Yuk! Berdonasi Lewat Unggahan Foto dan Video

Bandung - TemanBaik, ada kampanya sosial keren nih dari Campaign.com berjudul 'Aku Tahu dan Aku Jauhi Virusnya'. Cukup dengan mengunggah foto, akan menghasilkan donasi Rp25 ribu. Simak ulasannya, yuk!

Kampanye ini dilakukan untuk edukasi pemenuhan hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR). Tujuannya biar lebih banyak orang melek seputar HIV/AIDS dan kekerasan seksual.

Kamu bisa mengikuti kampanye ini melalui aplikasi Campaign #ForChange. Kamu tinggal mengunggah foto atau video berisi informasi seputar HIV/AIDS dan kekerasan seksual pada aplikasi tersebut.

Selanjutnya, setiap foto atau video yang diunggah bakal dikonversi senilai Rp25 ribu. Targetnya, kampanye ini bisa menghasilkan donasi hingga Rp8 juta. Hasilnya bakal dipakai untuk kegiatan edukasi HIV/AIDS dan kekerasan seksual.

Untuk mengguggah kesadaran publik pada isu tersebut, Campaign.com dan Sensitif VIVO pun menggelar diskusi daring 'Perjalanan Panjang Pemenuhan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR)' pada Rabu (1/12/2021). Diskusi ini menyoroti pemenuhan HKSR inklusif untuk menekan angka kasus HIV/AIDS di Indonesia.

Diskusi ini menghadirkan empat pembicara, antara lain Putri Widi, dr., MSc. (dokter, peneliti, aktivis kesetaraan gender dan kesehatan global), Devi Asmarani (Co-Founder dan Chief Editor Magdalene), Ni Putu Candra (pengacara HAM, pendiri Bumi Setara), serta Nissi Taruli Felicia (pendiri kelompok feminis tuli FeminisThemis).

Devi Asmarani memaparkan ketimpangan pelaksanaan pendidikan seks di Indonesia yang diamatinya bersama tim Magdalene. Ia melihat ada ketimpangan dalam pemenuhan HKSR di Indonesia yang masih terjadi. Ini akibat pembahasan edukasi seks di masyarakat yang kerap dianggap tabu.

Baca Ini Juga Yuk: Kisah Rohaniawan Indonesia yang Melayani Warga Kenya

"Materi yang fokus pada seksualitas, konsen, dan isu lain seperti relasi gender masih sangat minim karena di level penentu kebijakan belum ada keberanian untuk menerapkan kurikulum formal pendidikan seksualitas yang komprehensif, mengingat masih tingginya persepsi yang mengaitkan seksualitas dengan moralitas," ujar Devi.

Senada dengan Devi, Putri Widi dalam sesinya menyebut tidak meratanya pendidikan seks, ditambah minimnya akses terhadap fasilitas kesehatan juga menjadi salah satu faktor pendorong meningkatnya kasus HIV/AIDS Indonesia.

Sebagai langkah solusi, ia menyarankan hal pertama yang bisa dilakukan pemerintah dan kita semua adalah mengakui adanya kesenjangan tersebut. Setelah itu, kita bisa melakukan langkah nyata untuk pemenuhan HKSR bagi semua orang alias inklusif.

"Untuk menjadi benar-benar inklusif, harus melibatkan mereka yang termarjinalkan atau pun bisa dikatakan tidak diuntungkan oleh sistem, contohnya orang dengan disabilitas,” sambungnya.

Di sisi lain, Nissi Taruli Felicia menyebut dirinya bersama kelompok feminis tuli, FeminisThemis, menjadi saksi usaha penanganan dan pencegahan HIV/AIDS yang tidak inklusif dan aksesibel berdampak terhadap penyandang disabilitas di Indonesia. Data yang dihimpunnya membuktikan dari 85 orang yang telah disurvei, hanya sekitar 30% yang tahu tentang HIV/AIDS.

Dampak negatif kurangnya pengetahuan mengakibatkan teman-teman disabilitas menjadi korban kekerasan seksual. Menurut penelitian FeminisTheminis, tahun lalu, miskonsepsi teman-teman tuli tentang HIV/AIDS masih sangat tinggi.

"Masih banyak penyandang disabilitas tidak mendapatkan pendidikan mengenai seksualitas, sehingga pemahaman mereka untuk hal mendasar, seperti pengertian istilah-istilah seputar seksualitas pun tidak mereka dapatkan," jelas Nissi.

Baca Ini Juga Yuk: Komunitas Arjuna Pasundan Siap Jadi Keluarga Kedua bagi ODHIV

Berkaca dari paparan diskusi tersebut, para pemateri sepakat, harapan untuk mewujudkan Indonesia tanpa HIV/AIDS 2030 seperti yang dicanangkan pemerintah dapat terwujud. Syaratnya, semua pihak turut serta dalam memenuhi hak kesehatan seksual dan reproduksi bagi setiap individu.

Hal ini juga nantinya bakal senada dengan prinsip pembangunan berkelanjutan PBB, yaitu Leave No One Behind. Artinya tidak ada satu lapisan masyarakat pun yang ditinggalkan dalam proses pembangunan yang inklusif dan partisipatif ini.

Kampanye 'Aku Tahu dan Aku Jauhi Virusnya' pun jadi salah satu cara untuk mengatasi persoalan tersebut. Harapannya, semakin banyak orang yang memahami isu seputar HIV/AIDS dan kekerasan seksual.

TemanBaik, kamu bisa mendukung kampanye sosial ini dari genggam tanganmu loh! Caranya mudah. Cukup unduh aplikasi Campaign #ForChange di App Store atau Play Store, cari tantangan 'Aku Tau dan Aku Jauhi Virusnya', lalu selesaikan tantangannya. Kampanye ini baru saja diluncurkan dan masih akan berjalan hingga akhir Januari 2022.

Yuk, dukung Indonesia Tanpa HIV/AIDS 2030!


Foto: Tangkapan Layar/Campaign.com


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler