Mengintip Indahnya Desa Kaliangkrik, 'Himalaya' di Magelang

Magelang - TemanBaik, barangkali kamu ingin mendaki Himalaya, namun belum cukup punya uang dan enggak lolos untuk naik? Tenang, Indonesia pun punya lokasi yang enggak kalah indah.

Ya, lokasi itu berada di kawasan Magelang, tepatnya di Dusun Butuh, Kaliangkrik. Dusun ini memiliki kontur dan letak pemukiman warga bertumpuk di lereng gunung dengan topografi yang tidak rata yang nyaris mirip dengan wilayah yang ada di Pegunungan Himalaya, Nepal. Keren, ya?

Lebih rinci lagi, dusun ini berjarak sekira 22 kilometer dari pusat kota Magelang. Kita perlu waktu sekira satu jam untuk sampai Dusun Butuh. Rute ini juga akan mudah kamu mengerti jika kamu memulai perjalanan dari Yogyakarta.

Karena berada di lokasi yang cukup tinggi, sangat disarankan untuk kamu yang hendak menggunakan kendaraan pribadi ke sana untuk memastikan kendaraanmu kuat dipakai menanjak. Namun, jika kamu enggak menggunakan kendaraan pribadi, ada jasa layanan ojek yang bisa kamu gunakan.

Setibanya di sana, kita bisa mengunjungi dan menjelajah wilayah perkampungan, menyeruput kopi di warung kopi, hingga ikut warga memetik sayuran. Menyenangkan sekali, ya? Rasanya, begitu tiba di sana, kamera atau minimal kamera ponsel pasti jadi sesuatu yang pertama kita rogoh untuk mengabadikan momen.


Baca Ini Juga Yuk: Telaga Madirda, Tempat Menyegarkan Mata & Pikiran di Karanganyar

Di lokasi Kaliangkrik tersebut, ada beberapa destinasi wisata yang bisa dikunjungi. Antara lain: Gunung Sumbing, Silancur Highland, Curug Silawe, Candi Selogriyo, dan tentu masih banyak lagi. Rasanya, enggak cukup deh kita mengunjungi desa wisata ini dengan cara pulang pergi.

Maka dari itu, menginap di sana adalah salah satu opsi berwisata terbaik. Namun perlu diingat juga, protokol kesehatannya jangan sampai dilewatkan, ya. Sebab, kita berkunjung ke wilayah orang lain.

Apresiasi Menparekraf
Belum lama ini, Dusun Butuh dikunjungi oleh Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno. 

Sandiaga mengapresaisi pelayanan yang baik dari masyarakat di Dusun Butuh kepada wisatawan yang datang. Selanjutnya, pihak Kemenparekraf akan mendorong pengembangan bagi pelaku usaha di Kaliangkring. Pengembangannya tidak hanya segi SDM saja, namun juga atraksi, aksesibilitas, dan amenitas serta permodalan di sana.

Terpaan pandemi virus korona setahun lalu membuat segmen pariwisata bergeser dan perlahan menemukan tatanan baru. Jika dulu berwisata identik dengan kedatangan orang secara berbondong-bondong ke suatu wilayah, saat ini pariwisata identik dengan area yang lebih personal, kecil, dan bisa dikustomisasi.

Terkait hal itu, Kemenparekraf menargetkan sebanyak 244 desa wisata tersertifikasi menjadi desa wisata mandiri hingga 2024. 

"Pandemi ini membawa kita melakukan transformasi, tren pariwisata bergerak, yang dulunya berbondong-bondong dan massal, kini pendekatannya lebih alam terbuka dan pariwisata berbasis nature and culture dan perlu dikembangkan sebagai pariwisata yang berkelanjutan," terang Sandi.

Agar tetap menjaga pariwisata ini dapat bisa dinikmati, namun keberadaan virus tetap terkendali, maka cara yang paling aman adalah dengan tetap menerapkan protokol kesehatan saat berkunjung ke lokasi wisata. Hal ini bukan hanya tanggung jawab Pemerintah dan Penegak Hukum saja, tetapi harus berangkat juga dari kesadaran kita sebagai pengunjung.

TemanBaik, sebentar lagi kemarau tiba. Waktu yang tepat untuk menjelajah Nepal van Java. Selamat mencoba, ya!

Foto: Dok. Kemenparekraf RI
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler