Potret Kerja Keras Wanita Enggros di Film 'Hutan Perempuan'

Yogyakarta - Festival Film Dokumenter (FFD) 2019 akan berlangsung selama satu pekan, dari tanggal 1-7 Desember 2019. Festival film ini berlokasi di tiga titik, yaitu Taman Budaya Yogyakarta, IFI-LIP Yogyakarta, dan Kedai Kebun Forum. Semua program FFD ini terbuka untuk umum dan gratis loh, TemanBaik.

Di antara 91 film yang diputar dalam 15 program FFD, salah satunya adalah film berjudul 'Hutan Perempuan' (2019) yang disutradarai oleh Yulika Anastasia Indrawati. Film berdurasi 92 menit ini masuk ke dalam program 'Kompetisi' kategori 'Film Dokumenter Panjang Indonesia'.

Film dokumenter ini berkisah tentang kerja keras perempuan-perempuan Enggros yang mempertahankan adat dan tradisi mereka dalam mencari nafkah dengan mengandalkan kekayaan alam dari Hutan Perempuan.

Hutan Perempuan merupakan suatu kawasan hutan mangrove yang hanya boleh dimasuki oleh perempuan alias terlarang untuk kaum pria. Jika ada pria yang melanggar masuk ke hutan itu, maka mereka harus mendapat sanksi.

Kampung Enggros sendiri adalah sebuah kampung yang terletak di tengah lautan, seolah terapung di atas wilayah perairan teluk Youtefa, Jayapura. Di tengah arus modernisasi, perempuan-perempuan Enggros ini berusaha untuk menjalani tradisi dan menurunkannya ke generasi selanjutnya. Meski mereka makin merasa kesulitan ketika sedang mencari bia atau kerang di Hutan Perempuan, karena kondisi hutan saat ini tidak sebersih zaman dulu alias banyak sampah yang tersangkut.

Setelah film 'Hutan Perempuan' selesai diputar, dimulailah sesi Q&A yang dihadiri oleh sutradara film ini, Yulika Anastasia Indrawati dan salah satu pemain, Liyan Merauje. Yulika menceritakan proses awal bagaimana akhirnya ia tergerak dan tercetus ide untuk membuat film dokumenter ini.

"Ketika saya pertama masuk ke sana (kampung Enggros), kebetulan kami berlatar belakang sebagai jurnalis. Kami semua yang masuk adalah jurnalis perempuan melihat kondisi di dalam hutan itu sangat terkejut, saya merasa wah saya ingin membuat sesuatu yang lebih dari sekadar mengemasnya jadi berita dan pilihan saya adalah film dokumenter. Saya meriset ini satu tahun, sedangkan proses syutingnya memakan waktu selama 14 hari," tutur Yulika.

Baca Ini Juga Yuk: Serunya Menonton Film Menggunakan Virtual Reality di FFD 2019

Yulika kemudian memberikan informasi bahwa orang Enggros tidak mempunyai tradisi tertulis. "Tradisi yang ada dan sangat kuat di sana itu lisan. Jadi, wajar jika saat orang tua sedang bercerita kepada anak cucunya di film itu terlihat sangat natural, dan cerita dari generasi ke generasi selalu seperti itu. Contohnya, apa sih hutan perempuan itu? Itu dituturkan dari orang tua kepada anaknya. Mereka akan menjelaskan secara detail, dengan begitu generasi-generasi selanjutnya akan tahu, dan itu tidak tercatat," katanya.

Liyan Merauje, wanita asal Enggros yang juga bermain dalam film ini menceritakan tentang proses syuting yang terjadi saat sedang berada di 'Hutan Perempuan' dan bagaimana mereka bermain tanpa naskah atau skenario.

"Waktu pengambilan gambar di Hutan Perempuan itu saya sendiri yang menggunakan speed boat untuk mengantar saudara Yulika, dan Yulika sendiri yang mengambil gambar. Fotografer yang pria itu tidak ikut bersama kami dalam hutan. Dalam proses pembuatan film, semua mengalir saja apa adanya, kami tidak diatur harus mengatakan apa, seperti yang bapak ibu saksikan dalam film," beber Liyan.

Selanjutnya, mengenai isu lingkungan yang juga ditampilkan dalam film ini, Yulika mengatakan bahwa pencemaran yang sangat tinggi di Hutan Perempuan, hutan mangrove seluas 8 hektare yang dipenuhi dengan sampah tersebut ternyata sampai hari ini belum ada solusinya.

"Jika ditarik secara adat, kenapa? Mungkin juga salah satu poinnya karena laki-laki tidak diijinkan masuk. Makanya, ketika saya memberikan gambar di bagian akhir adalah sampah mengalir ke dalam muara. Memang karena persoalannya belum selesai dan itu adalah sebuah pesan bahwa lingkungan itu tanggung jawab kita semua, kebersihan dan sampah itu tanggung jawab bersama," paparnya.

Selepas Q&A berakhir, Yulika menceritakan langsung kepada BeritaBaik tentang momen-momen unik tak terduga yang terjadi selama proses pembuatan film yang berkesan baginya. Salah satunya ketika ia masuk dalam hutan itu pertama kali, ia merasa sangat shock saat melihat perempuan-perempuan Enggros itu turun ke dalam air untuk mencari bia atau kerang dalam keadaan telanjang.

"Kenapa mereka mencari bia dalam keadaan telanjang? Ya karena memang seperti itu cara mereka mencari bia atau kerang. Yang saya dengar, kepercayaannya adalah dengan bertelanjang, mereka percaya akan lebih banyak mendapatkan bia, karena bentuk vagina perempuan yang mirip dengan bia, jadi istilahnya seperti saudara memanggil saudara, gitu. Terus, ketika melihat sampah yang ada di sana saya juga jadi kasihan, enggak terbayang gimana susahnya mencari bia di antara sampah yang terjepit di akar-akar mangrove," bebernya.

Momen lain yang membuat Yulika terkejut adalah saat ia melakukan review gambar kepada salah satu subjek dalam filmnya, bapak Yusak Merauje.

"Ketika melihat gambar bulan, dia sangat terharu dan sampai meneteskan air mata. Kenapa bapak sampai menangis? Terus dia bilang, anak, kau tahu kah bahwa bulan, gambar yang ada di film itu adalah simbol dari Merauje. Pengambilan gambar bulan saat itu tidak sengaja, jadi pas banget, mereka percaya bahwa ya mungkin alam yang sudah mengatur sedemikian rupa," kenangnya.

Selain itu, Yulika juga menyampaikan informasi bahwa film 'Hutan Perempuan' sudah diputar perdana di Jayapura pada bulan Juni lalu dan film ini sudah masuk ke dalam nominasi sebagai kategori 'Film Dokumenter Panjang Terbaik' untuk Festival Film Indonesia.


Foto: Hanni Prameswari/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler