Sejarah di Balik Tenangnya Museum Kereta Api Bondowoso

Bondowoso - Di sudut-sudut kota Bondowoso yang tenang, ada kumpulan sejarah yang menunggu untuk disibak lebih dalam. Gedung bernama Indische Empire Style yang sangat berkembang pada abad ke-18 dan 19 yang kini menjadi Museum Kereta Api Bondowoso adalah salah satunya.

Bangunan tersebut mulai dibangun pada tahun 1893 dan masih berdiri kokoh hingga kini. Lantai, atap, dinding, hingga daun pintu dan jendelanya masih dalam kondisi sangat baik kendati usianya telah melebihi satu abad. Renovasi minor pun hanya dilakukan dua kali dalam jangka waktu sepanjang ini.

"Stasiun ini aktif sampai tahun 2004 lalu dan terpaksa berhenti beroperasi karena biaya operasional yang besar. Adapun gedung ini kemudian resmi menjadi museum di tahun 2016," ujar Sugeng Adi W., Kepala Stasiun Kereta Api Bondowoso kepada BeritaBaik.

Mengenai riwayat keberadaan Stasiun Kereta Api sendiri, Sugeng menyampaikan bahwa erat kaitannya antara fasilitas ini dan kisah memilukan pembangunan jalur Anyer-Panarukan.

"Akhir dari rute ini sebetulnya berujung di Panarukan, Situbondo. Hasil perkebunan di daerah Besuki yang cukup melimpah seperti tembakau, kopi, teh, cengkeh, tebu, kayu jati dan lain-lain diangkut menggunakan kereta untuk dikirim ke Pelabuhan Panarukan. Setelah itu, komoditas diekspor ke berbagai negara," jelasnya.

Namun, stasiun dan rel yang dibangun oleh Staatspoorwegen ini tak hanya menjadi saksi atas melimpahnya hasil bumi nusantara yang dijarah oleh kolonial. Peristiwa tragis yang dikenal sebagai Peristiwa Gerbong Maut pun dimulai dari sini.

Peristiwa Gerbong maut adalah peristiwa saat pribumi yang menjadi tahanan karena dianggap sebagai pemberontak pemerintah Belanda dibawa dari penjara Bondowoso menuju stasiun. Mereka dijejalkan ke dalam gerbong kereta yang akan membawa mereka ke penjara Surabaya yang lebih besar.

Dengan kondisi manusia yang berjubel dalam gerbong sempat dan minimnya akses pertukaran udara, keberadaan oksigen pun menjadi sangat terbatas. Seakan tidak cukup, panasnya cuaca selama perjalanan yang memakan waktu berjam-jam tersebut memperparah keadaan hingga menewaskan puluhan orang. Bahkan menurut catatan, hanya ada sepuluh orang yang masih dapat bertahan dan bergerak saat kereta sampai di tujuan.

Kronologi kisah Gerbong Maut pun dijelaskan secara cukup rinci di Museum Kereta Api Bondowoso lengkap dengan ilustrasi yang mempermudah pengunjung untuk mendapat gambaran lebih utuh dalam memahami sejarah. Selain itu, pengunjung juga dapat menemukan daftar nama tahanan tragedi Gerbong Maut yang berjumlah seratus orang.

Baca Ini Juga Yuk: Selain Gunung Ijen, Bondowoso Juga Punya 7 Tempat Wisata Keren

Koleksi yang ada di Museum Kereta Api Bondowoso sebenarnya tidak terlalu banyak, tetapi cukup lengkap dalam menggambarkan cerita yang ada di balik keberadaan Stasiun Kereta Api Bondowoso berikut sekilas riwayat mengenai Kota Tape sendiri.

Selain membaca sejarah mengenai sejarah kereta api di Indonesia termasuk Bondowoso dan beberapa peristiwa terkait, pengunjung juga akan menemukan beberapa peninggalan dan informasi seperti lampu hensen, tiket kereta api di masa lampau.

Ada juga hasil kebun Bondowoso yang menjadi incaran penjajah, deretan foto hitam-putih tentang situasi sosial dan beberapa bangunan yang masih berkaitan, hingga perkakas perbaikan kereta api yang sudah ada sejak tahun 1825.

Untuk berkunjung ke Museum Kereta Api Bondowoso, pengunjung tidak dikenakan biaya sepeser pun. Sebagai gantinya, pengunjung hanya perlu mengisi buku kunjungan yang disediakan di pintu masuk.

"Sampai saat ini, museum memang belum dikomersialkan. Namun, kami tetap melayani pelayanan pembelian tiket kereta api. Jumlah pendatang yang ada di Bondowoso juga tidak sedikit, sehingga pembelian tiket seperti rute Jember-Surabaya atau Jember-Yogyakarta pun tetap ramai. Pendapatan per bulan yang kami dapat dari penjualan tiket rute tersebut terbilang cukup besar. Artinya, animo masyarakat Bondowoso untuk menggunakan layanan kereta api pun sebenarnya cukup tinggi," jelas Sugeng.

Namun saat ditanya tentang rencana pengoperasian kembali Stasiun Bondowoso atau invoasi fasilitas pendukung museum seperti tur wisata kereta menjelajahi alam Bondowoso yang sangat cantik seperti di Museum Kereta Api Ambarawa, Sugeng tak bisa memberi terlalu banyak keterangan. Pasalnya, kebijakan tersebut bukan menjadi ranahnya.

Terlepas dari hal tersebut, Museum Stasiun Kereta Api Bondowoso tetap menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan edukasi yang layak dikunjungi saat berada di Bondowoso. Bahkan tak hanya penduduk lokal, wisatawan asing yang biasanya turun dari Kawah Ijen untuk menikmati blue fire juga menyempatkan diri singgah ke tempat ini.

Karena itu, bila TemanBaik sedang berkunjung ke Bondowoso atau sekitarnya, sempatkan diri untuk sejenak bernostalgia di Museum Kereta Api Bondowoso. Gedung pameran yang beralamat di Jalan Imam Bonjol Bondowoso ini memiliki jam operasional yang cukup panjang, yakni mulai Senin hingga Minggu pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

Nah kalau TemanBaik ingin sekaligus membeli tiket kereta api dapat dilayani di loket mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB.


Foto: Shelly Salfatira/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler