Jangan Lewatkan Imunisasi untuk Si Kecil Meski di Tengah Pandemi

Bandung - TemanBaik, penyebaran virus corona di Indonesia dan imbauan untuk tetap #DiRumahAja membuat banyak hal yang jadi rutinitas penting kerap terabaikan. Salah satunya adalah pemberian imunisasi terhadap si kecil.

Tak heran, keharusan untuk keluar rumah dan mengunjungi fasilitas layanan kesehatan untuk melakukan imunisasi menjadikan ketakutan kita terpapar virus corona menjadi berlipat ganda. Padahal, imunisasi atau pemberian vaksin pada bayi atau anak harus tetap berjalan walaupun berada di tengah pandemi COVID-19.

Dokter spesialis Anak pada Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada, dr. Fita Wirastuti menyebutkan, sebisa mungkin imunisasi ini dilakukan sesuai jadwal.

"Imunisasi dasar wajib tetap dikerjakan. Misal kondisinya memang tidak memungkinkan boleh ditunda maksimal 1 bulan, tapi sekali lagi sebisa mungkin dilakukan sesuai jadwal," katanya seperti dilansir dari laman resmi situs web Universitas Gadjah Mada.

Sebagai solusi kekhawatiran orang tua akan paparan virus corona, Fita menyarankan agar orang tua melakukan perjanjian terlebih dulu dengan pihak rumah sakit. Dengan sudah adanya waktu yang ditentukan, hal ini bisa memangkas waktu tunggu di Rumah Sakit.

Selain itu, Fita juga menyarankan agar orang tua tak perlu panik secara berlebih. Sebab pihak rumah sakit saat ini sudah melakukan pemisahan alur pasien bagi pasien biasa dan pasien penderita COVID-19.

Baca Ini Juga Yuk: Amankah Terlalu Sering Minum Teh Dibanding Air Putih?

Pentingnya Imunisasi
Fita juga menekankan kepada masyarakat akan perlunya memahami imunisasi atau vaksinasi terhadap si kecil. Imunisasi merupakan salah satu upaya untuk melindungi diri dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

"Cara kerja vaksin ini prinsipnya memicu pertahanan tubuh dengan cara memaparkan bakteri atau virus yang sudah dilemahkan agar sistem pertahanan tubuh membentuk proteksi atau antibodi," jelasnya.

Selain untuk proteksi diri, imunisasi juga bisa melindungi orang lain. Fita menambahkan, cakupan imunisasi tinggi lebih dari 90 persen dapat membentuk kekebalan komunitas (herd immunity). Apabila cakupan imunisasi rendah atau di bawah 90 persen maka akan sulit terbentuk kekebalan kelompok yang bisa memberikan perlindungan bagi banyak orang.

Lebih lanjut lagi, pemberian vaksin secara spesifik juga diharapkan dapat menekan risiko infeksi berbagai penyakit berbahaya dan mematikan. Misalnya, TBC, difteri pertusis, polio, campak, rubela, cacar air, penumonia oleh HIB dan peneumokokus, hepatitis A, hepatitis B, tifoid, serta meningitis.

"Vaksinasi ini wajib diberikan untuk melindungi diri dan orang lain. Terlebih saat ini kita dengan mudah terhubung dengan negara-negara dunia, sementara banyak penyakit menular yang cepat menyebar dan menulari siapa saja," tandas Fita.

Kendati vaksin wajib diberikan bagi setiap orang, namun ada beberapa kelompok orang yang memang tidak bisa melakukan imunisasi. Salah satunya adalah orang yang mengalami alergi saat divaksinasi. Sedangkan pada orang dengan imunitas sangat rendah atau orang yang menggunakan obat-obatan yang menekan daya tahan tubuh dalam jangka panjang dapat diimunisasi dengan cara berbeda. 

Hal serupa juga berlaku untuk orang dengan penyakit yang berhubungan dengan daya tahan tubuh rendah seperti HIV dan gizi buruk. Mereka diberikan vaksin bukan dengan bakteri atau virus yang dilemahkan, tetapi dengan bakteri atau virus yang dimatikan.

TemanBaik, sekali lagi, imunisasi merupakan hal yang penting untuk si kecil, ya. Melewatkan imunisasi untuk si kecil, sedikitnya akan mempengaruhi perkembangan kesehatannya saat tumbuh besar nanti. Yuk, jadikan pandemi ini sebagai momentum bagi kita untuk selalu menjaga kesehatan!

Foto: Ilustrasi Unsplash/Centers for Disease Control and Prevention (CDC)

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler