Legenda Batu Cinta hingga Makhluk Tak Kasat Mata di Situ Patengan

Bandung - Sunyi dan sejuk, dua kata yang pas untuk menggambarkan tempat indah bernama Situ Patengan, sebuah danau di kawasan Rancabali, Kabupaten Bandung. Penat niscaya akan sirna ketika menginjakkan kaki di lokasi.

Saat pagi, sore, dan cuaca mendung, halimun alias kabut akan memberi sensasi tersendiri. Udaranya pun masih sangat segar yang akan membuat pikiran terasa lebih rileks.

Air danau yang terhampar terlihat berwarna hijau. Namun, air yang ada sebenarnya sangat jernih, cukup dingin, dan tentunya segar. Kesan air berwarna hijau yang terlihat tak lain karena dasar danau dan rimbunnya pepohonan rindang di sekitar lokasi.

Sekadar duduk di pinggir danau juga cukup menyenangkan sambil melihat pemandangan sekitar. Ditemani kopi, teh, atau bandrek yang merupakan minuman tradisional khas Sunda, suasana akan terasa lebih intim dengan alam.

Kamu akan menikmati suhu dingin di lokasi, termasuk desiran anginnya yang sejuk. Saat bersamaan, rasa hangat dari minuman yang masuk ke dalam kerongkongan serentak membuat tubuh juga terasa lebih hangat.

Baca Ini Juga Yuk: Kerajaan Burung & Eksotisnya Pulau Rambut

Cara ini bisa membuat kamu menghalau rasa dingin jika tak terbiasa. Memakai jaket tentu disarankan jika suhu di sini dirasa kurang bersahabat.

Situ Patengan sendiri berada di area seluas 153 hektare. Airnya berasal dari banyak sumber mata air dan sungai.

Lengkapi dengan Naik Perahu
Jika kamu ke Situ Patengan, tentu naik perahu disarankan. Dengan naik perahu, kamu akan diajak berkeliling ke sekitar area danau.

Perasaan luar biasa akan kamu rasakan saat berada di tengah perjalanan. Di tengah suasana sunyi, kami dihadapkan pada pemandangan sekeliling yang teramat indah.

Biar lebih asyik selama perjalanan, menikmati makanan ringan akan terasa menyenangkan. Apalagi sambil berbincang dan mengagumi keindahan alam di sana. Tanggalkan semua beban dan pikiran untuk sementara.

Baca Ini Juga Yuk: Kisah yang Bikin 5 Tempat Wisata Ini Makin Menarik Dikunjungi

Asal-usul Situ Patengan
Dari sejarahnya, Situ Patengan ini sangat menarik. Sebab, ada bumbu legenda atau cerita rakyat yang abadi sejak dulu.

Sebelum beranjak lebih jauh, kita bahas soal nama Situ Patengan ini sendiri. Pateangan-teangan, dari kata bahasa Sunda itulah nama Situ Patengan berasal. Pateangan-teangan berarti saling mencari.

Namun, entah apa yang jadi penyebabnya, warga kerap kali ada yang menyebutnya dengan nama Situ Patenggang. Namun, Situ Patengan atau Patenggang, keduanya merujuk pada satu tempat yang sama.

Lalu, kenapa diberi nama Situ Patengan? Berdasarkan cerita legenda, nama ini berasal dari kisah sepasang kekasih yang saling mencari. Mereka adalah Ki Santang dan Dewi Rengganis.

Ki Santang sendiri konon adalah bagian dari keluarga Kerajaan Siliwangi. Sedangkan Dewi Rengganis adalah rakyat biasa. Namun, cinta keduanya bertaut hebat dan kisahnya melambangkan kesetiaan tiada tara.

Keduanya dikisahkan harus berpisah dalam waktu yang lama. Itu karena Ki Santang harus ikut Prabu Siliwangi berperang. Alhasil, Ki Santang dan Dewi Rengganis pun harus terpisah.

Baca Ini Juga Yuk: Menyusuri Keragaman Jejak Sejarah Pecinan di Bandung

Namun, cinta di antaranya keduanya sangat menggebu. Hingga akhirnya, keduanya saling mencari. Usai perjalanan panjang, mereja akhirnya bertemu di sekitar lokasi.

Kisah inilah yang melatarbelakangi nama Situ Patengan, yakni karena ada sepasang kekasih saling mencari. Singkatnya, Situ Patengan ini adalah tempat Ki Santang dan Dewi Rengganis pateangan-teangan alias saling mencari.

Seusai bertemu, Dewi Rengganis menyampaikan permintaannya pada Ki Santang. Ia minta dibuatkan danau dan sebuah perahu untuk berlayar.

Ki Santang lalu mewujudkan keinginan sang kekasih. Sehingga, lahirlah sebuah tempat yang suatu saat dikenal dengan nama Situ Patengan, termasuk Batu Cinta.

Batu Cinta
Jika bicara tentang Situ Patengan, tak lengkap rasanya jika tak membahas Batu Cinta. Bisa dibilang, Batu Cinta ini 'satu paket' dengan Situ Patengan.

Itu karena Batu Cinta jadi bagian dari cerita Ki Santang dan Dewi Rengganis. Di Batu Cinta mereka bertemu setelah sekian lama terpisah.

Batu cinta sendiri berada di sebuah area yang disebut Pulau Asmara atau Sasaka. Untuk menuju ke tempat ini, perlu ditempuh dengan menggunakan perahu dari bibir Situ Patengan. Meski begitu, jaraknya cukup dekat dan hanya perlu beberapa menit saja.

Batu Cinta ini juga menarik karena dibumbui mitos. Mereka yang singgah di Batu Cinta dan mengelilingi Pulau Asmara, diyakini akan mendapatkan cinta abadi seperti Ki Santang dan Dewi Rengganis.

Batu Cinta sendiri cukup nyaman untuk didatangi. Di sini kamu bisa singgah di warung-warung sederhana. Ada aneka makanan yang bisa dinikmati, mulai dari gorengan, mi rebus, hingga jagung bakar.

Ya, makanan-makanan seperti itu memang biasa. Namun, beda banget sensasinya ketika dinikmati di tengah suasana Batu Cinta dan Situ Patengan.

Baca Ini Juga Yuk: Sekelumit Kisah Charlie Chaplin dan Piano di Savoy Homann

Dihuni Makhluk tak Kasat Mata
Mitos lain yang tak kalah menarik dari Situ Patengan dan Batu Cinta adalah adanya makhluk tak kasat mata. Sebagian masyarakat setempat pun masih percaya jika makhluk tak kasat mata itu abadi hingga kini.

Konon, sebelum Ki Santang pergi meninggalkan Dewi Rengganis ke medan pertempuran, ia menitipkan sang kekasih pada sahabatnyasahabatnya, yakni Sanopati Layung.

Sosok ini bertugas menjaga Dewi Rengganis selama ditinggal Ki Santang. Uniknya, sahabat Ki Santang itu punya wujud tak biasa. Sebab, wujudnya bukan manusia.

Saat di dalam air, ia berubah menjadi ikan berukuran besar. Masyarakat kerap menyebutnya dengan nama si Layung. Namun, jika berada di darat, sosok itu berubah menjadi rusa atau mencek dalam bahasa Sunda.

Selain itu, ada juga sosok Sanopati Agor yang turut diminta menjaga Dewi Rengganis. Sosok ini juga tak kalah unik. Dia diceritakan berwujud anjing berkepala manusia. Sosok ini kemudian dikenal dengan nama Aul.

Nama ini tak lepas dari lolongannya yang seperti serigala. Konon, suaranya lolongannya terdengar seperti mengucapkan 'aul' dengan nada yang panjang.

Mitosnya, kedua sosok ini diyakini masih ada sampai sekarang. Mereka bahkan turut menjaga alam di sekitar Situ Patengan. Namun, terlepas dari benar-tidaknya mitos itu, keindahan Situ Patengan dan Batu Cinta jelas punya darik tersendiri.


Foto: Oris Riswan/beritabaik.id
Layout: Agam Rachmawan/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler