Mengenal 'Derenten', Tempat Wisata Legendaris di Bandung

TemanBaik, jika kamu ke Kota Bandung, enggak lengkap rasanya jika tak mengunjungi Kebun Binatang Bandung (KBB) atau sekarang disebut Bandung Zoological Garden (Bazoga). Bahkan, bagi warga Bandung, tempat ini jelas jadi salah satu yang wajib dikunjungi.

KBB ini merupakan tempat legendaris loh di Bandung. Bahkan, banyak kakek-nenek yang pernah berkunjung ke sini saat masih anak-anak dan kini sudah punya cucu atau cicit. Itu karena KBB sudah ada sejak 1930 di zaman kolonial Hindia-Belanda.

Namun, secara resmi, KBB diresmikan pada 12 April 1933 dengan nama 'Derenten' yang merupakan bahasa Belanda untuk kebun binatang. Orang Sunda di Bandung dulu menyebutnya dengan nama Dierentuin.



Dipelopori Belanda, Sosok Penting Ema Bratakusumah
Derenten sendiri didirikan Bandung Zoological Park (BZP) yang dipelopori seorang direktur bank bernama Dennis Hoogland. Sejak awal didirikan, tempat ini memang jadi kebun binatang. Tak ada perubahan fungsi hingga kini.

"Iya, memang jadi sarana rekreasi warga. Bukan hanya buat orang Belanda, warga lokal juga boleh (berkunjung)," kata Marketing Communication KBB Sulhan Syafi'i.

Pria yang akrab disapa Aan itu mengatakan, di masa-masa awal, satwa yang ada di sana di antaranya gajah dan harimau. Bahkan, ada sisa kandang yang masih ada hingga sekarang.

"Salah satu yang sudah dibangun pada saat itu adalah kandang gajah, kandang harimau, itu ada (keterangan) platnya tahun 1933 (dibuat)," ucapnya.

Seiring perjalanan waktu, di era 1940-an, KBB sempat dikuasai Jepang yang saat itu datang ke Indonesia. Orang-orang Belanda yang saat itu mengelola Derenten pun akhirnya angkat kaki ke Belanda. Tak hanya itu, banyak satwa yang saat itu dibantai hingga menyisakan beberapa satwa saja.



Baca Ini Juga Yuk: Menyusur Kisah Bung Karno di Jantung Kota Denpasar

Akibatnya, selama belasan tahun, Derenten tak terurus dengan baik. Sebab, tak ada pengelola yang benar-benar mengelolanya. Namun, ada sosok penting saat Derenten dalam kondisi seperti itu, yaitu Raden Ema Bratakusumah.

Ema sendiri merupakan salah seorang bagian dari yayasan pendiri Derenten. Ia jadi satu-satunya pribumi yang punya posisi penting di sana. Selama ditinggalkan orang Belanda, Ema-lah yang mengurus satwa di sana.

"Ketika Jepang masuk, yang ngurus (Derenten) cuma Ema Bratakusumah. Jadi, dia nganterin rumput, nganterin apa (kebutuhan satwa di sana)," tutur Aan.

Pada 1956, Dennis Hoogland yang sempat pulang ke Belanda, kembali datang ke Indonesia. Ia lalu menemui Ema. Saat itu, ia menjual Derenten kepada Ema. Setelah itu, Ema kemudian mereformasi Derenten dengan mendirikan Yayasan Margasatwa Tamansari. Nama Derenten pun berubah menjadi Kebun Binatang Bandung. Yayasan inilah yang kemudian mengelola Kebun Binatang Bandung tersebut hingga kini.

"Ema Bratakusumah itu sahabatnya Otto Iskandardinata. Dia itu memang sudah kaya dari dulu. Pada perjalanannya, dia (Ema) punya otobis, pom bensin, percetakan koran, radio, dan lain-lain," jelasnya.

Ema sendiri meninggal sekitar tahun 1983. Pihak manajemen kemudian membuat patung Ema Bratakusumah di salah satu area Kebun Binatang Bandung. Patung ini menegaskan beliau sebagai sosok penting di balik perjalanan Kebun Binatang Bandung.



Koleksi Satwa
Menurut Aan, sejak awal hingga hari ini, jumlah koleksi satwa di lokasi fluktuatif. Namun, jika merunur ke belakang, di masa awal Derenten, harimau dan gajah memang jadi koleksi utama. Selain itu, ada beberapa satwa lain, misalnya badak.

Untuk bisa menghadirkan koleksi satwa di sana, pihak pengelola harus lebih dulu berburu. Sehingga, kadang butuh waktu cukup lama untuk berburu dan membawa hasil buruannya ke Derenten.

"Dulu mah berburu, misalnya mau masukin badak, dulu berburu dulu lalu dimasukkin. Karena kalau dulu kan satwa masih banyak (di alam liar). Kalau sekarang ada satwa (yang didatangkan) dari (pihak) luar dan juga dari penyitaan dari warga yang tidak mampu menangani satwa," papar Aan.

Seiring perjalanan, sempat ada satwa seperti babirusa, badak Jawa, hingga beruang kutub di lokasi. Khusus untuk beruang kutub, dulu ada satu ekor di sana dengan ditempatkan di kandang istimewa. Sebab, beruang kutub perlu perlakuan khusus agar bisa bertahan hidup. Namun, akhirnya ada satwa yang mati dan kini tak ada lagi. Seperti babirusa dan beruang kutub, kini tak ada lagi di lokasi.

Saat ini, total ada 850 koleksi satwa di lokasi dari 120 jenis. Mereka dirawat oleh 40-an keeper dan puluhan karyawan dengan tugas berbeda-beda.



Baca Ini Juga Yuk: Enggak Perlu ke Tiongkok, Melihat Panda Bisa di Bogor Loh!

Kebun Binatang Bandung sendiri sejak 2017 membangun imej baru dengan nama Bandung Zoological Garden alias Bazoga. Namun, identitas Kebun Binatang Bandung tetap melekat. Bahkan, warga Bandung masih banyak yang menyebutnya dengan sebutan 'Bonbin' alias Kebon Binatang.

Pihak manajemen juga melakukan berbagai pembaharuan di area seluas hampir 14 hektare tersebut. Berbagai sudut dibenahi secara bertahap hingga sistem ticketing modern menggunakan gelang. Belum lama ini, di lokasi juga ada Zona Afrika yang berisikan berbagai jenis satwa, salah satunya jerapah.

Ada juga kubah burung di mana pengunjung bisa masuk ke dalamnya dan melihat berbagai burung dari dekat. Bahkan, dalam waktu dekat, ada area khusus untuk singa dengan konsep dilepas di area terbuka.



Tempat Pembibitan hingga Rumah Sakit
Seiring perkembangan, Kebun Binatang Bandung juga tak hanya berfungsi sebagai tempat wisata loh, TemanBaik. Sebab, di sini jadi tempat penelitian sekaligus pengembangbiakkan berbagai jenis satwa.

Salah satu kehebatan di sini adalah mampu mengembangbiakkan tapir. Dulu, tapir di sini hanya ada sepasang alias dua ekor. Namun, setelah bertahun-tahun, tapir di sini bisa mencapai sembilan ekor. Tentu bukan hal mudah melakukannya. Namun, ini bisa dilakukan di Kebun Binatang Bandung.



Selain itu, Kebun Binatang Bandung juga jadi 'rumah sakit'. Di sini kerap jadi tempat penanganan untuk aneka satwa yang terluka di alam liar. Contohnya seperti macan tutul yang ditangkap warga dan kondisinya terluka.

Di sini, satwa yang butuh perawatan akan ditangani tim dokter dan ahlinya dengan telaten. Bahkan, sudah cukup banyak yang sembuh dan akhirnya dikembalikan ke habitat aslinya.

"Kita kebetulan punya tim dokter dan peralatan yang memadai. Jadi, banyak yang dibawa ke sini (satwa dalam kondisi terluka)," ucap Aan.

Foto    : Djuli Pamungkas/beritabaik.id
Layout : Agam Rachmawan/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler