Menengok Eksotisme Histori Kerajaan Singosari di Candi Jawi

Pasuruan - Panjangnya sejarah nusantara menyisakan banyak bukti fisik di pelbagai sudut negeri. Di Pasuruan misalnya, terdapat beberapa peninggalan berupa candi dan arca sebagai wujud nyata jejak histori di periode Kerajaan Hindu dan Budha.

Salah satunya adalah Candi Jawi. Bangunan kuno yang didirikan pada abad ke-13 ini terletak di kaki Gunung Welirang, tepatnya di Jalan Raya Candiwates, Desa Candi Wates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.

"Candi Jawi dibuat atas perintah Raja Kertanegara, raja terakhir dari Kerajaan Singosari. Tempat ini didirikan sebagai tempat peribadatan bagi agama Hindu dan Budha. Namun saat Raja Kertanegara akhirnya wafat, sebagian abu jenazahnya, tepatnya tubuh bagian bawah, diletakkan di sini sesuai pesan sang raja. Sementara itu, sebagian abu lainnya, diletakkan di Candi Singosari yang berada di Malang," jelas juru pelihara (jupel) candi, Mutholib.

Jupel juga menjelaskan bahwa Candi Jawi telah mengalami beberapa kali pemugaran. Disebutkan bahwa kondisi Candi Jawi pernah rusak akibat tersambar petir. Peristiwa tersebut pun mengakibatkan bagian atap dan tubuh pun tidak lagi utuh. Maka dari itu, jika diperhatikan, bagian tubuh candi pun tersusun dari batu berwarna putih sebagai pengganti batu-batu yang hilang maupun rusak dan tidak dapat lagi digunakan.




Sejarah mencatat bahwa Raja Kertanegara yang tak lain merupakan mertua dari Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit merupakan penganut aliran Hindu-Budha (Syiwa-Budha) atau yang disebut Tantrayana. Jupel pun menjelaskan perwujudan aliran tersebut dalam bentuk Candi Jawi.

"Tinggi bangunan candi mencapai 24,5 meter. Kalau diperhatikan, bagian bawah candi mempunyai bentuk ramping khas candi Hindu. Sementara itu, bagian atas candi justru mempunyai lambang stupa yang tak lain merupakan khas candi Budha."

Akses masuk ke ruangan candi harus melalui tangga naik yang tidak terlalu lebar. dan cukup tinggi. Total, ada empat buah arca yang berada di susuran anak tangga. Tak lupa, kala juga berada di tepat bagian atas pintu masuk sebagai penangkal pengaruh jahat sesuai kepercayaan.

Berdasarkan kitab Nagarakretagama karya Mpu Prapanca, ada beberapa arca dewa dalam kepercayaan Syiwa yang terdapat di Candi Jawi. Namun sayangnya, kini tak ditemukan arca-arca tersebut di dalam candi. Adapun beberapa di antaranya kini tersimpan di museum.

Sementara itu, bagian luar tubuh candi dihiasi dengan relief yang sampai saat ini masih belum terpecahkan maknanya. Minimnya informasi tambahan seperti prasasti pendukung serta tidak disinggungnya soal relief di dalam Kitab Nagarakretagama dinilai sebagai alasannya. Di sisi lain, konon, pembacaan relief menggunakan teknik prasawiya, yakni membaca dengan arah yang berlawanan dengan arah jarum jam seperti di Candi Kidal. 

Pelataran Candi Jawi sendiri tetata dengan baik dan asri. Di samping rerumputan hijau yang terawat, terdapat pula kolam yang berfungsi untuk meredam guncangan jika terjadi gempa serta mengukur debit air ke lahan petani walau kini tak lagi berfungsi demikian. 

Area belakang candi pun menjadi tempat untuk menyimpan beberapa bebatuan dan arca asli candi yang tidak dapat dipasang kembali. Tak lupa, terdapat reruntuhan candi bentar yang terbuat dari batu bata merah sebagai gapura atau pintu masuk.

Candi Jawi buka setiap hari untuk umum. Selama pandemi, setiap pengunjung harus menerapkan protokol kesehatan dengan mengenakan masker, menjaga jaak, dan mencuci tangan di tempat yang telah disediakan. Jam operasionalnya pun berbeda-beda, yakni 07.30-16.00 WIB pada hari Senin sampai Kamis, 07.30-16.30 WIB pada hari Jumat, 08.00-17.00 pada hari Sabtu, Minggu, dan libur nasional. 

Pihak pengelola pun tidak mematok harga tiket khusus. Pengunjung hanya perlu mengisi buku tamu dan memberi donasi seikhlasnya.

Jadi, kapan nih, TemanBaik berkunjung ke candi eksotis dengan latar belakang pegunungan di Pasuruan ini?

Foto: dok. Shelly Salfatira
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler