'Bahasa Ibu' Makin Terkikis, Yuk! Lestarikan Mulai dari Keluarga

Bandung - TemanBaik, bahasa ibu alias bahasa daerah semakin hari semakin terkikis. Banyak generasi muda yang mulai menanggalkan penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, bahasa daerah seharusnya dilestarikan. Pelestarian ini jadi tanggung jawab bersama, bukan hanya urusan pemerintah. Iya, termasuk kamu harus melestarikannya.

Kepala Balai Bahasa Jawa Barat Umar Solikhan mengungkap keprihatinannya soal generasi muda yang tak lagi mahir berbahasa daerah.

"Kami sudah melakukan penelitian tentang sikap anak muda terhadap bahasa daerah, bahasa negara (Indonesia), dan bahasa asing. Memang ada keprihatinan bahasa ibu atau bahasa daerah cenderung tidak dikuasai lagi oleh generasi muda sekarang," kata Umar kepada BeritaBaik.id.

Sebagai gambaran, coba deh TemanBaik lihat di lingkungan sekitar, terutama di kalangan generasi muda, lebih banyak mana orang yang berbicara menggunakan bahasa daerah dengan bahasa Indonesia? Tahu enggak apa penyebabnya?

"Ada beberapa penyebab, misalnya banyak orang tua, terutama di keluarga yang modern menengah ke atas, sudah tidak mengajarkan kepada anaknya bahasa daerah," jelas Umar.

Selain itu, beberapa penyebab lain di antaranya warga di lingkungan tempat tinggal yang mayoritas tak menggunakan bahasa daerah. Begitu juga saat bergaul dengan teman-teman, minimnya orang yang menggunakan bahasa daerah turut membuat bahasa daerah semakin terkikis.

Baca Ini Juga Yuk: 'Kumaha, Damang?' Bukan Sekadar Basi-basi‎ Loh

Namanya juga bahasa, jika tak terus dilatih atau dipraktikkan, maka secara perlahan kemampuan dan penguasaannya akan berkurang. Karena itu penting untuk melatih dan praktik berbahasa daerah.


                                                                       Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Trik Ajarkan Bahasa Daerah di Keluarga
Bagi kamu para orang tua atau calon orang tua, sebaiknya mulai sekarang punya komitmen untuk melestarikan bahasa daerah. Biasakan penggunaan bahasa daerah di momen-momen tertentu saat bersama anak. T. Subarsyah misalnya, pria yang menjabat sebagai Kepala YPDM Pasundan ini punya trik khusus untuk menanamkan penguasaan bahasa Sunda di keluarganya.

Ia mewajibkan anak-anaknya berbicara menggunakan bahasa Sunda dengannya. Sedangkan dengan sang ibu menggunakan bahasa Indonesia. Cara seperti ini bisa kamu terapkan di rumah. Tapi, kuncinya adalah kemauan dan konsistensi. Bagilah peran berbahasa antara ayah dan ibu saat berkomunikasi dengan anak.

"Kalau di keluarga misalnya digunakan bahasa kesehariannya bahasa Sunda, anak akan ikut," ucap Subarsyah.

Jangan khawatir bahasa nanti jadi bahasa "gado-gado" alias campur-campur antara bahasa Indonesia dan daerah. Sebab, dari sini justru anak bisa belajar dan kelak akan bisa membedakan mana bahasa Indonesia, mana bahasa daerah.

Ingatkan dan jangan bosan untuk terus memberi tahu anak soal bahasa daerah yang baik dan benar. Jika salah mengucapkan, ingatkan, bukan dimarahi. Sehingga, anak tak akan kapok untuk menggunakan bahasa daerah di rumah.

Cara unik juga bisa dilakukan. Misalnya mengajarkan lagu anak berbahasa daerah. Cara ini akan lebih mudah diserap anak-anak. Sebab, mereka diajak bermain, tapi di saat yang sama mereka juga belajar. Atau kamu juga bisa mengajarkan bahasa daerah melalui permainan tradisional.

Bagaimana Jika Orang Tua Berbeda Suku?
Di zaman sekarang, pernikahan berbeda suku bukan hal aneh lagi. Orang Batak misalnya bisa menikah dengan orang Sunda, orang Jawa bisa menikah dengan orang Padang, atau orang Bali menikah dengan orang Papua.

Bahasa apa yang tepat untuk diajarkan kepada anak jika kedua orang tua berasal dari suku yang berbeda? Yang paling utama tentu bahasa Indonesia. Ini akan jadi bahasa penghubung antara orang tua dan anak.

Tapi, bahasa daerah apa yang harus diajarkan? Hal ini akan tergantung dari kesepakatan kedua orang tua. Tentukan dan berusahalah konsisten untuk mengajarkan bahasa daerah kepada anak. Misalnya jika disepakati anak harus mempelajari bahasa daerah ibunya, maka sang ayah harus memberi dukungan penuh. Begitu juga sebaliknya.

Meski begitu, Subarsyah menyarankan agar ada pertimbangan khusus. Jadi, jangan karena ego masing-masing orang tua sehingga anak diajarkan bahasa daerah.

"Pertimbangkan bahasa daerah yang akan lebih banyak dibutuhkan di lingkungan," ucap Subarsyah.

Contohnya, jika kamu tinggal di Bandung, tentu mengajarkan bahasa Sunda jadi jalan terbaik jika kedua orang tuanya berasal dari suku Sunda dan suku lain. Bukan berarti menomorsatukan bahasa Sunda, tapi bahasa ini tentu akan lebih banyak dipakai oleh teman-teman atau lingkungan anak kelak.

Foto: Ilustrasi Agam/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler