Pentingnya Tabir Surya Meski di Rumah Saja, Begini Penjelasannya

Jember - TemanBaik, selama pandemi dan #DiRumahAja salah satu kebiasaan yang mungkin paling diperhatikan adalah cara menjaga menjaga kesehatan kamu. Baik secara fisik maupun mental. Selain tetap berada di rumah dan rutin berolahraga, banyak protokol kesehatan serta pola hidup yang lebih sehat juga kita terapkan.

Nah, bicara soal kesehatan dan #DiRumahAja, seberapa peduli TemanBaik dalam menjaga kesehatan kulit selama pandemi ini? Sudahkah kamu senantiasa menyertakan pemakaian tabir surya alias sunscreen meski tak keluar rumah? Untuk itu, kali ini beritabaik.id berkesempatan untuk berbincang dengan dr. Kurnia Anynditia dari Klinik Naavagreen, Jember. Simak ulasannya yuk!

Sinar matahari atau sinar ultra violet (UV) sendiri memiliki 3 jenis radiasi berdasarkan panjang gelombangnya. Pertama adalah UV A (gelombang panjang), kedua UV B (gelombang pendek), dan yang terakhir adalah UV C (gelombang sangat pendek). Semakin panjang gelombangnya, radiasi dan sifat destruktif terhadap kulit pun semakin besar. Beruntungnya, lapisan ozon dapat mencegah sinar UV C yang bersifat paling merusak.

"Risiko yang timbul akibat paparan sinar UV B  lebih besar dibandingkan UV A. Namun, risiko ini diperoleh saat kulit kontak langsung (ketika berada di luar ruangan). Efeknya juga lebih cepat terasa. Kalau terpapar sinar UV B terlalu lama, kulit akan terasa terbakar, merah, perih, dan lebih gelap. Nah, yang banyak orang enggak tahu, UV A juga bisa menembus kaca. Saat di rumah, sinar matahari juga tetap masuk melalui kaca, bukan? Bahkan ketika mendung sekalipun, UV A tetap ada dengan risiko merusak kulit yang tidak berkurang. Oleh karena itu, penggunaan tabir surya meski di rumah saja tetap penting dilakukan," papar dr. Kurnia Anynditia.

Baca Ini Juga Yuk:

Lantas, apa saja sebenarnya dampak dari paparan sinar UV yang kontak dengan kulit tanpa penggunaan tabir surya? "Risiko paling umumnya antara lain kulit jadi gelap, kusam, muncul noda kehitaman, serta penuaan dini. Munculnya garis-garis halus pada wajah bahkan ketika masih di usia 20-an sangat mungkin karena kolagen dan jaringan kulit rusak. Selain itu, risiko munculnya kutil pada kulit juga bisa terjadi. Lebih jauh, ancaman kanker kulit mengintai jika terjadi paparan UV pada kulit dalam jangka waktu lama dan frekuensinya tinggi (sering)." 

dr. Kurnia juga menekankan bahwa bagaimanapun, tabir surya tidak akan 100 persen melindungi kulit dari bahaya paparan UV. Karena itu, sebisa mungkin juga perlu dilakukan upaya-upaya lain seperti meminimalisasi kontak langsung dari sinar matahari. Selain itu, pengaplikasian tabir surya juga perlu dilakukan setiap dua jam sekali.

"Kita mengenal ada SPF 15, 30, 50, dan sebagainya. Perbedaan itu juga akan berdampak pada seberapa lama tabir surya tersebut dapat memberi perlindungan pada kulit dari paparan UV, tetapi relatif tidak terlalu jauh (perbedaan waktunya).  Idealnya, perlindungan maksimal tersebut akan bekerja jika tabir surya diaplikasikan dengan ketebalan 2 mm. Namun, siapa yang mau menggunakan setebal itu? Inilah mengapa kita perlu mengaplikasikannya beberapa kali walaupun saat berada di dalam rumah," pungkasnya. 

Kendati #DiRumahAja, ternyata penggunaan tabir surya tetap perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang ya, TemanBaik. Jadi, kamu sudah mengaplikasikannya belum, hari ini?

Foto: Ilustrasi Unsplash/Batch by WHS
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler