Pentingnya Pemahaman Orang Tua soal Kanker pada Anak

Bandung - Para orang tua sebaiknya waspada dan punya pengetahuan seputar kanker pada anak. Sebab, ada banyak kasus anak yang mengidap kanker justru baru diketahui setelah memasuki stadium lanjut. Alhasil, pengobatannya jauh lebih sulit, bahkan ada yang tak bisa diobati.

Ketua PP Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman Bhakti Pulungan mengatakan orang tua punya peran besar untuk mendeteksi kanker pada anak, termasuk pengobatannya. Faktanya, masih banyak yang tak memahami itu.

"Awareness ini kalau bisa ditingkatkan. Kita sering dapat kasus kanker anak ini datang pada saaat yang (stadium) lanjut," kata Aman dalam 'Seminar Media IDAI: Bersama Kita Bisa Tingkatkan Kesintasan Kanker Anak', Kamis (18/2/2021).

Menurutnya, deteksi dini perlu dilakukan terhadap anak agar diketahui mengidap kanker atau tidak. Semakin dini kanker pada anak diketahui, maka akan semakin mudah penanganannya.

"Dengan pengobatan yang baik, masa depan mereka ini sangat luas. Semuanya (berbagai metode pengobatan) bisa kita lakukan, tentu tergantung jenis dan stadiumnya, tapi banyak sekali sekarang yang hasilnya sudah baik sekali," tuturnya.

Baca Ini Juga Yuk: Mengenal 3 Kanker yang Paling Banyak Dialami Perempuan Indonesia 

Dengan mudahnya mencari informasi, para orang tua pun diharapkan mau belajar seputar kanker. Bahkan, hanya dengan memanfaatkan telepon pintar, siapapun bisa dengan mudah mencari informasi memanfaatkan koneksi internet.

Untuk memastikan apakah sang anak mengidap kanker atau tidak, jika ada gejala, sebaiknya langsung periksakan ke dokter. Sehingga, dokter akan menentukan langkah tepat apa yang perlu dilakukan untuk mengobatinya.

Kanker yang Rentan Dialami Anak
Secara umum, kanker bisa menyerang siapapun. Namun, khusus bagi anak-anak, ada beberapa kanker yang terbilang cukup rentan menjangkiti mereka.

Di urutan pertama terbanyak adalah leukemia. Lalu berikutnya ada tumor otak hingga limfoma neuroblastoma. "Tapi paling banyak didapatkan saat ini adalah leukemia," ucap Ketua Kelompok Kerja Hematologi Onkologi IDAI Bambang Sudarmanto.

Berdasarkan data WHO atau Badan Kesehatan Dunia, sebanyak 400 ribu anak terdiagnosis mengidap kanker setiap tahunnya. Di negara maju, 80 persen anak pengidap kanker bisa tertangani dengan baik. Sedangkan di negara lainnya hanya sekitar 20 persen saja yang tertangani dengan baik, termasuk di Indonesia.

Banyaknya anak yang tidak tertangani hingga berujung meninggal tak lain karena peran orang tua yang kurang maksimal. Sebab, mereka tidak menyadari anaknya mengidap kanker dan baru diketahui setelah stadium lanjut. Sehingga, penanganan yang dilakukan tidak maksimal.

"Kenapa kesintasan tadi sangat rendah, ada penyebabnya, salah satunya keterlambatan diagnosis," ungkap Sudarmanto.

Selain itu, penyebab lainnya adalah hambatan mendapat akses pengobatan, tingginya angka putus obat, tingginya angka kambuh, hingga efek samping atau toksisitas obat.

Anak Belum Peka
Kepala Subdit Penyakit Kanker dan Kelainan Darah Direktorat P2TPM Dirjen PPL Kemenkes Aldrin Neilwan Panca Putra menegaskan pentingnya peran orang tua dalam mendeteksi dan menangani kanker pada anak. Sebab, anak-anak belum bisa mengekspresikan apa yang dirasakan dan menjelaskannya dengan baik.

"Peran orang tua penting karena anak tidak bisa mengekspresikan apa-apa yang dia rasakan. Maka, perhatian dan peran orang tua di sini sangat penting," jelas Aldrin.

Pertama, orang tua harus tahu gejala kanker apa saja yang harus diwaspadai. Berikutnya, orang tua harus tahu penanganan yang tepat seperti apa untuk diberikan pada sang anak.

"Kalau sudah sadar ada satu kelainan, kita bawa ke orang yang tepat, orang pintar, dalam hal ini orang pintar dalam bidangnya. Bawanya ke situ, jangan dibawa ke yang pintar lain. Sehingga, penemuan dini bisa segera ditegakkan diagnosis dan penanganan yang diperlukan. Sehingga, kualitas hidupnya jadi lebih baik," tutur Aldrin.

Sudah tahu kan pentingnya punya pengetahuan seputar kanker? Yuk, lebih waspada mendeteksi potensi kanker pada anak. Jangan sampai menyesal karena terlambat.

Foto: Ilustrasi Unsplash/Angiola Harry

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler