Generasi Milenial, Belajar Investasi di P2P Lending Yuk!

Jember - Kalau mendengar kata investasi, apa yang ada di pikiranmu? Hmm paling tidak, dua hal ini pasti yang spontan terbersit: usia lebih matang dan modal besar.

Padahal nyatanya, investasi bisa dilakukan siapa saja sejak kapan saja. Tidak terkecuali bagi kaum milenial. Bahkan, Warren Baffet -investor dan pengusaha kawakan- memulai aktivitas investasinya sejak usia 11 tahun, loh!

Toh memilih instrumen investasi di zaman sekarang tidak susah, kok. Salah satunya, kini kamu bisa menanamkan modalmu di P2P Lending.

Peer to Peer Lending atau yang biasa disebut P2P Lending boleh disebut sebagai marketplace bagi orang-orang yang ingin memberikan pinjaman dan butuh meminjam dana. Basisnya berupa online dan diakomodasi oleh sebuah perusahaan fintech.

Baca Ini Juga Yuk: Tahun 2019 Tren Fintech Bergaya Syariah Semakin Diincar Loh

Untuk lebih jelasnya, perhatikan ilustrasi ini. Misalnya kamu memiliki sejumlah dana yang hendak diinvestasikan. Dalam platform P2P Lending, kamu bisa memilih calon peminjam sesuai dengan profil yang kamu kehendaki, mulai dari analisis risiko, besarnya modal dan keuntungan yang akan diperoleh, lamanya pengembalian, dan lain-lain.

Kebijakan ini tentu sangat menguntungkan. Sebagai investor, kamu mempunyai kewenangan sepenuhnya terhadap investasi yang akan dilakukan. Tentu saja, hal ini tidak akan kamu dapatkan bila menggunakan instrument konvensional seperti saham, reksadana, emas, dan lain-lain.

Sebagai pemula yang awam terhadap investasi, kamu juga tidak perlu terlalu khawatir terhadap risiko kerugian. Pihak fintech akan membantu dalam profiling peminjam dan ikut memonitor kelancaran pembayaran pihak peminjam setiap bulannya.

Selain itu, besarnya modal yang kamu keluarkan juga bisa dimulai dengan angka yang sangat terjangkau—mulai dari puluhan ribu rupiah saja, lho! Di Indonesia, sudah cukup banyak fintech yang menyediakan layanan P2P Lending dengan nilai investasi yang minimal.

Jadi, tunggu apa lagi? Kalau bisa investasi mulai sekarang, kenapa menunggu kapan-kapan?


Sumber gambar: Unsplash



Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler