Pentingnya Berat Badan Ideal Bagi Penyintas Autoimun

Bandung - TemanBaik, manusia memiliki sistem kekebalan tubuh untuk menjaga tubuh dari serangan bakteri dan virus. Ini tentunya berguna agar kita terhindar dari penyakit.

Namun, pada orang dengan autoimun atau ODAI, sistem kekebalan tubuh tidak hanya melawan virus atau bakteri asing yang masuk, tapi justru melawan tubuh itu sendiri dan menyerang sel sehat.

Umumnya, ODAI mudah mengalami perubahan berat badan karena kondisi inflamasi yang terjadi. Padahal, menjaga berat badan tetap ideal juga penting loh untuk penyintas autoimun.

Sepenting apa menjaga berat badan ideal untuk penyintas autoimun dan bagaimana caranya? Dokter spesialis gizi dr. Arti Indira membagi pengetahuannya nih dalam kegiatan #BincangBaik 'Pentingnya Menjaga Berat Badan Ideal Pada ODAI' melalui siaran langsung Instagram @autoimun.id.

Berat badan pada ODAI biasanya cepat turun atau naik secara tiba-tiba dalam kondisi tertentu. Bahayanya, kondisi seperti ini rentan membuat penyintas mengalami stres dan flare up atau kondisi akut.

"Kondisi medis bisa bertambah karena perubahan berat badan itu. Kalau terlalu kurus bisa terjadi gangguan pencernaan. Tapi, kalau obesitas, bisa muncul masalah seperti gula darah, kolesterol, dan sebagainya. Ini akan menyulitkan proses pengobatan autoimunnya," kata Arti.

Baca Ini Juga Yuk: Ini Tiga Vitamin Penting Buat Imun Tubuh yang Perlu Kita Konsumsi

Menurutnya, memang sulit menjaga berat badan ideal pada orang dengan autoimun. Sebab, umumnya penyintas autoimun akan lebih fokus memperhatikan penyakitnya. Sebaliknya, asupan makanan justru kerap tidak diperhatikan.

Sebenarnya, hingga kini belum ada rekomendasi khusus terkait diet bagi orang dengan autoimun. Namun, Arti menyarankan agar penyintas autoimun menerapkan pola diet gizi seimbang.

"Gunakan prinsip makanan bervariasi. Misal, sumber karbo (karbohidrat) itu enggak hanya nasi, tapi bisa roti gandung, nasi merah, dan kentang. Protein tidak hanya ayam, tapi bisa divariasikan. Sayur dan buah juga," ujar Arti.

Namun, pilihan variasi makanan ini harus disesuaikan dengan kondisi seseorang. Sebab, penyintas autoimun ada yang sensitif dengan jenis makanan tertentu. Sehingga, sangat perlu menyesuaikan diet dengan kebutuhan dan kondisi diri seseorang.

Lalu, perhatikan juga aktivitas harian dan kebiasaan olahraga penyintas autoimun. Meluangkan waktu untuk berolahraga dengan gerakan yang terstruktur dan terukur menjadi hal penting. Baiknya, target olahraga adalah 150 menit per minggu dengan kombinasi olahraga kardio dan latihan otot.

"Sesuaikan saja sama kondisi tubuhnya. Kalau lagi lemas, lagi terapi, atau asupan makannya sedang kurang, ya, jangan dipaksakan. Orang dengan autoimun yang berat badannya mudah berubah dapat menyebabkan massa otot turun. Jadi, jaga massa otot dengan sumber protein yang baik dan latih otot," jelas Arti.

Jika orang dengan autoimun sudah memiliki pola makan yang baik dan dibarengi aktivitas harian serta olahraga teratur, jangan lupa juga menjaga pola tidur dan kesehatan mental.

Kenaikan Berat Badan Akibat Konsumsi Obat
Kebanyakan orang dengan autoimun mengonsumsi obat dengan steroid yang menyebabkan kenaikan berat badan menjadi lebih mudah. Untuk menghadapi hal ini, Arti punya trik nih bagi TemanBaik, terutama penyintas autoimun.

Pertama, kurangi asupan natrium atau garam. Mengurangi bukan berarti tidak boleh mengkonsumsi garam sama sekali ya, TemanBaik! Bagaimanapun tubuh kita tetap memerlukan natrium, hanya saja gunakan garam dengan bijak.

"Saya mengarahkan untuk kurangi natrium dari cemilan. Tapi, waktu makan utama tetap gunakan garam secukupnya. Takaran satu sendok teh garam untuk orang tanpa penyakit jantung dan hipertensi," ujar Arti.

Baca Ini Juga Yuk: Kamu Punya Gejala Vitiligo? Hindari Hal Berikut Ini Ya!

Kedua, konsumsi kalsium yang rendah kalori. Efek samping dari obat dengan kandungan steroid tidak hanya meningkatkan nafsu makan, tetapi juga berisiko menghilangkan mineral dalam tulang yang dapat menyebabkan osteoporosis. Maka penting untuk mencukupi kebutuhan kalsium.

"Jadi cari makanan yang tinggi kalsium, tapi kalorinya rendah. Misal susu rendah lemak, kangkung, brokoli, chia seed. Selain itu bisa menggunakan suplemen," tutur Arti.

Ketiga, perbanyak kalium untuk mengurangi retensi cairan dalam tubuh. Banyak sekali loh kandungan kalium dari buah dan sayur yang bisa dikonsumsi, seperti jeruk, kiwi, bayam, tomat, jeruk bali, dan masih banyak lagi.

Keempat, perhatikan penggunaan lemak. Lemak tentu bermanfaat untuk tubuh, namun asupan lemak tetap perlu disesuaikan. Pilihlah lemak baik untuk dikonsumsi, seperti ikan laut dalam atau alpukat.

Prinsipnya, semua tips di atas berlaku bagi orang secara umum. Namun, bagi penyintas autoimun, hal ini sebaiknya diperhatikan dan dijalankan.

"Sebenarnya, prinsipnya sama saja orang dengan autoimun dan orang tidak autoimun. Sesuaikan kebutuhan kalori dan pilih makanan yang padat gizi dengan kalori sesuai untuk menjaga berat badan ideal," tutup Arti.


Ilustrasi: Jack Sparrow/Pexels


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler