Vihara Dharma Ramsi, Kokoh di Tengah Perbedaan

Bandung - Di tengah suasana Imlek, ada banyak hal menarik yang bisa diulas. Salah satunya adalah membahas seputar vihara. Nah, di Kota Bandung, ada salah satu vihara yang cukup legendaris dan termasuk tertua di Bandung. Vihara ini beroperasi atau berdiri sejak 1954.

Namanya Vihara Dharma Ramsi, berlokasi di kawasan CIbadak, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung. Vihara ini terletak di pemukiman padat penduduk. Hadirnya vihara ini cukup mencolok karena arsitekturnya yang unik khas China.



Menurut Asikin, pengurus Vihara Dharma Ramsi, meski arsitekturnya kental dengan nuansa khas China, ternyata aristeknya adalah orang lokal loh. Namun, kemampuan sang arsitek benar-benar mampu menerjemahkan perwujudan vihara yang menghadirkan suasana seolah-olah pengunjungnya akan merasa berada di China.

"Jadi memang vihara ini arsiteknya orang lokal, yang membangun (pekerjanya) juga orang lokal," kata Asikin.

Warna merah dan emas begitu mendominasi bangunan vihara. Di bagian depan, tembok gerbang berwarna hitam dan putih dengan balutan pagar berwarna merah variasi warna emas. Di area luar itu, terlihat ada dua pagoda tinggi yang menyembul dari balik tembok dengan dominasi warna putih, merah, dan emas.

Sebelum melalui gerbang masuk, di bagian atas temboknya terdapat tulisan Vihara Dharma Ramsi D/H. Leng Ang. Lagi-lagi, dominasi warna merah dan emas begitu mencolok. Begitu juga di area dalam, interior warna merah dan emas tetap mendominasi dengan tembok berwarna putih.



Baca Ini Juga Yuk: 

Punya Banyak Rupang
Setiap vihara atau kelenteng memang identik dengan rupang atau patung para dewa. Ya, di Vihara Dharma Ramsi juga sama, punya banyak rupang. Bahkan, vihara merupakan salah satu vihara di Bandung yang punya rupang terbanyak.

"Jumlah rupang di sini ada 100-an. Malah kalau mau dikumpulkan semua bisa mencapai 1.000," ungkap Asikin.

Karena area vihara luasnya terbatas, otomatis jumlah rupang yang dipasang juga menyesuaikan. Rupang-rupang itu terpasang di puluhan altar yang ada di area sebelah kiri, kanan, ruang utama vihara, dan sudut lainnya.



Setiap altar rata-rata tersimpan lebih dari satu rupang. Penempatan rupang itu pun sudah disesuaikan untuk memudahkan umat yang ingin berdoa. Misalnya jika ingin berdoa di altar Dewa Jodoh, Dewa Rezeki, atau Dewa Keuangan, umat tinggal menuju ke area sebelah kiri dari pintu masuk.

Umat yang datang biasanya sudah tahu letak di mana rupang para dewa yang dituju. Sebab, mereka yang datang ke sini biasanya adalah umat 'lama' dan turun-temurun sebagai pengunjung Vihara Dharma Ramsi.

Dari Mana Rupang Berasal?
Menurut Asikin, banyaknya rupang yang ada di lokasi adalah sumbangan dari para umat vihara. Sehingga, wajar jika jumlah rupang di sini sangat banyak.

Bahkan, hingga kini, masih saja ada umat yang ingin menyumbang rupang untuk disimpan di lokasi. Namun, karena sudah tak ada tempat untuk menyimpan, terpaksa pengurus menolaknya.

Kenapa sih umat begitu banyak yang ingin menyumbang rupang? Hal itu karena umat di sana punya kepercayaan tersendiri terhadap dewa-dewa tertentu. Sehingga, mereka ingin menghadirkannya di sana.

"Misalnya umatnya senang dengan dewa ini, dia sumbangin ke vihara, jadi enggak susah untuk memohon sesuatu," jelas Asikin.

Rupang yang ada di sini mayoritas terbuat dari keramik atau tanah liat. Rupang ini ada yang didatangkan dari Tiongkok langsung dan ada yang berasal dari pengrajin di beberapa daerah di Indonesia.



Berganti Nama
Secara fungsi, vihara ini menjadi tempat beribadah umat Buddha, Konghucu, dan penganut kepercayaan. Sehingga, ketika memasuki vihara, masing-masing umat akan menuju tempat sembahyang sesuai kepercayaannya.

Namun, jika ditarik ke belakang, ada cerita menarik dibalik penamaan vihara ini. Awalnya, Dharma Ramsi ini adalah sebuah kelenteng. Namun, di masa Orde Baru, sempat ada pelarangan penggunaan istilah kelenteng. Sehingga, tempat ini berubah nama menjadi vihara.

Seiring perjalanan waktu, setelah lepas dari Orde Baru, tempat ini kembali berubah nama menjadi kelenteng. Namun, karena publik sudah kadung menyebutnya sebagai vihara, maka hingga kini namanya dikenal dengan sebutan Vihara Dharma Ramsi.

Apapun namanya, hal itu nyatanya tak berpengaruh besar. Sebab, yang terpenting, hadirnya vihara ini memudahkan umat yang ingin beribadah.



Kapasitas
Dilihat dari luasnya, Asikin mengatakan Vihara Dharma Ramsi bisa menampung sekitar 200 orang. Namun, umat jarang berdatangan dalam waktu yang bersamaan dan berjejal di dalamnya.

Sebab, umat yang datang biasanya datang secara bertahap. Sehingga, sangat jarang terjadi desak-desakan, kecuali pada momen tertentu, misalnya saat malam pergantian Tahun Baru China atau Imlek.

Di masa pandemi, umat yang datang pun dibatasi agar tidak menimbulkan kerumunan dan satu sama lain bisa menjaga jarak. Sehingga, pengurus harus pintar-pintar mengatur keluar-masuk orang ke lokasi.

Selain itu, protokol kesehatan lain juga diterapkan. Siapapun yang datang ke lokasi wajib mencuci tangan dan menggunakan masker. Bahkan, area vihara secara rutin disemprot dengan disinfektan.



Toleransi yang Membumi
Bagian paling menarik dari vihara ini tentu adalah letaknya yang ada di kawasan padat penduduk. Kenapa unik? Sebab, di kawasan padat penduduk ini terdapat banyak warga dengan agama yang berbeda.

Mayoritas warga di sana tentu adalah umat muslim. Di luar itu, ada beragam warga dengan kepercayaan lain, mulai dari Protestan, Katolik, Konghucu, Buddha, Hindu, dan penganut kepercayaan.

Namun, perbedaaan itu justru menjadi harmoni yang indah. Tak ada gesekan atau konflik atas nama perbedaan agama dan keyakinan. Semuanya hidup rukun karena menyadari pentingnya Bhineka Tunggal Ika.

Toleransi di sini begitu membumi. Tanpa ada komando, toleransi berjalan begitu saja di antara sesama warga. Karena itu, tak heran jika kemudian kawasan sekitar ditahbiskan sebagai Kampung Toleransi beberapa tahun lalu.



Mau tahu seperti apa indahnya toleransi di sini? Vihara Dharma Ramsi misalnya kerap menyediakan takjil gratis bagi umat muslim setiap Ramadan. Ketika ada kegiatan umat muslim di masjid, umat vihara bahkan kerap turun tangan untuk membantu.

Indah banget deh toleransi di sini. Warganya menempatkan diri sebagai makhluk sosial. Namun, urusan keyakinan, itu jadi urusan masing-masing yang enggak perlu saling mencampuri keyakinan penganut agama lain.

Bahkan, ada satu momentum yang kerap ditunggu dan menjadi wujud kebersamaan dalam toleransi. Setiap perayaan Cap Go Meh, warga setempat bahu-membahu menghadirkan kemeriahan melalui kirab.

"Kalau ada Cap Go Meh atau kirab, yang main itu warga-warga sini (dengan berbagai latar belakang agama)," ungkap Asikin.



Kenapa warga setempat mau terlibat dalam Cap Go Meh? Sebab, mereka sudah paham bahwa Cap Go Meh adalah tradisi, bukan agama. Sehingga, mereka bisa bersatu dalam tradisi tanpa mengganggu keyakinan terhadap ajaran agama masing-masing.

Setiap perayaan Cap Go Meh, ada ratusan warga yang siap terlibat. Mereka sudah terlatih untuk melakukan berbagai atraksi karena sudah digembleng pengurus vihara yang punya keahlian di bidangnya.

Namun, Cap Go Meh ini sudah beberapa tahun belakangan tidak dihadirkan. Ada sejumlah hal yang turut jadi penyebab, mulai dari banyaknya bencana hingga dilanda pandemi COVID-19. Meski begitu, jika suatu saat sudah memungkinkan kembali menghadirkan Cap Go Meh, tentu akan bsia disaksikan bagaimana indahnya persatuan dan kekompakkan pengurus vihara dan warga sekitar dalam menghadirkan hiburan.

Foto     : Djuli Pamungkas/beritabaik.id
Layout  : Agam Rachmawan/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler