Mengenal Subkultur di Kota Bandung dan Pengaruhnya

Bandung - TemanBaik, budaya memang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Kebudayaan lekat dengan manusia sejak lahir hingga akhir hayatnya. Biasanya, kebudayaan identik dengan hal-hal terkait etnis atau ciri khas dari suatu daerah.

Kebudayaan sendiri sebenarnya adalah bentukan kebiasaan dari sekelompok orang di suatu tempat yang pada akhirnya disepakati bersama.

Sejak lama, ternyata ada sebuah kebudayaan yang cukup populer di kalangan anak muda sejak zaman dahulu, istilah ini dikenal dengan sebutan subkultur. TemanBaik, tahu kah kamu apa itu subkultur, atau bahkan kita adalah bagian dari subkultur itu sendiri? Yuk, simak ulasannya!

Menurut Dick Hebdige dalam bukunya yang berjudul 'Subculture: The Meaning of Style' dijelaskan bahwa subkultur hadir karena anak-anak muda pada masa tersebut ini merasa bosan dengan budaya arus utama yang telah lama muncul sebelumnya.

Dick Hebdige juga menjelaskan jika subkultur merepresentasikan sebuah noise atau derau yang biasanya merupakan hal yang mengganggu dalam suara, tapi noise atau derau ini yang menjadi pembeda dalam suara tersebut.

Berbeda tidak berarti jelek, berbeda juga bukan berarti berarti kurang diminati. Hal yang tak umum, bagi kaum subkultur ini merupakan identitas mereka agar dapat terlihat beda di mata orang lain.

Hal ini juga dipaparkan oleh Idhar Resmadi, pada seminar daring yang diadakan oleh Kelompok Keahlian ACTIES, Fakultas Industri Kreatif Universitas Telkom (28/07/2020).


  Foto: Tangkapan Layar Webinar 'Dinamika Subkultur di Kota Bandung dan Berbagai Lintasan Pengaruhnya'/Ridzky Rangga Pradana

Baca Ini Juga Yuk: Mengenal Perbedaan Buku Lawas, Langka, dan Antik

Pada seminar yang berjudul 'Dinamika Subkultur di Kota Bandung dan Berbagai Lintasan Pengaruhnya' Idhar menjelaskan bahwa subkultur memang merepresentasikan hal yang berbeda dari budaya arus utama yang sudah ada.

"Jadi, sebetulnya menurut Dick Hebdige, mereka (subkultur) selalu merepresentasikan gaya-gaya yang tidak umum di masyarakat, makannya dianggap noise gitu, gaya-gaya yang berbeda di masyarakat. Mereka mencoba untuk mengekspresikan diri, arti dari gaya mereka itu dengan identitas-identitas yang agak berbeda lah dari masyarakat umumnya," jelas Idhar.

Nah, setelah tahu arti dari subkultur, apakah TemanBaik sudah mulai merasa di sekitar ada orang-orang yang menjadi bagian dari subkultur tersebu atau mungkin kita adalah bagian dari subkultur?

Rasanya, penjelasan tentang subkultur tidak menjelaskan secara spesifik orang-orang seperti apa yang menjadi bagian dari subkultur. Identitas dari subkultur dari masa ke masa dapat dilihat dari apa yang mereka perlihatkan ke masyarakat, baik secara visual maupun tidak. Contoh visual dari subkultur adalah komunitas-komunitas yang biasanya berisi anak muda dan mengenakan pakaian-pakaian tertentu yang tak umum.

Salah satu contoh yang paling umum dan mungkin sering kita lihat di sekitar kita adalah komunitas punk. Mereka identik dengan musik, gaya berpakaian, dan gaya rambut mohawk yang berwarna. Punk merepresentasikan subkultur yang mengekspresikan dirinya yang ingin berbeda dari tren atau budaya arus utama.

Di luar Indonesia, salah satu contoh lainnya adalah komunitas mods, sebuah fenomena subkultur yang berasal dari kota London, Inggris. Singkatnya, mods adalah satu fenomena sosial yang terjadi di Inggris pada tahun 60-an, dimana para pemuda di London yang saat itu berada pada kondisi ekonomi yang kurang baik, tetapi mereka tetap ingin menikmati gaya hidup mapan dan mempertahankan kesempurnaan dari gaya personal mereka.

Subkultur di Kota Bandung
Salah satu cara mengenali subkultur paling sederhana adalah dengan tampilannya secara visual. Baik itu pakaian atau apapun yang digunakannya.

Begitu juga di kota Bandung, TemanBaik yang tinggal atau pernah menyambangi kota Bandung, tentu kerap melihat nuansa subkultur. Hal ini mudah terlihat ketika TemanBaik menyambangi tempat-tempat yang kerap dijadikan tempat berkumpul atau 'nongkrong' oleh anak-anak muda Bandung. Mulai dari pakaian hingga kendaraan yang digunakan, dapat merepresentasikan anak muda Bandung yang erat kaitannya dengan subkultur.

Dalam paparannya, Idhar juga menceritakan jika masa-masa awal subkultur mulai dikenal di kota Bandung sudah sejak tahun 60-an. Bandung, sebagai salah satu kota besar di Indonesia menjadi salah satu pusat kebudayaan yang membuat penasaran masyarakat internasional di luar sana.

Salah satu yang menjadi magnet kota Bandung sebagai pusat kebudayaan adalah peristiwa Konferensi Asia Afrika 1955. Kejadian inilah yang membuat Bandung menjadi semacam cultural hotspot bagi masyarakat internasional.

Selain itu, Idhar menjelaskan bahwa adanya peran sekolah tinggi yang ada di Bandung menjadi salah satu faktor mengapa subkultur tumbuh berkembang di kota Bandung. Kebanyakan, para penggagas atau dapat dibilang awal beredarnya subkultur di kota Bandung diprakarsai oleh anak muda yang berasal dari sekolah tinggi tersebut.

"Kalau saya petakan, para pelaku subkultur era 80-an dan 90-an memang mereka itu punya kaitan sangat kuat dengan keberadaan kampus atau universitas. Apalagi, kalau kita tarik lagi peran sekolah tinggi seni dan humaniora itu punya peran sangat penting banget dalam membangun perspektif, pola berpikir, mazhab para pelaku subkultur ini dalam produksi budayanya," jelas Idhar.

Anak muda Bandung dari dulu hingga sekarang memang haus akan informasi tentang apapun yang terjadi, termasuk hal-hal tentang kebudayaan. Dulu, pada awal tahun 80-an mungkin akses informasi hanya didapat lewat berbagai media konvensional seperti televisi, koran, dan majalah yang tentu pada masa itu jumlahnya pun tak berapa dan hanya berisikan konten lokal saja.

Tapi karena keinginan mengetahui budaya-budaya yang ada di luar Bandung bahkan Indonesia, mencari informasi lain terutama tentang subkultur dari luar negeri jadi salah satu alasan mengapa Bandung adalah kota dengan perkembangan subkultur yang cukup luas dan besar.

Foto: Ilustrasi Unsplash/Luca Anasta 

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler