MiniTani, Jaga Ketahanan Pangan dari Pekarangan Rumah

Bandung - TemanBaik, ketahanan pangan adalah salah satu hal penting yang mesti dijaga, apalagi saat masa pandemi. Hal ini bisa dilakukan dari pekarangan rumah kita dengan cara MiniTani. Seperti apa sih? Yuk simak ulasannya!

MiniTani, sebuah gerakan ketahanan pangan ala Kementerian Pertanian (Kementan) RI ini boleh dicoba oleh TemanBaik, loh. Pasalnya, selain jenis tanamannya mudah kamu jumpai, hasil panennya juga relatif bersahabat dengan selera makan. Lebih jauh lagi, MiniTani bisa meningkatkan ketahanan pangan keluarga, bahkan jadi sumber pendapatan tambahan untukmu selama masa pandemi.

Menerapkan gerakan ketahanan pangan MiniTani idealnya perlu waktu 6 bulan untuk kamu mulai bercocok tanam hingga nanti hasilnya bisa dipanen. Namun, bila hal ini sukses diaplikasikan, bukan tidak mungkin nantinya ini akan jadi profesi sampinganmu setelah kita berhasil keluar dari masa pandemi.

Jenis Tanaman
Gerakan MiniTani atau pangan dari pekarangan ini disebutkan dalam laman resmi Kementan adalah sebagai upaya memanfaatkan tiap jengkal lahan kosong sebagai penghasil bahan pangan pengganti beras. Kamu bisa menanam beberapa bahan pangan seperti singkong, umbi umbian, jagung, kentang, talas, sagu atau pisang yang nantinya bermanfaat sebagai pengganti beras atau makanan pokok.

Jenis pangan yang ditanam di pekarangan rumah juga bisa menjadi bagian dari diversifikasi pangan, sehingga masyarakat Indonesia punya banyak alternatif bahan makanan pokok selain beras. Nah, bila salah satu anggota keluargamu di rumah ada yang tidak mengonsumsi nasi, kemudian menggantinya dengan bahan-bahan pokok lain seperti singkong atau kentang, maka kamu bisa menjadikan MiniTani sebagai momentum pemenuhan kebutuhan pangan dari tingkat yang paling rendah, yaitu kebutuhan pangan di rumah.

Baca Ini Juga Yuk: Cincau Hijau dan Hitam, Apa Perbedaannya?

Buat Kebun Vertikal
Memenuhi kebutuhan pangan dari pekarangan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu yang bisa kamu coba di rumah adalah dengan membuat kebun vertikal. Apa sih kebun vertikal itu?

Kebun vertikal sebetulnya sudah menjadi tren, khususnya bila kamu tinggal di kota-kota besar dengan jumlah lahan bercocok tanam yang sedikit. Kegiatan budidaya tanaman lewat kebun vertikal ini juga selain hasil panennya bisa dimanfaatkan, di sisi lain dapat membuat rumah menjadi asri dan sejuk.

Secara praktik, kamu hanya memerlukan beberapa botol bekas, media tanam seperti tanah dan bibit tanaman, serta media pendukung lainnya seperti paku, palu, kawat, hingga beberapa buah papan. Media pendukung ini disesuaikan dengan keperluan desain kebun vertikal yang kamu inginkan.

Langkah pertama yang bisa dilakukan saat membuat kebun vertikal ini adalah menentukan dulu lokasi rumah yang bisa dijadikan kebun vertikal. Setelah itu, baru kamu bisa memilih jenis tanaman yang sesuai untuk ditanam. Kamu bisa menjajal jenis sayuran seperti bayam, sawi, kangkung, seledri, kol, tomat hingga cabai untuk ditanam di kebun vertikalmu.

Setelah menyesuaikan tanaman itu dengan frame atau wadah media tanam, sebaiknya kamu melapisi dinding dengan terpal plastik agar tidak kotor terkena tanah nantinya. Nah, terakhir, kamu juga harus mempersiapkan sistem drainase yang baik. Hal yang tak kalah penting dalam tahap ini adalah kerajinan dan konsistensimu dalam merawat tanaman mulai dari menyiram, membersihkan dan mengeceknya secara rutin hingga hasilnya bisa dipanen nanti.

TemanBaik, menjaga ketahanan pangan bisa dilakukan secara mandiri. Selain itu, manfaatnya juga banyak sekali mulai untuk diri sendiri, juga untuk orang-orang di sekitar kita. Bagaimana? Sudah terpikir untuk berkebun di pekarangan? Yuk, mulai eksekusi rencana baikmu!

Foto: Ilustrasi Unsplash/Tania Malréchauffé

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler