Begini Pentingnya Jadi Orang Tua yang Bahagia

Bandung - Membangun sebuah keluarga mungkin menjadi impian sebagian orang. Berawal dari mengikat janji di jenjang pernikahan, memiliki dan membesarkan anak, lalu tentu saja berharap bisa membangun keluarga yang bahagia hingga akhir hayat.

Namun membangun keluarga yang bahagia tidak semudah yang dibayangkan. Salah satunya dalam hal membesarkan anak. Awalnya yang terbayang adalah sesosok bayi lucu dan menggemaskan. Rupanya seiring pertumbuhannya, ia mulai menunjukan berbagai macam emosi bahkan mengalami masa tantrum. 

Bicara menjadi orang tua, bicara juga soal belajar. Menjadi satu hal yang baru untuk setiap orang ketika dikaruniai anak, terutama untuk perempuan yang menjadi seorang ibu. Tak jarang ibu menjadi sosok yang sangat melelahkan lantaran terlalu sibuk berpikir yang terbaik untuk anaknya namun mengenyampingkan kebaikan dirinya. 

Lantas, bagaimana ya cara pola asuh anak yang baik tetapi kita bisa tetap nyaman dan bahagia sebagai orang tua?

Fitria Rubiana, seorang istri dan ibu dari lima orang anak, sekaligus pendiri Moria Kelana sebuah gerakan untuk berproses mengenal diri sebagai makhluk pilihan tuhan untuk berkelana dan melanjutkan kisah hidup yang sejati, membuat Ruang Sandika yang menghadirkan tiga sesi kelas.

Beritabaik.id berkesempatan untuk mengikuti sesi satu dari Ruang Sandika dengan judul 'Anak Kita Mau Digimanain Ya?' pada Jumat (9/10/2020). Dalam sesi tersebut, Fitria Rubiana atau yang akrab disapa Bubup menjelaskan tentang salah satu pola asuh orang tua pada anak yang disebutnya teori STIFIn. STIFIn merupakan singkatan dari lima jenis karakter dan kecerdasan seseorang, yaitu Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Insting


                Foto: Tangkapan Layar Webinar 'Anak Kita Mau Digimanain Ya?'/ Sesi 1 Ruang Senandika bersama Moria Kelana 

Di awal sesi Bubup menjelaskan bahwa perbedaan teori STIFIn dengan pola parenting pada umumnya adalah umumnya pola asuh orang tua diarahkan dan disarankan untuk lebih fokus pada cara membuat anak sukses dan berhasil. Tapi lupa memikirkan posisi orang tua, terutama ibu.

"Kita dipaksa fokus pada keberhasilan anak tanpa memikirkan diri kita. Kayaknya parenting itu semua dicurahkan pada anak karena kita orang tua. Pada teori STIFIn, kita tetap punya tujuan membuat anak berhasil tapi sebagai orang tua pun merasa nyaman. Kalau kita gak nyaman, gak bisa menghasilkan energi positif untuk membuat anak berhasil," ujar Bubup. 

Baca Ini Juga Yuk: Yuk! Lebih Bijak & Berempati Saat Gunakan Jasa Ojol

Sebelum lebih jauh membahas teori STIFIn, ada empat jenis orang tua yang dipaparkan oleh Bubup yang berkaitan dengan responsivitas atau cinta yang diberikan orang tua pada anak dan tuntutan. 

Jenis pertama adalah orang tua yang acuh, yaitu orang tua dengan tuntutan dan responsivitas yang sama rendah untuk anaknya. Kedua adalah orang tua permisif, yaitu orang tua yang terlalu banyak memberikan responsivitas tetapi sangat minim tuntutan. Ketiga adalah orang tua otoriter, ia memberikan tuntutan yang besar pada anak tetapi sedikit memberikan cinta. Terakhir adalah jenis orang tua autotatif. Jenis ini adalah yang paling baik karena orang tua sudah bisa menyeimbangkan antara tuntutan dan responsivitas untuk sang anak. 

Teori STIFIn memperkenalkan beberapa hal yang harus disiapkan dan diperhatikan orang tua dalam membesarkan buah hati mereka. Tentu dengan cara yang membuat nyaman dari sisi orang tua maupun anak. 

Hal pertama adalah menentukan parent leader dalam keluarga. Jika kamu mengartikan parent leader adalah harus  ayah sebagai kepala keluarga, hal itu kurang tepat, TemanBaik. Dalam teori STIFIn, parent leader adalah sosok yang memiliki dedikasi terbesar untuk keluarganya. Jadi, energi yang dimilikinya akan lebih besar dihabiskan untuk keluarga. Hal ini tentu saja bisa dilakukan oleh ayah ataupun ibu, tergantung kesepakatan setiap keluarga. 

Menurut Bubup, siapapun yang terpilih menjadi parent leader dalam keluarganya, ia perlu paham bagaimana cara meningkatkan energi yang dimilikinya. Karena jika tidak, maka ia akan merasa kelelahan dan bingung. 

"Meningkatkan energi harus diawali dari hubungan suami dan istri. Lalu bisa dengan mempelajari sirkulasi energi yang berbicara soal mendukung atau menaklukan," terang Bubup. 

Masing-masing karakter dan kecerdasan seseorang, yaitu Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Insting mempunyai elemen yang berisikan energi dasar, dan energi terbesarnya. Misalnya orang dengan kecerdasan sensing memiliki energi dasar tanah dan warna merah, sedangkan thinking memiliki energi dasar besi dan warna hitam.  


                     Foto: Tangkapan Layar Webinar 'Anak Kita Mau Digimanain Ya?'/ Sesi 1 Ruang Senandika bersama Moria Kelana

Sirkulasi energi perlu dipelajari untuk menciptakan atmosfer yang baik dalam rumah. Diakui oleh Bubup, atmosfer yang baik bisa meningkatkan energi orang tua terutama yang berperan sebagai parent leader meningkat. Jadi kondisikan rumahmu dengan sesuatu yang sesuai dan membuatmu nyaman ya, TemanBaik!

Setelah mengetahui bagaimana sirkulasi energi pada anggota keluarga dan sudah menciptakan atmosfer yang nyaman di dalam rumah, selanjutnya kita bisa sesuaikan dengan pola hubungan kemistri anak dan orang tua. 

Hal yang tak kalah penting adalah pola parenting kita dalam membesarkan anak bisa disesuaikan dengan ciri khas anak sesuai kecerdasan yang dimilikinya. Pada sesi satu Ruang Senandika kemarin (9/10/2020), Bubup tidak menjelaskan hal terbaik pada anak dari setiap kecerdasannya, tetapi ia menjabarkan soal sisi dari setiap karakter dan bagaimana cara menghadapinya. 

Pada anak thinking ia cenderung memiliki sifat dingin, tidak sensitif, dan tidak perhatian. Sebagai orang tua, komunikasi bisa dilakukan secara logis dan lebih menekankan pada yang anak pikirkan bukan rasakan. 

Selanjutnya pada anak sensing, ia seringkali hiperaktif, dan tidak tertarik mengenal hal baru. Komunikasi yang bisa dilakukan orang tua adalah dengan cara bermain atau melakukan aksi. Jelaskan hal secara rinci pada anak, dan aplikasikan dengan cara yang praktis.

Lalu pada anak intuiting, anak cenderung bersifat tidak teratur, teoritis, dan kompleks. Cara komunikasi orang tua bisa dengan cara mengajak anak membayangkan sesuatu atau berkreasi, serta meningkatkan imajinasi anak. 

Kemudian pada anak insting, anak cenderung pemarah dan mengerjakan sesuatu setengah-setengah. Cara berkomunikasi orang tua adalah menjelaskan sesuatu dengan to the point atau menghindari bahasan yang rumit. 

Terakhir pada anak feeling, ia akan cenderung emosional dan subjektif. Orang tua dengan anak tipe ini bisa membuatnya merasakan cinta dan bersahabat. Berikan apresiasi di setiap hal yang ia lakukan. 

Teori STIFIn memberikan jalan untuk orang tua menghadapi dan membesarkan anak mereka sesuai dengan karakter dirinya dan juga sang anak. Diharapkan hal ini memudahkan dan membuat energi tidak terbuang sia-sia. 

"Semoga bisa lebih paham gimana cara parenting di dalam rumah, dan serahkan sepenuhnya hasilnya pada yang maha kuasa," tambah Bubup. 

Dalam akhir pemaparannya tentang teori STIFIn, Bubup mengingatkan para orang tua untuk terus menjaga energinya. Bahagiakan diri sendiri termasuk saat menjadi orang tua, setelah itu baru kita akan bisa membahagiakan orang lain termasuk anak-anak kita. 

Jadi, kenali dirimu terlebih dahulu baru keluarga dan lingkungan sekitar ya TemanBaik!

Foto: Ilustrasi Unsplash/John Mark Smith

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler