Uniknya Kampung Lawas Maspati di Kota Surabaya, Intip Yuk!

Surabaya - Sebuah daerah yang terletak di Kota Surabaya mampu menunjukan bahwa kampung bisa menjadi tempat wisata untuk dikunjungi. Berawal dari partisipasi kampung ini dalam sebuah ajang perlombaan, saat itulah mulai ada niat untuk membuat tempat ini menjadi tempat wisata bertema kampung. Didukung dengan antusiasme warganya, sekarang kampung ini dapat menjadi destinasi bagi para wisatawan luar maupun dalam negeri.

Bendahara Pariwisata di kampung tersebut Feni menceritakan kalau kampung wisata ini bernama Lawas Maspati. "Pak RW kita yang termasuk bonek (sebutan fans untuk klab sepakbola Persibaya) banget, merasa capek uang yang dikeluarin banyak untuk ikutan lomba-lomba gitu. Akhirnya Pak Sabar Soeastono (Pak RW) dia punya ide karena kampung di sini banyak rumah-rumah peninggalan, kenapa enggak dibikin kampung Lawas Maspati aja namanya. Saat itu sekaligus ingin membuat kampung ini jadi tempat wisata namun bertema kampung," jelasnya kepada BeritaBaik.

Setelah melakukan beberapa proses kepada pemerintah setempat, akhirnya Kampung Lawas Maspati diresmikan pada tahun 2016 sebagai tempat pariwisata dengan tema perkampungan. Ia juga menceritakan alasan kenapa kampung ini diberi nama Kampung Maspati. "Dulu kampung ini hanya bernamakan Kampung Maspati karena dulunya kampung ini ditinggali oleh para Patih dari Kerajaan". Jadi enggak heran kalau kampung ini menambahkan kata 'lawas', karena memang sudah ada sejak jaman dulu.

Wistawan yang datang ke tempat ini biasanya akan disambut oleh warga dengan menggunakan pakaian tradisional sambil bernyanyi. Seluruh warga terlibat dari mulai anak-anak, orang dewasa, hingga lansia. "Kita melibatkan warga kampung. Misalnya untuk penyambutan, kostumnya juga mereka pakai pribadi, untuk kebersihan dan olahan khas kampung juga kita siapkan. Jadi kita menggunakan tenaga orang di sini karena melibatkan banyak warga," Kata Feni.

Baca Ini Juga Yuk: Dukung Kampung Iklim, Purwakarta Manfaatkan Tempat Sedekah Sampah

Bahkan di sini juga ada Rukun Tetangga alias RT cilik yang khusus untuk menyambut wisatawan ke Kampung Lawas Maspati. "RT kecil itu hadir supaya anak-anak cinta sama kampung. jadi saat ada tamu mereka ikut menyambut juga," jelasnya.

Kampung ini terdiri dari lima RT dan masing-masing memiliki olahan kampung tersendiri. Olahan yang dibuat di sini selain menjadi ciri khas yang bisa dikenalkan ke wisatawan, juga sekaligus untuk mengangkat perekonomian warga kampung.

Misalnya RT 1 dengan produk cincau, RT 2 khusus olahan stik lidah buaya, dan sisanya seperti semprit, wedang, minuman herbal dan markisa di RT yang lainnya. Setiap RT pun memiliki tema dan ciri khas tersendiri. Terlihat di RT 3 dengan penghijauannya, berbeda dengan RT empat yang lebih bertemakan Bonek dan RT 5 dengan tema permainan tradisional.

Ritual-ritual yang bersifat tradisional juga masih sering dilakukan. Pada malam 1 Suro para warga mengarak tumpeng untuk berkeliling, atau ritual Sedekah Bumi yang dilakukan menjelang acara pernikahan. Rata-rata warga yang tinggal di sini adalah penduduk asli yang secara turun temurun sejak dulu berada di Kampung Maspati. Pemerintah setempat pun memang menyarankan untuk tidak menjual rumah-rumah yang ada di sini karena banyak bangunan peninggalan sejarah.

Foto: Delagantika Pratiwi/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler