Eksotisnya Goa Liang Bua dan Jejak Manusia Purba Kerdil di NTT

Ruteng - TemanBaik tahu enggak jika di di Nusa Tenggara Timur (NTT) ada situs prasejarah yang tampilanya eksotis? Tak hanya itu, situs prasejarah ini juga meninggalkan warisan sejarah yang penting. Tak hanya penting untuk Indonesia, tapi juga sejarah peradaban dunia. Simak ulasannya yuk!

NTT sendiri memiliki warisan situs prasejarah manusia purba, tepatnya di Gua Liang Bua yang berlokasi di Ruteng, Manggarai. Tak hanya penting bagi Indonesia, situs prasejarah ini juga penting untuk dunia.

Dilansir di laman Indonesia.go.id, Goa Liang Bua ini adalah salah satu gua di bukit kapur wilayah Manggarai, NTT. Ukurannya cukup besar, yaitu panjang sekitar 50 meter, lebar 40 meter, dan tingginya 25 meter.

Baca Ini Juga Yuk: Surga Durian hingga Kafe Unik di Jember

Nama Liang Bua sendiri berasal dari bahasa Manggarai yang berati lubang sejuk. Penggalian Goa Liang Bua ini dipercaya sudah dilakukan sejak 1930-an dan hasilnya dibawa ke Leiden, Belanda. Penggalian pun terus dilakukan sejak zaman kolonial hingga kini. Tujuannya tentu untuk menemukan sisa-sisa peninggalan masa prasejarah.

"Kalau yang saya dengar dari arkeolog, umur gua ini sudah sekitar 190 ribu tahun," ungkap Joe, warga yang tinggal di sekitar Gua Liang Bua.

Goa ini diperkirakan terbentuk dari arus sungai yang mengalir dan membawa bebatuan hingga menembus gundukan bukit. Setelah proses yang berlangsung lama, bebatuan itu kemudian menjadi batuan sedimentasi.

Goa Liang Bua sendiri menjadi tempat wisata. Di sini kamu bisa melihat stalaktit cantik yang menjuntai dari langit-langit goa. Area goa juga cukup ikonik untuk dijadikan objek atau latar belakang swafoto.

Penemuan Fosil Manusia Kerdil
Gua Liang Bua sendiri pertama kali diteliti pada 1965 oleh Theodore Verhoeven, seorang misionaris Katolik asal Belanda. Penelitiannya berhasil menemukan sejumlah kubur manusia yang berasosiasi dengan artefak batu, tembikar, dan beliung persegi.

Penelitian kemudian dilanjutkan Prof. Dr. R.P. Soejono dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional RI pada 1978-1989. Oleh Soejono, ditemukan bahwa situs ini telah dihuni sejak masa prasejarah mulai dari masa paleolitik, mesolitik, neolitik, hingga paleometalik atau logam awal.

Penelitian lalu dilanjutkan Pusat Arkeologi Nasional RI dengan menggandeng University of New England (Australia) pada 2001-2004 dan Universitas Wolongong (Australia) dalam kurun 2007-2009. Pada 2010, kerjasama penelitian dilanjutkan dengan menggandeng Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonia (Amerika) dan Universitas Wolongong.

Salah satu temuan paling mengejutkan di sini adalah adanya fosil Homo Floresiensis. Manusia purba ini berukuran kerdil alias kecil yang diperkirakan berasal dari 18 ribu tahun yang lalu.

Salah satunya temuan pada 2003 silam. Fosil yang ditemukan memiliki tinggi 100 sentimeter aliat 1 meter, otak yang kecil, dan beratnya saat hidup diperkirakan hanya 25 kilogram. Fosil ini ditemukan di kedalaman 6 meter.

"Tapi bukan hanya tengkorak ini yang ditemukan. Saat itu pada kedalaman tertentu, para arkeolog juga menemukan beberapa tulang binatang purba, seperti gajah purba (stegodon), kadal, kura-kura, biawak, dan komodo," kata Joe.

Foto: dok. Indonesia.go.id
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler