Ngobrol Ethical Tourism & Digitalisasi UMKM Sama Niluh Djelantik

TemanBaik, keseruan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2021 masih berlanjut. salah satunya menghadirkan Niluh Djelantik. Ia bercerita seputar ethical tourism post pandemic. Simak keseruan ceritanya, yuk!

Tema itu sengaja diangkat Niluh karena berkaitan dengan persiapan dibukanya kembali tempat wisata. Lalu, apa sih ethical tourism post pandemic ini?

Menurutnya, ethical tourism adalah strategi menyetel ulang kegiatan berwisata. Sehingga, kegiatan ini tak hanya menyenangkan, tetapi juga tidak merusak alam serta menjadi potensi penghasilan bagi pelaku dalam ekosistemnya.

Konsep ini sebetulnya sudah bisa dilakukan saat Indonesia menerapkan pembatasan wilayah ketat. Momen ini disebutnya sebagai jadi waktu menyetel ulang aturan bagi pelancong yang akan datang ke suatu daerah, yang mana aturan-aturan tadi pun menghasilkan dampak positif bagi industri parisiwata.

Di sisi lain, ia menyoroti fenomena pengkotakan wilayah dalam satu destinasi wisata. Akibatnya, kerap dijumpai kesenjangan stigma antara wilayah A dengan wilayah B di sebuah kota atau daerah wisata.

"Ini juga jadi pekerjaan rumah. Jadi, katakanlah di kota A, orang enggak mau ke daerah satu karena ada stigma enggak enak. Yang malah ramai dikunjungi misalnya daerah dua di kota tersebut. Nah, dalam ethical tourism tuh disiapin juga infrastruktur buat menghilangkan pengkotakan ini," katanya.

Baca Ini Juga Yuk: Yuk! Intip & Ikuti Deretan Program Keren di URWF21

Dalam konteks ethical tourism, Niluh mengajak pelaku industri pariwisata menyiapkan infrastruktur yang terkait dengan isu lingkungan. Menurutnya, saat ini sudah waktunya destinasi wisata di Indonesia mementingkan isu lingkungan.

Sehingga, kunjungan wisatawan yang menghasilkan keuntungan berbanding lurus dengan ketahanan lingkungan hidup di destinasi wisata tersebut. Niluh percaya tiap wisatawan punya hati untuk menjaganya. Tugas 'tuan rumah adalah mempersiapkan infrastrukturnya.

Secara teknis, ia menyoroti penggunaan kantong plastik di area wisata yang berpotensi menjadi sampah di kemudian hari. Menurutnya, kantong plastik bisa diganti kantong ramah lingkungan dengan melibatkan pelaku UMKM sebagai produsennya. Sehingga, manfaat positifnya bisa dinikmati banyak pihak.

"Karena ethical tourism ini sifatnya dua arah. Bukan hanya menguntungkan wisatawan saja, tetapi seluruh pelaku dalam industri pariwisata," katanya.

Selain ngobrol tentang ethical tourism, Niluh juga beranggapan digitalisasi adalah senjata ampuh bagi tiap unsur dalam industri pariwisata sebagai kunci beradaptasi. Oleh karenanya, ia menganjurkan pelaku dalam industri ekosistem pariwisata membuka mata ke arah sana.

Baca Ini Juga Yuk: Ini 10 Pemenang Program Penulis Emerging di UWRF 2021

Ia mencontohkan penjualan kerajinan UMKM atau kuliner lokal yang boleh jadi mengalami penurunan drastis setahun ke belakang. Tanpa adanya keinginan melek digital, hampir mustahil pelaku UMKM bisa bertahan maksimal. Atau dampak buruknya, mungkin saja pelaku UMKM ini akan tergerus mereka yang mulai melek digital.

"Digitalisasi akan membuat pelaku industri wisata kita bounch back. Ibarat sebuah meja, penting banget untuk kita menyiapkan kaki-kaki meja ini. Nah, digitalisasi ini seperti kita menyiapkan meja. Etalase buat produk kita. Dengan teknologi, kita bisa antarkan produk di wilayah kita ke ujung dunia manapun," katanya.

Sebagai penutup, Niluh terus mengajak pelaku industri pariwisata bersiap melakukan strategi pengembangan. Perubahan gaya tiap orang setelah terpaan pandemi bisa menjadi refleksi buat pelaku bisnis wisata untuk menghadirkan fasilitasnya. Ia mencontohkan tingginya homeless worker atau pekerja lapangan yang aktivitas kerjanya berbasis virtual.

"Kalau kita bisa kasih fasilitas dari mulai tempat, jaringan internet, paket makan dan minum, serta penawaran menarik lainnya, dengan tetap memperhatikan ethical tourism, itu keuntungannya bisa dua arah," ucapnya, penuh optimis.

TemanBaik, yuk sama-sama berdoa dan optimistis pandemi segera berakhir di dunia. Sehingga, kita bisa menikmati kembali hidup normal seperti sebelumnya.


Foto: Dokumentasi URWF/Martino


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler