Museum Geologi, Laboratorium Geologi Warisan Belanda

Bandung - TemanBaik, ada berbagai bangunan warisan zaman kolonial Hindia-Belanda di Kota Bandung, salah satunya Museum Geologi. Tempat ini menyimpan berbagai koleksi berupa batuan dan mineral hingga beragam fosil.

Berlokasi di Jalan Diponegoro, Museum Geologi punya tampilan yang khas Belanda banget. Gaya arsitekturnya sepintas ada kemiripan dengan Gedung Sate. Warna putih mendominasi temboknya dengan pintu dan kayu jendelanya mayoritas berwarna coklat.


Sejarah
Museum Geologi tak bisa bisa dilepaskan dari Belanda. Hal ini bermula dari kegiatan penyelidikan geologi Indonesia yang sudah dilakukan sejak tahun 1850-an. Saat itu, penyelidikan geologi dikoordinasikan oleh 'Dienst van het Mijnwezen'.

Pada 1928, gedung yang kini menjadi Museum Geologi pun dibangun oleh pemerintahan Hindia-Belanda. "Akhirnya 16 Mei 1926 diresmikan bertepatan dengan Kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-IV yang diselenggarakan di ITB," kata Kepala Museum Geologi Iwan Kurniawan.

Dulu, nama gedung ini dikenal dengan sebutan 'Geologisch Laboratorium'. Fungsi dari gedung ini adalah sebagai sarana laboratorium geologi sekaligus museum untuk menyimpan serta memperagakan hasil survei geologi.

Sejak awal, keberadaan gedung ini memang dijadikan sebagai laboratorium geologi dan museum. Jadi, sebenarnya sejak awal hingga saat ini tak ada perubahan signifikan.


Sebab, sejak era Hindia-Belanda, penelitian kegeologian sudah dilakukan. Beragam hasil temuan di berbagai wilayah Indonesia pun diteliti dan disimpan di sana.

"Dari hasil memetakan itu, dia (pemerintah Hindia-Belanda) tahu di mana batubara, emas, dan lain sebagainya di Indonesia," tuturnya.

Tak hanya batuan dan mineral, beragam fosil juga sudah diteliti sejak saat itu. Jadi, Kota Bandung memang sejak dulu jadi tempat penelitian orang-orang Belanda ya, TemanBaik.

Baca Ini Juga Yuk: Mengenal 'Derenten', Tempat Wisata Legendaris di Bandung


Beberapa Kali Berganti Nama
Di era pemerintahan Hindia-Belanda, Geologisch Laboratorium ini menjadi bagian dari unit kerja 'Dienst van het Mijnwezen' yang kemudian berganti nama jadi 'Dienst van den Mijnbouw'. Ini berlangsung dalam kurun 1929-1941.

Pada zaman Jepang, nama 'Dienst van den Mijnbouw' berubah menjadi 'Kogyoo Jimusho. Namun, nama itu berubah lagi menjadi 'Tisitutyosazyo' dimana Museum Geologi jadi bagian dari Laboratorium Paleontologi dan Kimia.

Setelah Indonesia merdeka, beberapa kali tempat ini berubah nama dan pengelolaan. Pada 1945-1950, tempat ini dikelola Pusat Djawatan Tambang dan Geologi. Pada 1950-52 berganti nama menjadi Djawatan Pertambangan Republik Indonesia.

Lalu, pada 1952-1956 berubah menjadi Djawatan Geologi, 1956-1957 menjadi Pusat Djawatan Geologi, 1957-1963 Djawatan Geologi, 1963-1978 Direktorat Geologi, serta pada 1978-2002 Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.

Selanjutnya, sejak 2003, Museum Geologi menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Geologi di bawah Pusat Survei Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM. Sejak 2013 hingga sekarang, Museum Geologi menjadi UPT Museum Geologi di bawah Badan Geologi Kementerian ESDM.


Pentingnya Sosok Arie Frederik Lasut
Ketika bangsa Jepang datang menjajah Indonesia, keberadaan Geologisch Laboratorium langsung diambil alih dalam kurun 1942-1945. "Dulu ada peralihan dari Belanda ke Jepang, tempat ini sempat jadi camp prajurit waktu itu," ujar Iwan.

Sayangnya, pihak Jepang saat itu memusnahkan berbagai koleksi di sana. Beruntung masih ada koleksi temuan dan hasil penelitian yang tersisa. Bahkan, sampai sekarang masih ada koleksi yang tersimpan rapi di tempat khusus di Museum Geologi.

Salah seorang yang menyelamatkan berbagai koleksi tersisa, termasuk dokumen geologi dan pertambangan di sana adalah Arie Frederik Lasut. Singkat cerita, jasa Arie berbuah penetapan dirinya sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI Nomor 012/T.K/1969 tanggal 20 Mei 1969.

Sebagai bentuk penghargaan lainnya, di tangga menuju lantai dua Museum Geologi dipasang sebuah prasasti. Prasasti ini menjadi penegas betapa penting dan berjasanya Arie bagi Indonesia, khususnya dalam upaya menjaga berbagai dokumen dan hasil penelitian penting seputar kegeologian dan pertambangan.



Baca Ini Juga Yuk: Kedekatan Indonesia-Palestina, dari Merdeka hingga Palestine Walk

Bangunan Cagar Budaya yang Terjaga
Pemandu Museum Geologi Erwan Setiawan mengatakan keseluruhan bangunan museum terjaga dengan baik. Tak ada perubahan yang dilakukan terhadap bangunan. Sebab, bangunan ini masuk kategori heritage alias cagar budaya.

Alhasil, bangunan khas Belanda menjadi daya tarik tersendiri sekaligus menegaskan nilai sejarah panjangnya. Gedung yang menjadi museum ini berbentuk huruf U. Salah satu yang ikonik dari tempat ini adalah atapnya yang masih berupa atap sidrap.


Disinggung soal benda peninggalan zaman Belanda, menurutnya sudah tak ada selain fosil dan dokumen tersisa. "Fosilnya lebih dari setengahnya yang (ada sekarang) dari zaman Belanda," ucap Erwan.

Namun, ada satu barang yang masih asli dari zaman Belanda, yaitu semacam brankas yang terdapat di salah satu ruangan di dekat ruang pamer. Brankas itu tak dipakai, tapi dijaga dengan baik.

Nah, jika kamu datang ke sini, pasti akan terbawa memori ke zaman Belanda. Selain arsitektur khas Belanda, beberapa ornamen lain juga menjadi penegas, mulai dari kayu pegangan tangga, jendela, lantai, hingga adanya prasasti berbahasa Belanda.


Koleksi Museum
Jumlah koleksi di Museum Geologi ini banyak banget, mulai dari ukuran kecil hingga besar. Fosil dan batuan yang ada di sini mencapai 417.882 koleksi.

Koleksi di sini dibagi sesuai dengan klasifikasinya di ruang pamer. Ketika masuk ke Museum Geologi, kamu akan disambut replika fosil gajah purba. Di sebelah kiri setelah pintu masuk merupakan ruang pamer untuk batuan dari berbagai daerah di Indonesia.

Di sebelah kanan, terdapat ruang pamer yang menampilkan aneka fosil, mulai dari fosil gajah purba, kura-kura, kerang-kerangan, hingga berbagai benda yang berkaitan dengan manusia purba. Sedangkan di lantai dua terdapat berbagai koleksi yang membahas seputar kebencanaan.


Sejak setahun terakhir, balutan tampilan di museum ini dibuat jauh lebih modern. Penataan dan penempatan benda koleksi dibuat sebaik mungkin. Untuk informasi seputar koleksi, pengunjung bisa melihatnya dalam beragam bentuk, mulai dari tulisan di sekitar koleksi, di tembok, hingga di layar interaktif.

Meski secara penerangan agak redup, tapi berkunjung ke sini enggak menyeramkan. Penerangan yang redup itu ditujukan agar benda koleksi terlihat lebih jelas. Sebab, pencahayaan lebih difokuskan pada benda koleksi.

Namun, jika penasaran kamu ingin berkunjung ke lokasi, sabar dulu ya. Sebab, selama pandemi ini museum ditutup bagi pengunjung. Sementara meski ditutup, perawatan tetap dilakukan berkala terhadap seluruh benda koleksi di sini.



Foto     : Djuli Pamungkas/beritabaik.id
Layout  : Agam Rachmawan/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler