Kisah di Balik Batu Prasasti Halaman Gedung Sate Bandung

Bandung - TemanBaik pasti sudah tahu kan dengan Gedung Sate yang ada di Kota Bandung? Ya, gedung warisan zaman kolonial Hindia Belanda itu saat ini menjadi Kantor Pusat Pemerintahan Jawa Barat. Di tempat inilah Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil ngantor bersama para aparatur sipil negara (ASN).

Tahu juga kan bagaimana megahnya Gedung Sate yang dibangun dengan biaya 6 juta gulden dalam kurun 1920-1924 itu? Biaya 6 juta gulden itu yang menginspirasi adanya simbol tusuk sate di puncak atapnya.

Di balik kemegahan, Gedung Sate yang pernah jadi pusat pemerintahan di zaman Hindia Belanda itu ternyata punya kisah kelam. Pada 3 Desember 1945 terjadi penyerangan pasukan Gurkha. Pasukan itu didukung oleh Belanda dan Inggris dengan maksud merebut Gedung Sate.

Saat itu, euforia kemerdekaan Republik Indonesia masih sangat kental. Sehingga, serangan itu seolah membangunkan seseorang dari tidurnya secara mendadak.

Orang pribumi yang saat itu beraktivitas di Gedung Sate pun berusaha melawan. Hasilnya, Gedung Sate berhasil dipertahankan. Pasukan Gurkha pun menyingkir. Tapi, kisah kelam kemudian tersisa.

"Tujuh pegawai saat itu meninggal dunia," kata Yanto Rukmana (51), petugas Keamanan Dalam Gedung Sate sekaligus Tour Guide.


Dari tujuh orang itu, semuanya dikabarkan dimakamkan di sekitar Gedung Sate. Tiga jasad akhirnya ditemukan pada Agustus 1952 dan dimakamkan kembali di Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung. Mereka adalah Suhodo, Didi, dan Muchtarudin.

Sedangkan jenazah lainnya tetap berada di sekitar Gedung Sate yaitu Rana, Subengat, Surjono, dan Susilo. Tapi, tak diketahui pasti di mana sebenarnya lokasi makam mereka.

Singkat cerita, perjuangan itu menginspirasi pemerintah membuat prasasti untuk mengenang jasa ketujuh pejuang tersebut. Bentuknya berupa batu berukuran cukup besar. Sejak 31 Agustus 1952, prasasti itu ada di halaman belakang Gedung Sate. Tapi, mulai 3 Desember 1970 prasasti itu dipindahkan ke halaman depan.

Lokasinya persis ada di seberang pintu masuk utama Gedung Sate. Bentuknya terlihat sederhana dan hampir di sekelilingnya dipasang pagar dan rantai. Pada batu itu tertulis sepenggal kisah perjuangan dan gugurnya ketujuh orang tersebut.

Sedangkan pada bagian bawah, tertulis dalam bahasa Indonesia ejaan lama yang berarti 'Cita-citamu adalah cita-cita kami. Baktimu teladan bagi kami untuk berjuang. Bekerja membangun guna mewujudkan cita-cita Indonesia yang adil dan makmur'. Di bagian paling bawah, tergambar logo Kementerian Pekerjaan Umum dengan dominasi warna kuning-hitam.

Menurut Yanto, adanya prasasti itu seolah menjadi makam bagi mereka yang gugur karena makamnya tak diketahui keberadaannya. Sesekali, pada 3 Desember biasanya ada pihak keluarga mereka yang berkunjung dan melakukan tabur bunga.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler