Ini Produksi Budaya Massa dalam Ranah Subkultur Bandung

Bandung - Perkembangan subkultur di kota Bandung tak lepas dari proses penyebaran informasi dari berbagai sumber yang beragam. Mulai dari pengetahuan yang didapat hanya lewat bertukar informasi di tongkrongan, hingga pengetahuan yang didapat dari sumber yang lebih kredibel dan menarik.

Majalah dan berbagai produk media massa lainnya yang membawa budaya dari luar Indonesia dalam bentuk tulisan, gambar, maupun suara membuat anak muda di kota Bandung pada masanya semakin tertarik untuk mempelajari tentang subkultur.

TemanBaik pasti sudah kenal dengan berbagai jenis produk subkultur yang hadir di Indonesia, khususnya Bandung ketika mendengar namanya. Sebut saja beberapa nama seperti majalah Ripple Magazines yang menjadi salah satu majalah yang membahas tentang subkultur. Untuk dunia fesyen kita juga mengenal merek dagang UNKL347 yang sekarang sudah dikenal di seluruh Indonesia yang berawal dari sebuah ruangan kecil yang berisikan pakaian-pakaian saja.

Nah, Beritabaik.id berkesempatan untuk hadir dalam sebuah seminar daring yang diadakan oleh Kelompok Keahlian ACTIES, Fakultas Industri Kreatif Universitas Telkom. Seminar daring ini berjudul 'Dinamika Subkultur di Kota Bandung dan Berbagai Lintasan Pengaruhnya,' Selasa (28/7/2020).

Narasumber yang mengisi seminar ini adalah Idhar Resmadi, seorang pengamat musik dan budaya. Idhar menjelaskan bahwa pada periode 1980-1990-an, sumber informasi tentang subkultur sudah mulai beragam. Hal ini dikarenakan sumber informasi lewat media konvensional mulai menyebar di kalangan anak muda.

Ini juga yang membuat anak muda Bandung mulai membuat karyanya sendiri demi menyebarluaskan subkultur, hal yang menurut mereka pada masa itu merepresentasikan budaya yang tidak dipahami oleh masyarakat umum yang lebih mengenal budaya arus utama.



Baca Ini Juga Yuk: Mengenal Subkultur di Kota Bandung dan Pengaruhnya

Produk-produk yang lahir di periode 1980-1990-an ini menurut Idhar yang menandakan bahwa subkultur semakin merebak di Indonesia khususnya kota Bandung. Apa saja? Yuk, simak penjelasannya.

Pertama, adalah musik independen. Kehadiran band-band seperti Pas Band, Puppen, Pure Saturday, Koil dan lainnya. Musik ini yang membuat subkultur semakin merebak, karena musik yang populer ketika masa hanya di dominasi satu genre saja, didobrak dengan kehadiran band-band tersebut, dengan sajian genre yang lebih beragam.

Kedua, majalah subkultur seperti Swirl Zines, 13 Zines, Ripple Magazines, Trolley Magazines, dan lainnya. Majalah pada masa itu menjadi salah satu sumber yang sangat besar pengaruhnya karena media konvensional yang hadir di masyarakat belum beragam seperti sekarang. Internet juga belum sepopuler sekarang, sehingga majalah mengambil peran besar dalam penyebaran subkultur.

Ketiga, hadirnya distro di industri fesyen lokal seperti M-Clothing, UNKL347, Sch., No Label Stuff dan banyak lainnya. Seperti sudah dijelaskan, subkultur dapat mudah dikenali lewat visual yang diperlihatkan oleh anak-anak muda yang turut ambil bagian dalam penyebarannya. Hal ini tentu menjadi salah satu faktor penyebaran subkultur karena anak muda biasanya saling meniru apa yang menurut mereka keren dan beda dari budaya arus utama pada masanya.

Nah, dari ketiga faktor tersebut tentu sangat banyak yang bertahan hingga sekarang dan akhirnya subkultur telah menjadi budaya yang digandrungi anak muda. Kalau TemanBaik, mengikuti bentuk produk yang mana nih dari awal?

Foto: Ilustrasi Unsplash/Markus Spisske

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler