Pentingnya Keterlibatan Masyarakat Kampus untuk Lingkungan Aman

Jakarta - TemanBaik, tentu sebagai pelajar maupun mahasiswa kita ingin merasa aman dan nyaman saat belajar. Namun ternyata hingga saat ini kasus pelecehan dan kekerasan seksual masih kerap terjadi di lingkungan kampus loh.

Seringkali kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang terjadi di kampus seperti bongkahan gunung es di lautan. Terlihat kecil di permukaan, padahal banyak kasus yang terjadi hanya saja tak dilaporkan.

Memberantas kekerasan seksual di lingkungan kampus tentu menjadi tugas seluruh masyarakat kampus. Seperti yang dibahas pada campus online talkshow series keempat dari The Body Shop Indonesia, Magdalene.co, dan Yayasan Pulih "Gerak Bersama Civitas Academica: Lawan Kekerasan Seksual".

Beberapa kampus besar di Indonesia, seperti UI, Unpad, hingga Undip rupanya tak lepas dari kasus kekerasan seksual yang menimpa para civitas academicanya terutama mahasiswa.

Tahun 2020 lalu, girl up Unpad bersama BEM universitas dan fakultas membuat survei mengenai kekerasan seksual di lingkungan kampus. Ternyata dari 616 responden, 223 orang mengaku menjadi penyintas kekerasan seksual. 

"Ini sangat banyak, tapi mirisnya masih banyak yang bilang kalau di Unpad gak ada kasus kekerasan seksual. Bahkan 415 responden mengaku merasa terancam dan tidak terlindungi dari ancaman kekerasan seksual di kampus," ujar Putri I. Shafarina, Presiden Girl Up Unpad. 


                                                                                     Foto: dok. The Body Shop Indonesia

Baca Ini Juga Yuk: Yuk, Jaga Kesehatan Punggung dan Pinggang Saat Bekerja di Rumah!

Hal yang sama juga terjadi di Universitas Indonesia (UI), munculnya cerita yang cukup viral dari mahasiswa korban kekerasan seksual di media sosial membuktikan jika korban belum mendapat rasa aman dan keadilan dari dalam kampus. 

"Untuk menanggapi ini, kami dari BEM membentuk tim khusus penanganan kekerasan seksual. Dalam waktu 6 sampai 8 bulan kita dapat puluhan laporan. Kami juga melakukan tindakan pencegahan berupa edukasi kepada mahasiswa dan masyarakat," ujar Zeni Tri, perwakilan BEM Fisip UI 2021. 

Data survei yang lebih melegakan datang dari Undip. Dari rentang satu hingga tiga, 50 responden menilai keamanan kampus Undip dari kekerasan seksual ada pada angka tiga. Namun, masih ada 6,3 persen yang menyatakan dirinya pernah menjadi korban kekerasan seksual. 

Yanuarisca, Ketua BEM Fakultas Psikologi Undip menyatakan walaupun dari hasil survei tersebut Undip dapat dikatakan cukup aman dari kasus kekerasan seksual, namun 1 kasus saja yang masih terjadi dapat dianggap bahwa kampusnya belum benar-benar aman. 

"64,7 persen belum merasakan bahwa Undip punya pengaruh besar untuk mahasiswa soal ini. Bahkan aturan saja belum ada. Aturan harus ada agar tercipta rasa aman dan nyaman dalam lingkup pendidikan tinggi," tambah Yanuarisca.

Ketiga mahasiswa perwakilan kampus ini pun sepakat jika hingga saat ini belum ada peraturan jelas dengan regulasi yang tidak menyulitkan korban kekerasan seksual di lingkungan kampus untuk melapor. 

Lantas, mengapa kasus kekerasan seksual masih terjadi di lingkungan kampus? Menurut Nirmala Ika, seorang psikolog dari Yayasan Pulih, hal ini karena belum ada aturan komprehensif, mulai dari edukasi hingga kesadaran yang harus dibangun. 

Bagi Nirmala, masyarakat harus menyadari jika bentuk pelecehan dan kekerasan seksual beragam, mulai dari berbentuk verbal hingga fisik. Semua bentuk itu memiliki dampak yang sama berbahayanya untuk psikologis seseorang.

"Edukasi kepada semua kalangan yang berpotensi jadi korban dan pelaku. Karena banyak pelaku yang tidak tahu kalau itu bagian dari kekerasan seksual. Selain itu edukasi juga dampaknya, baik untuk korban maupun pelaku," tegas Nirmala.

Tak cukup edukasi, kampus pun perlu memiliki aturan yang jelas dan tegas terkait kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan kampus. Saat aturan ini disusun, tentu perlu ada perwakilan dari semua pihak. Termasuk dosen dan mahasiswa. 

Selain itu, mahasiswa pun perlu untuk menambah pengetahuan diri soal berbagai macam modus yang menjurus pada pelecehan dan kekerasan seksual sedini mungkin. 

Menurut Kalis Mardiasih, pemerhati isu gender, penulis, sekaligus pendamping korban kekerasan seksual, modus awal pelaku biasanya tak langsung sentuhan fisik. Namun bisa terjadi secara verbal lewat sosial media hingga pesan whatsapp.

"Misal modusnya dari WA kita dipuji terus menerus, lalu ada pemaksaan. Bisa juga jadi "bapak-bapakan", ada dosen bilang 'kamu udah saya anggap anak sendiri. Gapapa datang aja ke ruangan atau rumah saya untuk konsultasi'. Itu hati-hati," ujar Kalis.

Itulah sebabnya kita perlu untuk memegang teguh prinsip, memiliki otoritas tubuh, dan menghargai diri sendiri. Menurut Kalis, ini bisa membuat kita lebih mudah mengidentifikasi jika merasa tidak nyaman atas perlakukan seseorang. 

Nah TemanBaik, jadi sebagai mahasiswa yang bisa kita lakukan adalah terus mengedukasi soal pelecehan seksual dan terus mengawal kampus untuk memiliki aturan yang jelas dan tegas ya!

Yuk jangan lagi tutup mata dan pura-pura tidak tahu soal isu kekerasan seksual, apalagi di lingkungan kampus. Karena hingga saat ini Indonesia masih menjadi negara yang darurat kasus kekerasan seksual.

Oiya, TemanBaik juga masih bisa ikut serta menandatangani petisi sahkan RUU PKS dari The Body Shop Indonesia di www.tbsfightforsisterhood.co.id ya. Agar RUU PKS segera diputus menjadi undang-undang yang sah demi tercipta lingkungan yang lebih aman dari pelecehan dan kekerasan seksual. 

Foto:Ilustrasi Unsplash/ Element5 Digital

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler