dari lingkungan, aparatur, Ibu-ibu PKK, sampai pemuda lewat Karang Taruna," paparnya.

Berkaca dari pengalamannya menghidupkan akses internet di berbagai desa terpencil, Erni optimistis edukasi yang dijalankan maksimal bisa membuat internet bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, edukasi ini berguna membuka mata warga desa terpencil agar tidak mudah percaya dengan banyaknya sumber pemberitaan tidak valid alias hoaks.

Kehadiran internet di Kampung Ciptagelar disambut baik berbagai lapisan masyarakat, termasuk Kepala Adat Kasepuhan Ciptagelar Abah Ugi Sugriana Rakasiwi. Dalam keterangan terpisah, ia menyambut hangat kegiatan Rural ICT Camp 2021.

Menurutnya, kegiatan ini bermanfaat besar bagi masyarakat adat. Abah Ugi pun berharap pengembangan internet bisa memasuki lebih banyak lagi kampung adat dan desa terpencil.

"Semoga tidak hanya di kalangan masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar, tetapi seluruh masyarakat adat di Indonesia. Semoga ke depannya pemanfaatan teknologi baru dapat diintegrasikan dengan kehidupan masyarakat adat, sehingga kita dapat memanfaatkan teknologi baru tersebut tanpa kehilangan budaya, tradisi adat dan identitas kita," ujarnya.

Baca Ini Juga Yuk: Inovasi Mahasiswa ITS Bikin Limbah Air Wudu Lebih Bermanfaat

Pihak Kasepuhan Ciptagelar juga mendampingi kehadiran internet dengan sejumlah aturan adat. Sehingga, pengguna internet di kampung adat ini dijamin tak akan menyalahi nilai-nilai luhur yang telah diwariskan. Hal ini juga yang sempat diutarakan Yoyo Yogasmana selaku Juru Bicara Kasepuhan Ciptagelar dalam jumpa pers peluncuran program Rural ICT Camp di Bandung, belum lama ini.

“Kami enggak takut (akan pergeseran nilai adat) sebab kami punya aturan-aturan keadatan yang juga tidak bisa dilangkahi. Ketika (penggunaan teknologi) keluar dari trek yang seharusnya, ada nilai adat yang bakal mengontrol diri penggunanya,” ujar Yoyo.

TemanBaik, pemerataan akses internet di seluruh wilayah Indonesia perlu kita sambut gembira. Dengan hadirnya internet, kita bisa terhubung dengan siapapun saudara kita yang tinggal di desa terpencil. Seru bukan?

Oh ya, gelaran Rural ICT Camp masih berlangsung hingga tanggal 23 Oktober 2021 mendatang loh! Kamu bisa mengeceknya lewat Instagram @commonroom_id.


Foto: Tangkapan Layar Siaran Rural ICT Camp 2021


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler