Ini Pentingnya Penanganan COVID-19 atau Silikosis pada Pekerja

Bandung - TemanBaik,  COVID-19 belakangan adalah penyakit yang tidak asing lagi bagi masyarakat di masa pandemi ini. COVID-19 merupakan penyebab utama pandemi yang telah mengakibatkan perubahan besar pada sendi kehidupan manusia sekarang ini.

Seperti kita tahu, COVID-19 adalah penyakit menular yang diakibatkan oleh jenis coronavirus dan menyebabkan infeksi saluran napas pada manusia mulai dari batuk, pilek, hingga yang lebih serius adalah mengalami pneumonia atau masalah pada paru-paru.

Selain COVID-19, kita juga mengenal ada beberapa penyakit lainnya yang dapat mengakibatkan permasalahan pada paru-paru. Salah satunya adalah, Silikosis. Silikosis sendiri merupakan penyakit yang di akibatkan oleh paparan debu silika. Biasanya terjadi pada pekerja yang dalam proses pekerjaannya terdapat pajanan debu silika.

COVID-19 dan Silikosis memiliki kesamaan yaitu sama sama mengganggu sistem pernapasan dengan tanda khasnya yaitu, sesak napas. Perbedaannya, pada COVID-19 gejalanya diawali dengan demam, umumnya disertai batuk, pilek, nyeri tenggorokan, hilangnya sensasi penciuman kemudian bisa memberat dengan sesak sampai pada kematian. Namun, tanda-tanda tersebut dan keparahan penyakit tidak selalu ada, kondisinya berbeda pada tiap individu, karena sangat tergantung dari respon imunitas tubuh.

Sedangkan untuk Silikosis yang merupakan penyakit kronis, gejalanya diawali batuk dan lama kelamaan menjadi sesak dengan risiko keparahan menjadi kanker dan cacat batu paru (silikosis). Kondisi dimana paru akan tertutupi oleh silika yang membentuk batu.

Baca Ini Juga Yuk: Tren Baru 'Nyampah' Saat Pandemi, Begini Cara Meminimalisirnya

Debu silika dapat menyebabkan silikosis bila terhirup oleh manusia yang terakumulasi dalam jangka waktu yang lama. Biasanya, lebih dari 5-10 tahun. Silika merupakan komponen utama dari batu dan pasir. Silikosis berbahaya dan sering terjadi di negara berkembang tak terkecuali di Indonesia yang pengawasan terhadap pajanan partikel masih terbatas dan jauh di batas aman di lingkungan kerja.

Angka prevalensi silikosis berdasarkan penelitian yang dilakukan pada pekerja usaha pemotongan batu di Purwakarta, sebesar 6,7% dan faktor sosiodemografi yang memiliki hubungan erat dengan silikosis adalah status gizi dan masa kerja ≥ 10 tahun. Dari hasil pengukuran debu respirabel di lingkungan kerja usaha pemotongan batu Purwakarta, didapatkan sebesar 0,5-4,8 mg/m3 lebih besar dari standar nilai ambang batas debu respirabel yaitu 3mg/m3.

Pajanan debu silika biasanya terdapat pada sektor industri seperti industri pertambangan pasir, batu kapur, pemotongan batu alam, semen, dan pekerjaan konstruksi jalan atau bangunan. Industri tersebut di Jawa Barat banyak terdapat  di kawasan Bandung Barat (Cipatat), Purwakarta (Plered dan Kiara Pedes), Bogor, Cirebon dan daerah lainnya.

Maka, sudah semestinya hal ini menjadi perhatian tidak hanya untuk pemilik perusahaan atau industri tapi juga pemerintah setempat untuk memahami efek dari proses produksi industri tersebut, terutama untuk produktivitas kerja dan risiko kesehatan bagi para pekerja.

Pengendalian risiko silikosis sama halnya dengan pengendalian infeksi COVID-19, perlu upaya yang sistematis khususnya di tempat kerja. Pengendalian secara hierarki dapat dilakukan dengan rekayasa engineering atau kontrol teknik disesuaikan dengan desain tempat kerja, kontrol administrasi dan terakhir dengan kontrol alat pelindung diri.  Pakar pengendalian ini dimiliki oleh ahli K3 perusahaan, hiegenis industri dan dokter spesialis Okupasi.

Industri dengan pajanan debu silika di era pandemi ini harus memperhatikan dengan serius upaya pengendalian infeksi COVID-19 dan silikosis. Karena, kedua penyakit ini bisa terjadi beriringan dan menjadi faktor saling memberatkan penyakitnya.

Terlebih, dengan isu perubahan Omnibus Law dimana status pekerja menjadi serba tidak pasti, sedangkan efek dari pekerjaannya yang jelas membawa dampak yang merugikan bahkan bisa menjadi disfungsi paru dan kematian akibat COVID-19 jika tidak dilakukan pengendalian pajanan infeksi dan debu silika tersebut. 

Foto: Ilustrasi Pexels/Cleyder Duque

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler