Kenormalan Baru, Ini Kata Pakar Komunikasi

Malang - Penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Malang Raya telah berakhir dan tidak akan diperpanjang. Pemerintah setempat saat ini tengah berupaya mempersiapkan skema new normal atau kenormalan baru.

Pakar komunikasi dan Management Krisis Universitas Brawijaya (UB) Maulina Pia Wulandari, S.Sos.,M.Kom., Ph.D mengatakan, kehidupan dengan kenormalan baru atau new normal life adalah tentang dua hal yaitu kesadaran dan displin.

Menurutnya, masyarakat harus memiliki kesadaran dan displin dengan gaya hidup baru yang lebih fokus pada keselamatan dan kesehatan diri sendiri, keluarga dan orang lain.

"Sayangnya di Indonesia masyarakatnya belum memiliki tingkat kesadaran dan disiplin yang tinggi," kata perempuan yang akrab disapa Pia tersebut.


                                                                                  Foto: dok. Pribadi/Maulina Pia Wulandari

Pia menambahkan, tingkat kesadaran dan disiplin yang masyarakat yang masih rendah perlu ada sanksi tegas yang mengatur.

"Jika tidak ada sanksi tegas maka peraturan tersebut seolah seperti macan ompong," katanya.

Pemberian sanksi tegas, menurut Pia, akan membentuk masyarakat yang disiplin dan patuh terhadap peraturan. 

"Seperti contohnya penerapan peraturan pemakaian seragam di sekolah. Semua murid patuh karena ada sanksi tegas yang mengatur," katanya.

Baca Ini Juga Yuk: Begini 'Kenormalan Baru' di Mata Psikolog

Selain itu, Pia juga menambahkan bahwa penerapan sanksi jangan sampai transaksional. Jika penerapan sanksi tidak tegas, maka masyarakat akan cenderung tidak patuh.

"Karena karakter masyarakat Indonesia yang masih suka ngeyel, sak karepe dewe (seenaknya sendiri), dan suka menawar," kata Pia.

Kenormalan baru sendiri merupakan era di mana masyarakat tetap melakukan aktivitas normal dengan menggunakan standar protokol COVID-19, seperti cuci tangan sesering mungkin, menghindari menyentuh daerah wajah, menerapkan etika batuk dan bersin, gunakan masker, dan menjaga jarak fisik.

Pia mengatakan, dalam menerapkan kenormalan baru, beberapa lokasi yang beresiko seperti sekolah, mal, tempat wisata dan panti jompo harus sepenuhnya dididik dan diberdayakan di bawah konsep kenormalan baru. Selain itu, sistem kesehatan juga harus disiapkan apakah sudah bisa melacak setiap kasus baru.

Dalam menerapkan kenormalan baru, pemerintah harus menyosialisasikannya ke masyarakat sesuai dengan karakteristiknya di Indonesia.

Bentuk sosialisasi bisa dilakukan lewat media komunikasi tradisional misalnya pertunjukan wayang bagi masyarakat di wilayah pedesaan, dan media sosial bagi masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan. Tujuannya agar hal ini mudah diterima masyarakat.

"Agar konsep kenormalan baru bisa diterima masyarakat, maka sosialisasinya harus disesuaikan dengan kondisi demografis mereka. Sosialisasi pada masyarakat desa tentunya bisa dilakukan dengan wayang. Sosialisasi masyarakat perkotaan bisa dilakukan lewat media sosial. Sedangkan untuk remaja (sosialisasi) bisa lewat tokoh idola dan panutan mereka," pungkas Pia.

Foto: Ilustrasi Unsplash/Noah Matteo


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler