Setop KBG! Katakan Tidak, Jauhi, dan Berani Laporkan

Jakarta - TemanBaik, hingga saat ini kasus kekerasan seksual masih banyak terjadi di Indonesia. Maka sebagai masyarakat Indonesia kitalah yang harus berani bergerak untuk melawannya. Tidak hanya itu, melindungi dan mendukung para penyintas juga perlu dilakukan.

Namun berani melawan saja tidak cukup, pengetahuan dan pemahaman soal isu kekerasan seksual juga diperlukan. Nah karena itu, Magdalene Learning Club didukung oleh The Body Shop Indonesia membuat 'Workshop Gender Training, Storytelling & Data Gathering' sebagai upaya memberi wawasan dan dasar pemahaman gender.



Foto: Tangkapan layar Workshop Gender Training, Storytelling, & Data Gathering

Bicara soal kekerasan seksual, tahukah TemanBaik jika kekerasan seksual merupakan salah satu bentuk kekerasan berbasis gender (KBG). Selain itu, kekerasan berbasis gender memiliki bentuk lainnya seperti pemerkosaan, eksploitasi seksual, pelecehan daring, pemaksaan perkawinan, perkawinan anak, dan masih banyak lagi.

"Kekerasan berbasis gender dapat dialami oleh perempuan maupun laki-laki dalam ranah kehidupan pribadi, tempat kerja, masyarakat, hingga ruang publik," ujar Rani Hastari, Gender Equality & Social Inclusion Specialist Yayasan Plan International Indonesia.

Kekerasan berbasis gender ini bisa jadi merupakan dampak dari norma gender yang juga dibentuk oleh norma sosial loh, TemanBaik. Apa sih maksud norma sosial dan norma gender ini? Yuk, kita cari tahu!

Baca Ini Juga Yuk: 'Me Time' Bisa Jadi Cara Ampuh Atasi Stres saat Pandemi Loh!

Rani memaparkan, norma sosial adalah harapan atau aturan informal dalam suatu kelompok tentang bagaimana cara berperilaku. Norma sosial ini dipengaruhi apa yang diyakini oleh kelompok tersebut. Penghargaan sosial akan diberi untuk mereka yang sesuai norma, dan sanksi sosial pun berlaku untuk yang tidak sesuai.

Meski begitu norma sosial yang terbentuk dalam kelompok masyarakat tidak selalu dapat diterima, walau tidak diterima tidak sama dengan buruk. Norma sosial menjadi buruk jika mengganggu dan merugikan orang lain atau melakukan kekerasan.

"Norma sosial ini berasal dari kelompok rujukan dari masyarakat tersebut. Semakin homogen maka kemungkinan menerima perubahan semakin kecil. Semakin heterogen, norma sosial yang terbentuk akan semakin beragam, luas, dan terbuka," terang Rani.



Foto: Tangkapan layar Workshop Gender Training, Storytelling, & Data Gathering

Kemudian terbentuknya norma gender merupakan bagian dari norma sosial, TemanBaik. Norma gender merupakan perilaku yang diharapkan dan menentukan cara menjadi bagian gender tertentu dalam masyarakat.

"Norma gender seringkali berhubungan dengan usia atau penanda identitas lainnya seperti etnis, suku, dan sebagainya. Tapi semua harus dilihat berdasarkan lingkungannya. Gender itu tidak hanya soal perempuan dan laki-laki," ujar Rani.

Diakui oleh Rani, norma gender biasanya mencerminkan hierarki kekuasaan dan hak istimewa yang umumnya lebih menguntungkan laki-laki daripada perempuan. Terbentuk dari tindakan masyarakat yang berlanjut dan dipertahankan.

Tapi norma gender ini bisa berubah kok, TemanBaik! Namun tetap perlu memperhatikan kelompok masyarakat apa yang akan diubah, adakah yang menentang norma tersebut, hingga apa yang diperlukan untuk merubahnya. Hal ini bertujuan agar kampanye dan advokasi soal perubahan memberikan hasil yang baik.

Sayangnya jika bercermin pada kasus kekerasan berbasis gender yang masih terjadi, norma gender terasa masih kuat jika dilihat dari adanya stigma terhadap korban kekerasan. Bahkan tidak jarang, korbanlah yang disalahkan.

"Banyak korban yang justru ditanya 'Kenapa tidak melapor? Kenapa saat kejadian diam saja?'. Padahal saat kejadian korban mengalami freeze, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Akhirnya korban takut melapor dan menyalahkan diri sendiri," ujar Rani.

Belum cukup dengan stigma yang ada, korban kekerasan berbasis gender yang sudah memiliki keberanian untuk melaporkan apa yang dialaminya pun masih harus menghadapi berbagai kesulitan. Mulai dari bukti yang dianggap belum kuat, hingga ketiadaan saksi.

Melalui kampanye No! Go! Tell! yang diusung oleh The Body Shop Indonesia, Magdalene.co, dan beberapa lembaga lainnya, kita bisa kok mengambil langkah untuk memberantas kekerasan berbasis gender, TemanBaik.

Pertama, katakan tidak dengan menolak budaya pemerkosaan, meningkatkan pemahaman tentang kekerasan berbasis gender dan seksual, cegah dan tolak segala bentuk kekerasan, hingga turut mengumpulkan bukti saat ada kasus kekerasan.

Kedua, jauhi segala kemungkinan yang dapat menimbulkan kasus kekerasan berbasis gender dan seksual dengan memastikan diri berada di tempat aman dan memiliki dukungan dan perlindungan dari sekitar.

Ketiga, berani bicara dan melaporkan dengan meminta pertolongan dengan orang yang dapat dipercaya, para profesional, hingga penegak hukum. Namun untuk hal ini, kondisi dan kesiapan korban perlu diperhatikan ya!

"Cukup menjadi manusia untuk melawan kasus kekerasan berbasis gender. Mungkin kita memiliki pandangan berbeda, tapi kita bisa yakin kalau tidak ada seorangpun yang mau dilecehkan," tegas Rani.

Mari saling melindungi, menjaga, dan ambil tindakan dalam memberantas segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan berbasis gender dan seksual ya, TemanBaik!

Foto: Ilustrasi Pexels/Shamia Casiano

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler