Majalah Mangle, 6 Dekade Konsisten Merawat Bahasa Ibu

Bandung - TemanBaik, familiar kah kamu dengan Majalah Mangle? Legendaris sekali memang nama salah satu majalah berusia 62 tahun ini. Selain keberhasilannya bertahan di tengah gempuran konvergensi media, yang menarik adalah konsistensi Mangle dalam memuat konten dalam format berbahasa daerah, bahkan sampai edisi terbarunya, 20-26 Februari 2020.

Menjelang hari Bahasa Ibu Internasional yang akan diperingati pada 21 Februari mendatang, Beritabaik.id berkesempatan untuk ngobrol dengan Pimpinan Umum Majalah Mangle, Uu Rukmana. Yuk simak!

Mangle sudah berdiri sejak tahun 1957. Uu Rukmana selaku Pemimpin Umum majalah ini menyebutkan konsistensi majalah mingguan ini dalam menyajikan konten berbahasa Sunda secara langsung maupun tidak, merupakan upaya pelestarian Bahasa Daerah atau Bahasa Sunda.

Ia menyebutkan, hadirnya Mangle, disamping sebagai kanal informasi dengan segmen pembaca berbahasa Sunda, juga sebagai upaya pelestarian Bahasa Ibu melalui kanal media massa. Meski disebutkannya juga, pemeliharaan bahasa Ibu ini akan lebih maksimal jika dilakukan lewat kanal pendidikan.

"Budaya Indonesia ini kuat karena budaya-budaya di kedaerahannya. Mangle hadir sebagai medium untuk hal tersebut," katanya di Jl. Ladrang No.2 Bandung, Selasa (18/2/2020).

Sebagai informasi tambahan, Mangle adalah salah satu media cetak dengan format penulisan Bahasa Sunda yang masih bertahan sampai hari ini. Setelah Mangle, ada nama Galura yang merupakan media cetak dengan konsep yang tak jauh berbeda. Jika Mangle berbentuk majalah, Galura sendiri memiliki format koran.



Baca Ini Juga Yuk: Jarang Disadari, Pelaku Perundungan Ternyata 'Dicetak' di Rumah

Untuk konteks media dengan format penulisan bahasa daerah, bisa dikatakan media-media tersebut hampir musnah. Tercatat majalah Jayabaya, sebuah media berbahasa Jawa di Kota Surabaya yang masih aktif produksi.

Perihal sajian medianya, Uu menyebutkan, kebiasaan orang-orang Sunda sering ia jadikan dan kaitkan sebagai konten bersama timnya dalam berbagai rubrikasi. Misalnya, dengan menyajikan informasi dari isu lokal sampai nasional, isu agama, pendidikan, sampai humor. Hal-hal tersebut dianggapnya sebagai unsur yang tak lepas dari keseharian orang-orang di Jawa Barat. Oleh karenanya, Mangle hadir sebagai penyaji topik-topik tersebut dalam format Bahasa Sunda.

Konten Segar untuk Hadirkan Pembaca Muda
Selain itu, Uu menambahkan dengan hadirnya konten yang segar tanpa menghilangkan unsur Bahasa Sunda, Uu menyebutkan hal itu bisa memperkuat animo pembaca dan tentunya menjaga bahasa Ibu lewat format bahasa yang disajikannya. Dengan konten yang segar itu pula, Mangle tetap mempertahankan imej-nya sebagai majalah Sunda yang terkesan edgy. Misalnya dengan menampilkan sampul foto dengan model anak muda yang biasanya dipilih dari remaja atau anak muda asal Sunda.

"Kalau kita lihat kan, dari cover-nya aja, itu anak muda banyak ngantri loh untuk jadi cover Mangle. Artinya ada daya tarik nih untuk orang Sunda yang masih pada muda untuk 'memproklamirkan' dirinya sebagai orang Sunda, dan bangga sama identitasnya," bebernya.

Di usia majalah yang sudah melampaui enam dekade, Uu menyebutkan ada rasa haru dan bangga karena Mangle masih terbit sampai hari ini. Terlebih, beberapa lembaga memberikan apresiasi kepada majalah ini sebagai salah satu majalah yang melestarikan bahasa daerah. Ia juga memaparkan, untuk menjaga majalah ini tetap eksis, hampir tak ada rahasia khusus selain konsistensi dalam menyajikan format informasi dalam bahasa Sunda yang dikemas menarik agar daya bacanya tetap tinggi. Menurut Uu, dengan menyisipkan konten menarik, pembaca tak akan pernah lari.

Regulasi dan Alih Teknologi
Di sisi lain, dalam menyambut Hari Bahasa Ibu Internasional, Uu menyebutkan perlu adanya regulasi khusus dalam melindungi bahasa ibu. Ia sangat khawatir, Bahasa Sunda sebagai bahasa ibu untuk masyarakat Jawa Barat akan ditinggalkan bila tidak dijaga.

"Makanya saya seneng banget pas Bahasa Sunda masuk ke sekolah-sekolah lewat mata pelajaran. Untuk tetap menjaga, saya (melalui Mangle) juga menyelipkan unsur edukasi Bahasa Sunda untuk dibaca dan dipelajari," paparnya.

Selain itu, sudah menjadi kewajiban kita, khususnya Warga Jawa Barat, untuk menjaga warisan budaya. Sebab ia menyebutkan, kekuatan suatu bangsa dapat dilihat dari kekuatan budaya-budaya di daerahnya. Ia menyebut hal itu dengan peribahasa leungit basana, leungit bangsana.

Menurut Uu, aksi nyata juga perlu dilakukan selain memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional secara simbolik. Yang mana artinya, di setiap wilayah, pembinaan bahasa daerah tersebut perlu dilakukan melalui berbagai medium yang ada seperti misalnya lewat medium pendidikan, yang menurutnya jadi tempat termudah untuk diakses orang bahkan sejak usia dini.

Dengan berbagai tantangan bagi insan pers hari ini, Uu menyikapinya dengan tetap realistis menyajikan kanal baru untuk pembaca yang memang tak mungkin mengakses Mangle dalam bentuk fisik. Oleh karenanya, terobosan berupa peralihan bentuk dari fisik ke digital perlahan sedang dijajaki Mangle.

"Di Amerika tuh ada orang Sunda juga, loh. Banyak. Mereka pasti kangen ngomong pakai Bahasa Sunda, atau baca tulisan berbahasa Sunda. Oleh karena itu, kanal digital juga rasanya perlu disiapkan. Sebab tidak semua orang sekarang bisa mengakses Mangle dalam bentuk fisik," pungkasnya.

Sebagai informasi tambahan, selain majalah Mangle, di Jawa Barat pernah ada beberapa media dengan format sajian bahasa daerah yang pernah terbit. Sebut saja Koran Sunda, Kudjang, dan Giwangkara. Lalu, adakah di antara TemanBaik yang masih mengoleksi bentuk fisiknya, atau mungkin pernahkah kamu menjadi cover majalahnya?

Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler