Serba-serbi Kaviar, Telur Ikan Lezat dengan Harga Selangit

Bandung - TemanBaik, pernah makan Kaviar? Di balik harganya yang fantastis, ternyata kaviar memiliki kandungan zat gizi makro dan mikro lengkap yang bermanfaat bagi tubuh loh!

Terkait hal ini, Dr. Wini Trilaksani selaku dosen IPB University dari Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) mengungkapkan kalau kaviar atau telur ikan pada umumnya dapat menjadi alternatif sumber pangan sebab kandungan gizinya yang cukup lengkap.

Lebih lanjut, Wini menyebut kalau kaviar memiliki kandungan protein yang termasuk tinggi, mencapai 25 hingga 35 persen. Sementara proporsi lemaknya sekitar 12 bahkan sampai 15 persen, yang mana komposisinya didominasi oleh asam lemak tidak jenuh ganda (polyunsaturated fatty acid).

"Kandungan makro nutriennya cukup lengkap, kecuali karbohidrat. Kandungan proteinnya juga termasuk cukup tinggi," ujar Wini.

Lebih lengkap mengenai kandungan vitaminnya, di dalam kaviar terdapat vitamin A, D, E, K serta vitamin B6 dan B12. Ditambah mineral mulai zink, besi, yodium, kalsium, magnesium, fosfor, selenium. Enggak hanya itu, yang menarik dari kaviar ini antara lain rasanya yang beragam. Rasa yang mirip mentega dan agak 'nutty' membuat banyak orang ketagihan.

Wini juga menyebut kalau kaviar yang baik bisa dilihat dari aromanya. Jika sudah amis, bisa dipastikan sudah terjadi kemunduran mutu, atau kualitas Kaviar-nya sudah menurun. Berkenaan dengan hal tersebut, Wini menyebut perlu ada pendekatan khusus dalam pengolahan kaviar ini dari panen hingga tersedia di meja hidangan.

Baca Ini Juga Yuk: Hindari Pola Makan Ini Agar Terhindar dari Anemia Defisiensi Besi

Jika ikan pada umumnya saat panen dapat ditunggu atau disimpan terlebih dulu, misalnya dalam pendingin makanan, maka kaviar tidak bisa diperlakukan demikian. Dalam proses panen, telur-telur ikan harus langsung ditangani, baik untuk langsung dikonsumsi atau dikemas secara kaleng.

"Telur ini kan spesial, begitu dipanen harus langsung ditangani," ujarnya.

Dalam penanganan kaviar tersebut juga ada pendekatan tertentu, misalnya seperti di-curing. Artinya, telur paling banyak diberi air garam (brine) pada konsentrasi tertentu. Adapun kandungan garam untuk caviar yang termahal biasanya maksimal 3%. Setelah itu, saat proses pengalengannya juga perlu ditambahkan beberapa zat termasuk asam sebagai pengawet.

"Selain itu masih ada pula cara lain yakni dengan pasteurisasi. Sekarang ini dried dan frozen dengan treatment tertentu sudah mulai dikembangkan," tambahnya.

Terkait proses pengonsumsiannya, Wini menyarankan kaviar untuk segera langsung dikonsumsi agar tidak menurunkan mutunya. Sekali dibuka, kaviar harus dihabiskan. Kemunduran mutunya sangat cepat serta tidak bisa disimpan kembali sebagaimana makanan kaleng lain.

Oh ya, sebagai catatan juga loh, sebagaimana telur-telur pada umumnya kandungan kolesterol pada kaviar cenderung tinggi. Bisa sampai 500-600 mg per seratus gram. Oleh karena itu, Wini menyarankan agar porsi penyajiannya harus dibatasi. Sekarang ini sudah ada inovasi imitasi kaviar untuk vegetarian yang dibuat dari rumput laut.

Harga Tinggi dan Peluang Budidaya
Lalu, kenapa sih harga kaviar itu mahal? Terkait hal ini, Wini menjelaskan hal ini terjadi karena di alam bebas, ikan sturgeon termasuk ikan langka. Bahkan saat ini sudah termasuk spesies genting atau terancam (endangered) dan termasuk yang dilindungi sebab eksploitasinya cukup besar-besaran dari sejak dahulu.

"Secara alami, reproduksi ikan ini cukup sulit. Meski mampu menghasilkan telur dengan jumlah sangat besar, bahkan berat telurnya dapat mencapai sepertiga dari berat badannya, namun tidak semua bisa menetas. Hanya satu dua yang akan menetas menjadi anak sturgeon. Sementara ikan yang sudah ditangkap, tidak bisa dikembalikan lagi ke habitatnya," terangnya.

Meski demikian, dengan kemajuan teknologi yang ada, Wini menyebut bahwa saat ini beberapa negara sudah mulai mengembangkan budidaya ikan langka ini. Salah satu negara yang telah berhasil membudidayakan adalah Tiongkok. Negeri tirai bambu itu bahkan menjadi penyuplai 30 persen kaviar di dunia.

Namun di sisi lain, kegiatan budidaya membutuhkan kesabaran karena membutuhkan teknologi khusus dan baru dapat menghasilkan telur pada umur 7-10 tahun. Dan itupun hanya 10-20 persen dari populasi yang berhasil bertelur menghasilkan sekitar 15 -18 persen telur dari berat tubuhnya dengan monitoring perkembangan telur yang ketat menggunakan high frequency ultrasound. Jadi, ikan diusahakan dalam kondisi prima tidak stres karena bila ikan stres maka akan me-reabsorb semua telurnya, sementara untuk mengembalikan kondisinya untuk bisa bertelur kembali membutuhkan waktu paling cepat satu tahun.

Terkait kegiatan budidaya kaviar di Indonesia, Wini menjelaskan kalau kita sebenarnya bisa menciptakan dari sumber-sumber lain. Sebab ada potensi telur ikan lain yang bisa dikembangkan, meski penamaannya bukan sebagai kaviar.

"Kita punya potensi ikan terbang, di air tawar juga ada ikan nilem atau melem (Osteochilus vittatus) yang secara ukuran telurnya cukup besar-besar dan lezat, tapi dagingnya kurang disukai oleh masyarakat. Dari segi rasa juga tentu berbeda dengan ikan laut. Ke depan perlu ada rekayasa genetika untuk menghasilkan lebih banyak ikan betina dengan cukup banyak dari segi kuantitas telur yang dihasilkan dan kandungan gizi telur itu sendiri,” jelasnya.

Sebagai penutup, ia menyebut kalau dengan mendorong peran dari para pembudidaya, menurutnya bukan hal mustahil ke depan telur ikan dapat menjadi sumber gizi masyarakat dan alternatif sumber pangan Indonesia. Wah ide keren nih!

TemanBaik, adakah di antata kamu yang pernah menyantap kelezatan Caviar? Coba, jelaskan di sini senikmat apa makanan ini menurut kamu?

Foto: Ilustrasi Pexels/Valeria Boltneva

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler