Peduli Lingkungan dengan Manajemen Sampah yang Bertanggung Jawab

Bandung - TemanBaik, tentu menyedihkan jika kita melihat dampak kerusakan lingkungan yang ada di sekeliling kita. Tak perlu jauh-jauh, lingkungan dan alam yang sering kita singgahi sehari-hari, atau berada di sekitar tempat kita tinggal rasanya sudah tak asri seperti dahulu.

Hal ini dikarenakan, salah satunya membeludaknya sampah yang bertebaran di mana-mana. Berbagai jenis sampah mulai dari yang organik hingga anorganik telah mencemari lingkungan kita. Salah satu yang menjadi perhatian adalah sampah plastik.

Sampah plastik menjadi permasalahan yang cukup rumit di Indonesia. Data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun. Sebanyak 3,2 juta ton di antaranya merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut.

Dari sumber yang sama, kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar lembar per tahun atau sebanyak 85 ribu ton kantong plastik. Bahkan secara internasional, menurut studi yang dirilis oleh McKinsey & Co. dan Ocean Conservancy, Indonesia adalah negara penghasil sampah plastik terbanyak nomor dua terbesar setelah Cina. Hal ini menunjukkan bahwa sampah plastik memang jadi masalah besar di Indonesia.

Belakangan, dalam merespon hal tersebut, muncul gaya hidup yang populer untuk melawan pergerakan sampah-sampah ini. Kita mengenalnya dengan gaya hidup less waste atau yang lebih populer dengan nama zero waste.

Gaya hidup less waste ini mengedepankan gaya hidup cara atau pola konsumsi yang seminimal mungkin menghasilkan banyak sampah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan konsep dasar 3R yaitu reduce, reuse, dan juga recycle, gaya hidup less waste dipercaya dapat membantu menyelamatkan lingkungan dari pencemaran.

Baca Ini Juga Yuk: Kiat Sederhana Hindarkan Anak dari Kecanduan Gawai

Hal ini juga dijelaskan oleh Muchtazar S.T., yang merupakan Environment & Sustainability Executive PT Unilever Indonesia, dalam webinar yang berujudul "Responsible Waste Management" Minggu (30/8) Lalu. Dalam siaran langsung instagram yang diadakan oleh mahasiswa Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati - Prog. Rekayasa, Institut Teknologi Bandung, Ia menjelaskan pada bidang studi teknik lingkungan, ada istilah hierarki pengelolaan sampah. Dari berbagai literatur, secara garis besar pada umumnya menggunakan konsep dasar 3R tadi.

"Untuk less waste sendiri, itu masuk ke dalam bagian dua awal, yaitu reduce dan reuse. Kenapa disebut less waste? Karena dari upaya reduce dan juga reuse itu kita mencegah sebetulnya agar sampah ini tidak muncul. Jadi, sebelum keluar dari rumah atau dari kampus, kita upayakan material yang sisa itu kita gunakan kembali atau dikurangi," tutur Muchtazar.

Less waste
memang hadir sangat meminimalkan dalam kehidupan kita. Terutama sampah plastik, yang menjadi salah satu "pekerjaan terbesar" Indonesia. Meniadakan sampah atau meminimalisir bukanlah pekerjaan yang mudah. Tetapi dengan gaya hidup less waste adalah salah satu cara kita untuk mencoba menyelamatkan lingkungan kita dari pencemaran yang sudah terjadi di mana-mana.

"Pepatahnya kan ada 'sedia payung sebelum hujan' terus juga 'mencegah lebih baik dari mengobati,' jadi pada intinya sih sebelum kita memunculkan atau pun juga menghasilkan sampah, ya kita ada baiknya bisa mengurangi dulu dari sumbernya, yang mana ini adalah hierarki pertama dari pengelolaan sampah tadi," jelas Muchtazar.

Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Setelah memperbaiki pola konsumsi dan mencoba gaya hidup less waste salah satu hal mendasar yang perlu kita lakukan juga adalah dengan memilah produk-produk yang akan kita konsumsi, menjadi produk dengan kemasan yang ramah lingkungan.

Jika tidak setiap hari, minimal dalam setiap bulannya kita akan membeli produk atau perlengkapan yang biasa kita gunakan untuk keperluan sehari-hari. Beberapa di antaranya ada makanan, minuman, alat mandi, alat kecantikan, dan masih banyak lagi.

Biasanya kita membeli barang-barang dan produk tersebut di swalayan atau toko terdekat dari rumah. Tetapi, apakah kita sadar sepenuhnya, jika kemasan dari produk dan barang yang kita beli tersebut masih menggunakan plastik?

Barang-barang tersebut juga kita kenal dengan istilah 'consumer packaged goods', atau barang konsumsi yang bergerak cepat terjual dengan harga jual yang relatif murah.

Penggunaan plastik, tak dapat dipungkiri telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, baik di Indonesia maupun seluruh dunia. Plastik hingga saat ini masih bahan utama untuk pengemasan dari produk atau barang yang telah disebutkan di atas.

Oleh karena itu, alangkah baiknya kita memilih produk yang kemasannya lebih ramah lingkungan. Jika sulit menemukan produk dengan kemasan ramah lingkungan, salah satu cara mengakalinya adalah dengan mencari produk yang sama namun dengan skala yang lebih besar dari biasanya.

Dengan barang dan produk yang skalanya lebih besar, kemasan tersebut dapat digunakan dengan jangka waktu yang lebih lama dan berulang. Selain itu, kemasan yang lebih besar dapat mengurangi dan meminimalisir sampah-sampah plastik kecil. Untuk plastik yang lebih besar ini kita juga dapat kembali menerapkan salah satu hierarki dasar less waste, terutama pada poin recycle dan juga menerapkan "konsumsi yang bertanggung jawab"

Muchtazar pun kembali menjelaskan, jika penggunaan wadah atau kemasan untuk produk-produk memang perlu jadi perhatian. Selain jadi perhatian masyarakat yang mengkonsumsi dan memilih, hal ini juga harus menjadi perhatian para produsen dari barang dan produk tersebut.

"Dari segi konsumsi yang bertanggung jawab, bisa menggunakan wadah yang dapat digunakan kembali dan beberapa kali. Kemudian, ketika suka beli produk makanan atau kebutuhan pribadi, kita bisa membeli produk yang berukuran lebih besar. Karena dia ketika dibandingkan siklus produknya, bisa lebih hemat sih," ucap Muchtazar.

Lalu, setelah ada klaim Indonesia sebagai produsen sampah plastik terbesar kedua di dunia, kenapa masih ada kemasan-kemasan plastik dan yang berukuran kecil? Nyatanya TemanBaik, pola konsumsi berkaitan dengan tingkat ekonomi dan daya beli masyarakat. Tidak semua dapat kesempatan secara finansial untuk membeli kemasan-kemasan yang ramah lingkungan.

Namun, menurut Muchtazar hal ini juga sedang ia pelajari dan kembangkan kembali agar produk-produk ramah lingkungan ini nantinya dapat dirasakan dan dicapai oleh berbagai lapisan masyarakat. Selain mensejahterakan rakyat, lingkungan juga dapat ikut sejahtera dan lebih bersih untuk para generasi penerus nantinya.

''Jangan sampai, misalkan, produk-produk apapun itu dia enggak bisa menjangkau kepada masyarakat-masyarakat yang sebetulnya membutuhkan juga. Sehingga nanti manfaatnya enggak optimal. Mungkin nanti ini bisa diminimalisir dampaknya dengan misalkan kita menggunakan produk-produk yang bisa didaur ulang, atau bahasanya bijak plastik,'' jelas Muchtazar

TemanBaik, menjaga lingkungan dari hal kecil sudah jadi tugas kita sebagai manusia. Sebagai konsumen yang selalu mengkonsumsi suatu produk atau barang sehari-hari, usahakan agar meminimalisir sampah terutama sampah plastik, ya. Ayo mulai dari diri sendiri yuk, TemanBaik!

Foto: Ilustrasi Unplash/Fitnish Media

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler