Cerita Ibu Enok, Guru Honorer Pejuang Pendidikan di Desa Ciwaruga

Parongpong - Empat Patimah alias Enok (48), adalah seorang wanita biasa, seorang ibu rumah tangga yang memiliki kebiasaan pada umumnya. Namun yang membuatnya berbeda dari kebanyakan wanita lainnya adalah dedikasinya terhadap dunia pendidikan.

Sebuah masjid sederhana menjadi saksi bisu perjuangannya dalam mendidik anak-anak usia dini, agar mereka dapat memahami agama Islam dan pandai mengaji AlQuran. Masjid yang bernama Al Maliki yang terletak di sebuah desa bernama Desa Ciwaruga adalah tempat di mana Enok mengabdikan hidupnya untuk menjadikan generasi yang berakhlak mulia.

Di masjid yang jauh dari hiruk pikik keramaian kota itulah anak-anak usia dini diajarkan berbagai pendidikan tentang agama, mulai dari AlQuran dan hadis, bahasa arab, akhlak, fikih, sejarah peradaban Islam, kaligrafi, sampai akidah.

Pada tahun 1998, Enok bersama suami yang juga sebagai pengurus masjid Al Maliki, mengumpulkan anak-anak sekitar lingkungan masjid untuk mengaji di setiap sore. Awalnya tak banyak anak yang mengikuti, tetapi semakin hari semakin bertambah anak-anak yang mengaji ke masjid.

Selang 4 tahun kemudian, Enok bersama suami akhirnya mendirikan sekolah formal untuk anak-anak usia dini, yakni TK Al Maliki yang bertempat masih di masjid tersebut. Hingga hari ini, di usia Enok yang menginjak 48 tahun, artinya sudah selama 21 tahun ia mengabdikan dirinya untuk menjadi guru mengaji di masjid Al Maliki sebagai guru honorer.

Walaupun masih sebagai guru honorer, Enok tetap profesional dan gigih mengajar. Setiap tahun ada sekitar 74 orang peserta didik yang menjadi muridnya di TK Al Maliki, yang terdiri dari TK A dan TK B. Setiap hari Senin sampai Sabtu dimulai dari pukul 08.00 WIB hingga 10.00 WIB, Enok mengajar anak-anak TK Al Maliki.

Setelah itu, mulai dari pukul 14.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB Enok mengajar mengaji anak-anak usia kelas 1 sekolah dasar hingga usia kelas 6 sekolah dasar yang biasa disebut Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Al Maliki.

Sosok Enok adalah sosok yang ramah namun penuh dengan kharisma. Anak-anak menyukainya karena kelembutannya. Ia tak pernah mengeluh tentang betapa dahsyatnya anak-anak yang tengah ia didik. Ia selalu beranggapan bahwa setiap anak adalah hebat, biarlah mereka nakal ketika kecil, biarlah mereka tak diam atau aktif di masa kecilnya, biarkan mereka puas bermain.

Iuran sekolah TK yang biasa diberlakukan kepada peserta didik, ia tetapkan seminimal mungkin agar terjangkau oleh semua pihak terutama yang menyekolahkan anaknya di TK Al Maliki. Begitupun untuk DTA, anak-anak hanya membayar iuran sekadarnya saja. Baginya asalkan anak-anak semangat belajar, biaya bukan menjadi hambatan. Ia akan teguh pada komitmennya untuk menebar ilmu dan kebaikan pada orang-orang di sekitarnya.

Satu tahun yang lalu, Enok ditinggal suaminya menghadap Yang Maha Kuasa. Namun Enok tetap gigih meneruskan perjuangannya untuk mencetak generasi-generasi yang fastabiqul khairat, yaitu orang-orang yang berlomba-lomba berbuat kebajikan. Tak mudah memang, tetapi ia berjuang dalam jalan yang selama ini ia tempuh.

Meskipun dengan segala keterbatasan yang ada, dengan fasilitas yang seadanya, Enok memiliki keyakinan bahwa ia mampu mencetak muslim dan muslimah yang mencintai Alquran dan berakhlak mulia, dan selalu semangat mencari ilmu. Semangat terus Ibu Enok!



Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler