Kilas Balik Jalan Braga, Jalan Paling Eropa se-Hindia Belanda

Bandung - TemanBaik ada yang tahu Jalan Braga di Kota Bandung? Jalan ini sangat identik dan cukup dikenal banyak orang. Jalan ini juga dikagumi karena masih banyak terdapat bangunan sisa zaman penjajahan kolonial Hindia Belanda.

Saat ini, Jalan Braga jadi area pertokoan yang menjual aneka makanan, kantor, tempat hiburan, lukisan, hingga pakaian. Lalu, bagaimana Jalan Braga di zaman penjajahan?

Jalan Braga di masa lalu adalah pusat keramaian. Jika menggunakan istilah masa kini, Jalan Braga adalah tempat paling gaul dan kekinian di masanya. Di sana terdapat berbagai aktivitas mulai dari perniagaan, kuliner, salon, butik, hingga perbankan. Jalan itu bahkan di zamannya dijuluki 'Jalan Paling Eropa se-Hindia Belanda'.

Bahkan, hari ini 'rasa' Eropa masih kental kok jika TemanBaik berkunjung ke sana. Salah satunya karena bangunan khas Belanda masih banyak yang berdiri tegak.

Menurut pegiat Komunitas Aleut Ariyo Wahyu Widjayadi, secara kasat mata aktivitas di Jalan Braga masa lalu dan kini tidak berbeda jauh. Tapi, di masa lalu jauh lebih ramai dibanding sekarang karena benar-benar pusat berbagai aktivitas.

Saat masa penjajahan, tidak semua orang bisa masuk ke Jalan Braga. Sebab, jalan itu benar-benar merupakan kawasan ekslusif. Hanya orang tertentu yang bisa masuk dan beraktivitas di sana, khususnya orang-orang Eropa dan golongan kelas atas.

Baca Ini Juga Yuk: de Braga ARTOTEL, Hotel Rasa Galeri Seni di Kota Bandung

Sisi kelamnya, kaum pribumi tak bisa masuk ke Jalan Braga. Bahkan, ada cerita yang menyebutkan jalan itu tak boleh dimasuki anjing dan kaum pribumi.

"Walaupun enggak ada bukti kongkritnya, tapi katanya ada informasi yang menyebut di Societiet Concordia ada plang terlarang buat anjing dan pribumi masuk (ke Jalan Braga)," kata Alex, sapaan akrabnya, kepada Beritabaik.id.

Gedung Societiet Concordia sendiri sudah berganti nama menjadi Gedung Merdeka. Gedung ini pernah dipakai menjadi tempat digelarnya Konferensi Asia Afrika pada 1955. Lokasi gedung ini berada di dekat pertigaan Jalan Braga-Jalan Asia Afrika.

Di zaman penjajahan, masuk ke Jalan Braga tergolong hal mustahil bagi pribumi. Kalaupun bisa masuk, pribumi itu bukan orang sembarangan. Bahkan, orang pribumi merasa was-was jika melintas di dekat Jalan Braga. Sebab, secara psikologis mereka sudah 'tertekan' oleh plang larangan dan perlakuan rasial saat itu oleh para penjajah.

"Yang bisa masuk ke sana hanya orang kulit putih. Orang Indonesia kalau enggak punya hak, enggak bisa masuk. Yang lewat (di sekitar Jalan Braga) pun was-was," jelas Alex.

Kisah kelam di masa kolonial itu pun membuat Presiden Soekaro gusar. Ia berusaha menghapus stigma dan kenangan buruk di Jalan Braga. Penggantian nama Gedung Societiet Concordia pun dilakukan.

"Salah satu alasan di balik penggantian nama Societiet Concordia itu untuk menghilangkan (bayang-bayang) pengaruh rasial itu, kenangan-kenangan di masa itu. Makanya diganti jadi Gedung Merdeka," ungkap Alex.

Secara perlahan, citra pun berubah. Gedung Merdeka kini jadi simbol penting bagi dunia internasional usai digelarnya Konferensi Asia Afrika pada 1955. Dari konferensi itu, banyak negara di Asia dan Afrika yang akhirnya merdeka.

Sementara itu, Jalan Braga masih tetap bertahan sampai kini. Tempat itu jadi salah satu destinasi favorit wisatawan untuk dikunjungi. Deretan bangunan khas Belanda biasanya jadi latar belakang untuk berfoto.


Foto: Oris Riswan Budiana/BeritaBaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler