Mahasiswa Unisma Berdayakan Desa Jadi Sentra Ulat Sutra

Malang - Malang memiliki sentra budidaya ulat sutra yang berlokasi di Desa Panggung Rejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Terbentuknya desa tempat budidaya ulat sutra tersebut berawal dari inisiatif Mahasiswa Universitas Islam Malang (Unisma) yang ingin memberdayakan perekonomian masyarakat setempat.

Dengan menyewa lahan kosong, sekelompok mahasiswa Unisma tersebut membuat proyek percontohan agar masyarakat berminat mengembangkan budidaya dengan prospek ekonomi tinggi.

"Kami melihat desa ini memiliki potensi alam yang cukup untuk proses perkembangbiakan ulat sutra. Beberapa rumah warga masih terdapat lahan kosong yang bisa juga digunakan sebagai tempat budidaya. Sehingga, dari situlah ide untuk mengembangkan budidaya ulat sutra," ungkap Ketua Rumah Kreatif Mahasiswa (RKM) Budidaya Ulat Sutra, Addelia Shakilla.

"Gayung pun bersambut, kami sepakat menjadikan desa Panggung Rejo dijadikan sentra budidaya ulat sutra. Dengan demikian akan mewujudkan impian menjadi desa wisata edukasi yang mendatangkan income tinggi," imbuhnya.

Addelia yang merupakan mahasiswa Fakultas Pertanian Unisma tersebut menambahkan, dipilihnya budidaya ulat sutra karena prospek ekonominya yang cukup besar.

"Sutera merupakan komoditas yang memiliki harga jual tinggi. Budidaya ulat sutra juga membutuhkan lahan atau tempat kosong yang memenuhi syarat perkembangan siklusnya. Nah, desa Panggungrejo memiliki banyak potensi alam yang dapat dimanfaatkan untuk budidaya tersebut," ujarnya.



Baca Ini Juga Yuk: Sambut Hari Anak Nasional, Tempat Wisata Ini Gratiskan Tiket

Desa Panggung Rejo tersebut memang memiliki potensi alam yang cocok untuk pertumbuhan ulat sutra. Banyak teras rumah warga yang bisa digunakan untuk budidaya ulat sutera.

Selain itu, desa tersebut juga memenuhi syarat penting sebagai sentra budidaya ulat sutra seperti kelembaban udara yang cukup, suhu yang tidak terlalu panas, hingga bebas dari hama tikus.

Addelia berceritanya, awalnya, ia dan timnya terlebih dulu mengajak sang mentor yang merupakan pelatih budidaya ulat sutra untuk mendukung kegiatan budidaya ulat sutera tersebut. Inisiasi tersebut tercetus sejak November 2019.

"Lalu, kami menemui kepala desa dan sekdes untuk meminta persetujuan dari beliau atas terlaksananya program budidaya ini. Setelah itu, kami menggandeng karang taruna dan salah satu warga sebagai awal pelatihan," paparnya.

Setelahnya, tim RKM Unisma tersebut melakukan pendampingan hingga masa panen. Satu periode panen membutuhkan waktu 21 hari.

Untuk melakukan budidaya ulat sutra, Addelia mengatakan, warga setempat perlu menyiapkan alat dan bahan untuk budidaya dan menyiapkan pakan ulat sutra seperti pohon jarak.

Setelahnya, dilakukan proses pembesaran bibit ulat sutra, lalu perawatan dengan rutin memberikan pakan dan membersihkan rak kotak ulat, hingga nantinya bisa panen kepompong ulat sutra.

Dengan budidaya ulat sutra tersebut, masyarakat di desa Panggung Rejo bisa menambah pendapatan. Dalam satu panen, masyarakat bisa mendapatkan 5 kg ulat sutra yang laku dijual sekitar Rp500 ribu.



Menurut Addelia, hingga kini, timnya masih harus melakukan pendampingan kepada masyarakat desa Panggung Rejo karena terkendala pandemi COVID-19

"Namun setelah COVID-19 nanti diharapkan pendampingan lebih efektif sampai bisa terbentuk unit usaha mandiri bagi teman-teman karang taruna di sana," tandasnya.

Dalam menjalankan misi ini, Addelia tak sendirian. Ia juga dibantu oleh teman-temannya yang lain yakni Dhea Alief Rahmasari, Santi Nur Aini, Zuhanid Zamarudah dan Valliant Mulky Azzuri, dengan bimbingan Dr Siti Asmaniyah Mardiyani, SP., MP.

Dengan budidaya ulat sutra tersebut, Addelia dan tim berharap, perekonomian warga di desa Panggung Rejo semakin meningkat, karang taruna di sana bisa semakin terbuka wawasannya.

"Dengan demikian impian untuk menjadikan Desa Panggung Rejo sebagai Desa Wisata Edukasi sudah hampir menjadi nyata,” pungkasnya.

Foto: dok. Rumah Kreatif Mahasiswa (RKM) 

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler