Diagnosis Kesehatan Mental Sendiri, Boleh Enggak Ya?

Bandung - TemanBaik, belakangan banyak orang yang memiliki perhatian lebih soal isu kesehatan mental. Sedikit banyak stigma soal seseorang yang mengalami gangguan mental mulai ditepis dengan kesadaran akan pentingnya memiliki mental yang sehat.

Apalagi saat ini teknologi dan kehadiran internet sudah memudahkan kita mengakses informasi untuk menambah pengetahuan. TemanBaik pasti dapat melihatnya sendiri dimana sekarang banyak akun media sosial yang aktif mengampanyekan soal kesehatan mental.

Namun disisi lain, kemudahan untuk mengakses beragam informasi termasuk soal kesehatan mental melalui internet turut menimbulkan masalah baru. Apakah TemanBaik pernah mendengar istilah self diagnosis atau mendiagnosis diri sendiri soal kesehatan mental tanpa memeriksa diri lebih lanjut pada psikolog atau psikiater?

Melakukan diagnosis pada diri sendiri soal gangguan mental yang diprediksikan kita alami dan hanya berdasar pada pengetahuan diri itu berbahaya loh TemanBaik! Nah untuk mengedukasi soal bahayanya self diagnosis, Youth for Nation membuat webinar 'Mental Health 101: The Dangers of Self Diagnosing Mental Health'.

"Hari-hari ini hal itu (self diagnosis) seperti menjadi tren. Misalnya ada yang tiba-tiba bilang 'Aku depresi, aku gak kuat', tapi ternyata itu hanya berdasarkan perasaannya, tidak dengan bantuan psikolog atau psikiater," ujar Mikaela Berliyana, seorang psikolog sekaligus pembicara webinar Mental Health 101.


               Foto: Tangkapan layar webinar Youth for Nation, 'Mental Health 101: The Dangers of Self Diagnosing Mental Health'

Baca Ini Juga Yuk: Yuk! Perhatikan Ini Biar Kualitas Istirahat Lansia Terjaga

Adanya self diagnosis bisa saja terjadi karena stigma soal kesehatan mental. Seseorang yang merasa kesehatan mentalnya terganggu akhirnya memilih menerka-nerka apa yang terjadi pada dirinya karena takut dianggap lemah mental jika harus meminta bantuan psikolog.

Padahal jika kita terbiasa melakukan self diagnosis dampaknya akan berbahaya loh, TemanBaik! Pertama, besar kemungkinan kita salah mendiagnosis diri. Apalagi jika hanya sekadar mencari informasi dari internet.

"Kalau salah mendiagnosis akan menimbulkan kekhawatiran yang tidak perlu. Misal berdasarkan informasi di internet kita cocok dengan ciri-ciri orang depresi, lalu kita berpikir terlalu jauh soal bagaimana anggapan orang sekitar," ujar Ela.

Tidak hanya salah mendiagnosis diri, jika dibiarkan begitu saja bisa jadi TemanBaik justru mendapat penanganan atau pengobatan yang salah.

Ada beberapa hal yang bisa TemanBaik lakukan agar tidak terjebak dalam kebiasaan self diagnosis, yaitu memperkaya diri dengan pengetahuan soal kesehatan mental dan meningkatkan rasa cinta diri.

TemanBaik penting untuk mengetahui bagaimana kriteria psikologis yang sehat seperti menerima diri secara penuh tanpa obsesi berlebihan, memahami dan percaya diri, bisa menerima realita, fleksibel, memiliki interaksi sosial yang baik, menghargai kejujuran, hingga memiliki tujuan hidup.

"Memiliki tujuan hidup itu penting, apa yang kita inginkan 5 tahun ke depan, atau apa cita-cita kita. Tapi harus tetap fleksibel dengan membuat banyak rencana," jelas Ela.

Jika bicara soal mencintai diri, ada tiga dasar soal mencintai diri yang dapat TemanBaik lakukan. Pertama self awareness yaitu bagaimana kita memahami diri dan menyadari perasaan serta emosi yang kita rasakan.

Kedua, self worth atau harga diri. TemanBaik mungkin pernah merasa tidak berharga dan tidak pantas untuk mendapat kebahagiaan. Bahkan tak jarang kita justru iri dengan orang lain karena merasa orang lain lebih berharga.

"Kalau kalian melihat orang lain berharga, posisikan juga diri kalian sebagai orang yang dilihat berharga oleh orang lain. Orang lain juga akan merasa kehilangan diri kita, sama seperti kita takut kehilangan orang berharga di sekitar kita," ujar Deska, seorang influencer dan promotor kesehatan mental dalam webinar Mental Health 101.

Ketiga, self care. Bagi Deska ini adalah langkah yang paling mudah untuk mulai mencintai diri. Self care bisa dimulai saat kita merasa jenuh lalu beristirahat dengan melakukan hal-hal yang kita sukai.

Sebenarnya mencari informasi soal kesehatan mental melalui internet dan media sosial bukan sebuah kesalahan kok, TemanBaik. Tapi jika kamu sudah merasa ada yang salah dengan kesehatan mentalmu, jangan diam saja dan segera cari bantuan profesional ya!

Foto: Ilustrasi Unsplash/Matthew Ball


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler