Anak Bajang, Museum di Yogyakarta yang Menarik untuk Dikunjungi

TemanBaik, barangkali kamu sedang merencanakan perjalanan ke Yogyakarta dalam waktu dekat ini, ada tempat keren yang wajib kamu kunjungi. Namanya Museum Anak Bajang.

Museum ini menampilkan berbagai koleksi seni budaya dan jurnalistik di kawasan yang luas. Dirintis sejak awal 2000-an, museum ini jadi salah satu wajah multikultur di Indonesia.

Letaknya di Omah Petruk Yogyakarta, tepatnya di Pakem, Wonorejo, Hargobinangum, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Museum Anak Bajang memiliki lebih dari 500 objek koleksi, serta lebih dari 1.500 properti seni budaya berupa benda display di dalam dan luar ruang. Koleksi ini merupakan sumbangan lebih dari 100 seniman dan seniwati di Indonesia.

Hadirnya museum ini tidak lepas dari kepedulian berbagai kalangan, mulai dari seniman, pegiat seni, akademisi, hingga pegiat dunia jurnalistik. Berbagai lapisan ini bahu-membahu bersama Pemerintah Kabupaten Sleman dan Pemda DI Yogyakarta. Selain itu, ada pula keterlibatan Bentara Budaya dan rekan-rekan media di Kompas yang menyumbang kreasinya dalam bagian museum.

Dalam peluncuran Museum Anak Bajang yang digelar hybrid (luring dan daring), GP Sindhunata selaku perintis museum menyebut kehadiran Museum Anak Bajang ini seolah menyimbolkan perjalanan amat panjang. Ia mengapresiasi banyak pihak yang peduli dengan kawasan yang awalnya serupa hutan ini, hingga akhirnya terwujudnya sebuah museum.

"Museum Anak Bajang adalah kebetulan tapi merupakan juga sebagai sebuah perjalanan yang amat panjang. (Tempat ini) bisa jalan dari dukungan para seniman dan siappun yang prihatin sama tempat ini. Mereka menyumbangkan karya mulai dari patung, candi, hingga lukisan," ujarnya.

Secara umum, Sindhunata menjelaskan Anak Bajang bukanlah figur manusia sempurna. Anak Bajang dekat dengan karakter tokoh yang kerap disia-siakan, namun tokoh ini terus berjuang.

Baca Ini Juga Yuk: Sudah Tahu? Ada Museum Papua di Jerman, Loh!

Koleksi di Museum Anak Bajang didominasi bentuk respons seniman terhadap kehidupan multikultur yang ada di Indonesia dan banyak diaplikasi ke dalam media seni patung serta lukis.

Terdapat enam kawasan di museum ini yang bisa kita eksplorasi. Keenam kawasan tersebut antara lain Komplek Ashram Anak Bajang, Komplek Kapujanggan, Komplek Sanggar Pamujang, Komplek Panyarian, Komplek Omah Petruk, dan Komplek Sekolah Petruk.

Secara singkat, Komplek Ashram Anak Bajang banyak menampilkan figurasi dan ragawi Anak Bajang serta tokoh lain yang tak terpisahan dengan Anak Bajang. Figurasi itu sendiri merupakan karya para seniman, salah satunya Kartika Affandi.

Selain itu, di komplek ini terdapat ruang Sindhu Sekoel berisi koleksi Sindhunata yang di dalamnya terdapat tulisan filsafat, seni, jurnalistik dan sepakbola. Tulisan tersebut direspon para seniman dalam karya seni, khususnya seni rupa.

Selanjutnya, ada Komplek Kapujanggan yang banyak menyimpan koleksi dari Majalah Basis dan tiga sosok penting dalam perkembangan majalah ini, antara lain J.W.M. Bakker, A. Djajasepoetra, J. Dijkstra, R. Soekarta, G. Vriens, dan P.J. Zoetmulder. Di komplek ini, koleksi Majalah Basis dari cetakan pertama 1951 hingga sekarang tertata rapi.

Selain koleksi majalah, komplek ini menampilkan benda-benda milik Fransiscus Van Lith. Buat kamu yang belum tahu, Van Lith adalah seorang misionaris Belanda yang mendirikan sekolah di Muntilan, Yogyakarya, pada akhir abad 19. Belum habis, masih ada koleksi sebuah Alquran yang ditulis di atas daun lontar.

Potret kesederhanaan 'wong cilik' atau masyarakat kecil juga tercermin dalam koleksi dalam sebuah ruang insulinde. Ruang ini mengabadikan potret masyarakat biasa dan peranannya dalam kehidupan sebelum zaman semakin canggih. Sebagai contoh nyata, tukang becak diangkat sebagai tokoh utama di ruang ini.

"Sebelum ada mobil, becak adalah kendaraan yang paling dekat dengan masyarakat," ujar Sindhunata.

Selanjutnya, ada Komplek Sanggar Pamujang yang disediakan sebagai tempat ibadah bagi agama-agama yang ada di Indonesia. Tempat ini disimbolkan sebagai keragaman dan kedamaian masyarakat Indonesia.

Beberapa tempat ibadah tersebut antara lain Pura Gadung Melati, Candi Slamet Klenteng Bio Ciu Mbak Petruk, serta Langgar Tombo Ati. Nah, di Langgar Tombo Ati, ada sebuah sajadah yang dulu dipakai mendiang Gus Dur, tokoh budaya sekaligus Presiden keempat Indonesia.

Baca Ini Juga Yuk: Mengintip Koleksi Sarat Sejarah Museum Olahraga Surabaya

Peran serta bidang jurnalistik juga terabadikan dalam satu kawasan di museum ini. Ya, jika mengunjungi Komplek Panyarian, kamu akan melihat suguhan dedikasi untuk pekerja jurnalistik dan media. Salah satu tokoh jurnalistik yang diabadikan dalam kawasan ini ialah Jakob Oetama selaku pendiri Harian Kompas dan tokoh di dunia jurnalistik.

Replika dan karya Jakob bersanding dengan foto perjalanan Harian Kompas sejak dekade 1960-an sebagai potret perjalanan jurnalistik di Indonesia. Selain itu ada koleksi luar ruang yakni Sumur Yakob dengan filosofi menimba humanisme dalam jagat pers.

Setelah menjelajah kawasan-kawasan wisata tadi, kamu bisa beristirahat di Komplek Omah Petruk. Di sana, ada Pendopo serta kedai kopi dan tempat rehat buat kamu. Sehingga kamu bisa mendinginkan sejenak pikiran sebelum lanjut menjelajah kawasan berikutnya.

Nah, terakhir, ada sebuah kawasan perpustakaan berisi buku-buku yang bisa kamu baca di tempat. Sindhunata menyebut kehadiran perpustakaan ini senapas dengan tujuan hadirnya Museum Anak Bajang sebagai kawasan pengembangan seni budaya edukatif dengan pengembangan pariwisata alternatif.

Dalam kesempatan yang sama, Rhoma Dwi Aria Yuliantri selaku Kepala Museum Anak Bajang menyebut museum ini menampilkan ciri sendiri dan didominasi media buku serta produk kesenian seperti lukisan dan patung. Keduanya menyimbolkan perpaduan seni, budaya, dan literasi sebagai sesuatu yang dahsyat.

"Kami punya kekhasan sendiri. Beberapa koleksi di ruang-ruang dalam Museum Anak Bajang terdiri dari lukisan dan buku. (Dua media) tersebut adalah simbol dari perpaduan antara intelektual, seni dan budaya," ujar Rhoma.

Sementara itu, Sindhunata menggarisbawahi Museum Anak Bajang sebagai tempat berkumpul bagi semua orang dari kalangan apapun, tempat berkesenian, serta tempat menghidupkan seni tradisi. Keterlibatan banyak pihak dan transformasi untuk menjadikannya sebagai satu kawasan menjadikan tempat ini salah satu destinasi wajib jika kamu mengunjungi Yogyakarta.

"Enggak melulu seniman, tapi ketulusan unruk memberi itulah yang memberi nyawa seni pada museum ini," pungkas Sindhunta.

Bagaimana, TemanBaik? Mulai penasaran dengan Museum Anak Bajang? Selamat mengeksplorasi dan tetap terapkan protokol kesehatan saat berkunjung ke sana, ya!


Foto: Dokumentasi Museum Anak Bajang


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler